logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 05 Januari 2005 WACANA
Line

Surat Pembaca

Profesi Dokter

Sejarah mencatat bangsa Indonesia dijajah selama 350 tahun. Kini meski sudah merdeka, dampak mental psikologisnya sebagai bangsa terjajah masih terasa. Sebagian masyarakat menderita mental inferior complex (rasa rendah diri/minder) baik terhadap bangsa lain, maupun pada profesi tertentu.

Contoh bila bertemu di mana saja dengan orang yang berprofesi sebagai dokter, mereka selalu menyapa dengan sebutan Pak/Bu dokter. Padahal bila berada di ruang publik (bukan di ruang praktik), seorang dokter semestinya cukup disebut namanya saja.

Nampaknya sepele, namun disadari atau tidak sebenarnya mencerminkan inferior complex, yaitu memosisikan profesi dokter berada di atas dan lebih terhormat dibanding profesi lain. Dikhawatirkan bisa memicu sebagian yang berprofesi dokter menjadi besar kepala dan arogan.

Silakan diadakan penelitian berapa banyak pasien yang pernah dikecewakan oleh sikap arogan dokter. Berapa banyak dokter yang mengenakan tarif (periksa dan obat) terlalu mahal. Berapa banyak kasus yang menunjukkan betapa lemahnya posisi pasien di depan dokter.

Adakah pasal/klausul tertulis yang terpasang di rumah sakit dan ruang praktik yang menyebutkan pasien berhak menuntut dokter ke pengadilan bila melakukan malapraktik atau merugikan pasien. Adakah pula pasal yang menyebutkan pasien berhak mendapatkan pelayanan ramah dan biaya murah.

Mestinya perlu reformasi kode etik IDI yang mencantumkan pasal/klausul yang lebih mendorong kesetaraan posisi antara dokter dan pasien (masyarakat umum). Misal masyarakat dianjurkan menyapa dokter cukup dengan namanya saja. Mari kita berusaha menjadi masyarakat yang cerdas, egaliter, berani, percaya diri dan jauh dari inferior complex.

Widodo
Jl PP Imam Rt 6/Rw 2 Pamijen Sokaraja Banyumas

***

Sarang Walet di Cilacap

Saya pernah melihat tayangan TV yang memberitahukan di Medan mewabah demam berdarah yang disebabkan berkembangnya nyamuk tersebut dipicu oleh menjamurnya bangunan sarang walet yang berdekatan dengan pemukiman penduduk.

Walet memang membutuhkan kubangan air di sekitar sarangnya yang sekaligus sebagai tempat bertelor larva nyamuk. Suara Merdeka 15 Desember 2004 memberitakan DPRD Purworejo akan meninjau kembali Perda Walet dengan kemungkinan ada pengaruh sarang burung walet terhadap kesehatan manusia.

Apakah di daerah Cilacap, Pemkab dan DPRD telah memikirkan dampak tersebut karena ada beberapa bangunan sarang walet di jalan protokol walau belum menjamur. Mungkin dengan memperketat persyaratan misalnya jauh dari pemukiman, membayar pajak penghasilan dan mendapat persetujuan tetangga. Tulisan ini hanya sekadar masukan bagi Pemkab demi kesehatan dan keindahan Kota Cilacap yang saya cintai.

Yuli Adi S.
Jl Baruna Timur X/335 Cilacap

***

Adik Saya Ditolong Bp Heri Budisantoso

Pada 15 Desember 2004 pukul 06.30 adik perempuan saya mengalami kecelakaan. Mobilnya tertabrak bus PO Ridho Ilahi di perempatan Pengapon Semarang. Di tengah situasi panik tersebut, ada seorang penumpang bus yang baik hati, yaitu Bp Heri Budisantoso karyawan Divisi Teknis Jamu Nyonya Meneer.

Beliau dengan tulus membantu adik saya menuntaskan permasalahannya, sampai harus meminta izin atasannya guna menjadi saksi. Saya kagum akan ketulusan dan kebaikan hatinya di tengah zaman yang keras seperti ini. PT Ny Meneer patut berbangga memiliki karyawan seperti beliau. Saya atas nama keluarga mengucapkan terima kasih.

