| Rabu, 05 Januari 2005 | PANTURA |
236 Rumah Warga Miskin DirenovasiRUMAH Sakromi, warga RT 6 RW 2, Desa Bantarkawung, Kecamatan Bantarkawung, Brebes, kini tampak lebih baik dari sebelumnya. Semula lantainya belum diplester alias masih tanah, dindingnya pun masih menggunakan papan. Kemudian beberapa usuk sudah lapuk sehingga gentengnya melorot. Akibatnya, pada musim hujan bocor, air pun menembus sampai ke kamar dan ruang lainnya. Kondisi rumah tua yang sudah reyot itu sebetulnya ingin segera diperbaiki, namun karena kondisi keuangan keluarga miskin itu tak memungkinkan, akhirnya dibiarkan begitu saja. Untung ketika pemerintah desa mengusulkan sejumlah rumah untuk direnovasi dengan menggunakan dana pemugaran perumahan pedesaan, rumah Sakromi masuk daftar bersama sembilan rumah warga lainnya. Singkat cerita, akhir September 2004 lalu, setelah tim dari kecamatan dan Kantor Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Kabupaten Brebes menyetujui rumah tersebut untuk direhab, tak lama kemudian bangunan tersebut disulap menjadi rumah layak huni. "Saya tak mengira di tengah kesulitan untuk memperbaiki rumah, ternyata pemerintah mau membantu," ujarnya. Kini rumah Sakromi jauh lebih baik dari sebelumnya. Lantainya sudah mulus diplester, dindingnya yang semula dari bambu kini sudah separo dinding batu bata, selebihnya dari papan. Gentingnya juga tak ada lagi yang bocor sehingga dia bisa tidur nyenyak ketika hujan. Program renovasi rumah miskin yang dicanangkan Pemkab itu dilaksanakan sebelum ada acara "Bedah Rumah" yang ditayangkan salah satu stasiun televisi swasta. Bedanya, kalau pada acara "Bedah Rumah" seluruh rumah direnovasi plus perabotan rumah tangga sehingga menjadi rumah baru, namun program dari Pemkab diluncurkan untuk merangsang partisipasi masyarakat sekitar. Sebab, dana yang disediakan untuk tiap rumah itu relatif kecil, yakni Rp 1,2 juta. Selebihnya ditopang masyarakat sekitar yang bersimpati. Pembangunannya ditangani Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Desa. Program ini sudah digulirkan Pemkab sejak 2003. Proses pengusulan melalui desa ke kecamatan, kemudian diteruskan ke Kantor PMD. "Rumah yang bakal menerima bantuan renovasi sebelumnya kita cek dulu. Yang paling jelek kita usulkan untuk diperbaiki," kata Kepala Kantor PMD Drs H Khambali, kemarin. 220 Rumah Berapa dana yang dikucurkan Pemkab? Tahun 2003 lalu digulirkan dana Rp 264 juta untuk merenovasi 220 rumah, sedangkan tahun 2004 meningkat lagi menjadi Rp 283 juta (236 rumah). Khambali menjelaskan, program itu diprioritaskan untuk pemugaran rumah keluarga miskin yang rumahnya di bawah standar hunian. Misalnya lantai dari tanah, dinding dari bambu, atau gentengnya bocor karena usuknya sudah lapuk. Para penerima bantuan program itu mengakui, mereka tak semata-mata menggantungkan dana dari bantauan pemerintah dan swadaya rumah. Contoh kecil saja, ketika para pekerja sedang bekerja merenovasi rumah, dia mau tak mau menyediakan makan dan minum. "Saya juga nggak enak kalau semuanya menggantungkan pada biaya dari pemerintah. Masa saya nggak mau mengeluarkan uang untuk makan dan minum," ujar mereka. Para penerima bantuan itu pada umumnya mengaku bangga pada partisipasi warga sekitar. Sebab, dana Rp 1,2 juta yang disediakan tak mungkin cukup untuk mengubah wajah rumah yang kusam. Karena itu, lewat BKM (dulu LKMD), mereka mengaku mendapat bantuan penuh, baik pencarian tenaga kerja maupun tambahan dana renovasi. (Wahidin Soedja-42n) |