Heru Wibowo Putro
Jl Tengger Selatan 28 Semarang

***

Surat Karyawan Notaris

Membaca surat pembaca berjudul ''Surat Terbuka buat Notaris dan PPAT'', pada edisi Minggu, 2 Januari 2005, saya perlu memberikan klarifikasi. Surat pembaca itu bukan pengalaman pribadi melainkan hal yang masih dialami beberapa rekan sesama karyawan kantaor notaris.

Saya telah bekerja 17 tahun, dan tentunya upah yang saya terima sudah di atas UMR. Dalam surat itu tertulis saya menerima gaji di bawah UMR, dan hal itu tidak benar. Jam kerja kantor pun hanya sampai pukul 16.00.

Maka dengan ini saya mencabut tulisan saya dan saya minta maaf kepada pihak yang dirugikan oleh tulisan saya, terutama pimpinan kantor.

Nizam Fanani
di Mertoyudan

***

Suara Masyarakat

Menarik, membaca ''Keberatan Pedagang Bunderan Sukorejo'' dengan akan kehadiran Indomaret yang ditulis Bp Sulistyo di Surat Pembaca beberapa waktu lalu. Tanpa harus memihak, ada beberapa poin pernyataan beliau yang perlu diluruskan.

Pertama, Sukorejo adalah kota ramai yang menjadi tujuan ribuan orang dari 4 kecamatan (Plantungan, Pageruyung, Patean dan Sukorejo) untuk aktivitas perdagangan sehari-hari. Kedua, topografi daerah Sukorejo unik, karena terletak di pegunungan, membuat masyarakatnya ''kesulitan'' berbelanja ke daerah lain.

Memaksa diri berbelanja ke luar daerah membuat cost menjadi mahal karena biaya transportasi. Karena itu pada dasarnya masyarakat ''tidak ada persoalan'' dengan dibukanya Indomaret tersebut. Minimal masyarakat tidak kerepotan memenuhi kebutuhan sehari-harinya dengan harga wajar.

Masyarakat Sukorejo percaya, adanya kompetisi yang terbuka pasti akan mendorong harga menjadi kompetitif. Juga para pemain yang bersaing berpikir keras untuk meningkatkan pelayanan.

Artinya kalau merasa ada ancaman, para pedagang lama ya harus melangkah untuk menghadapi.

Caranya?. Yang pertama berusaha menciptakan pelayanan bermutu. Kedua berusaha menyediakan pelayanan yang dapat memuaskan pelanggan, sehingga mereka loyal kepadanya.

Joko Suprayoga
Jl Raya Sapen 99 S ukorejo Kendal 51363

***

BPR-BKK Bumiayu

Saya nasabah BPR-BKK Bumiayu hampir puluhan tahun yang selama iini tidak bermasalah. Namun sejak pergantian pimpinan, segalanya berubah. Awalnya usai Lebaran, kantor instansi masih libur/tutup, saya didatangi karyawan BPR tersebut untuk menagih kredit yang memang tanggal setornya tanggung.

Tetapi saya kira masih dalam suasana libur lebaran. Dia marah, katanya atas perintah direktur, saya harus segera setor dan kalau tidak jaminan akan disita. Saya bilang, ini masih Lebaran dan libur apa tidak ada toleransi karena hanya lewat satu hari, apalagi kantor masih libur.

Akhirnya daripada ribut memalukan karena saat itu banyak tamu dan tetangga, utang saya bayar. Utang saya tidak seberapa namun rasanya seperti maling yang diburu polisi. Saya pun mendengar BPR ini bila menagih utang membawa oknum petugas. Oh, rasanya seperti zaman Belanda saja.

Apakah cara seperti itu sudah diketahui oleh Badan Pengawas BKK Kabupaten Brebes dan Badan Pembina yang juga Bupati Brebes. Atau memang pimpinannya arogan, biar mendapat pujian karena dia masih Pjs. Kepada masyarakat, berhati-hatilah bila mau menabung atau mengambil kredit di BPR ini.

Much Badjuri
Bumiayu, Brebes


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA