| Rabu, 05 Januari 2005 | WACANA |
tajuk rencanaDengan Kerja Keras dan Percaya Diri, Bisa!-- Tidaklah berlebihan melukiskan kemenangan 4-1 tim sepak bola Indonesia atas Malaysia di semifinal Piala Tiger, Senin malam lalu, ibarat persembahan untuk saudara-saudara kita yang sedang didera bencana. Ketika Ponaryo Astaman dan kawan-kawan bertarung gagah berani di Stadion Bukit Jalil Kuala Lumpur, rakyat Nanggroe Aceh Darussalam dan sebagian Sumatera Utara berjuang menghadapi akibat-akibat terjangan tsunami. Tim sepak bola kita berjuang di tengah suasana kesedihan bangsa, dan apakah karena itu motivasi untuk mendedikasikan kemenangan terasa sedemikian menggelora? Suasana itu terpancar dari reaksi publik yang menyaksikan tayangan langsung televisi. Membanggakan, mengharukan, sekaligus menumbuhkan optimisme akan sebuah karya anak bangsa. -- Tim asuhan pelatih asal Inggris Peter Withe itu datang ke kandang lawan dalam kondisi kritis. Jelas dibutuhkan kerja luar biasa untuk membalas kekalahan 1-2 di Stadion Gelora Bung Karno Jakarta. Tekanan untuk membalikkan keadaan, kondisi bangsa yang sedang berduka, dan gambaran Malaysia yang secara teknis ataupun psikologis bakal diuntungkan oleh posisinya sebagai tuan rumah, menjadi indikator yang menegaskan: berat bagi Indonesia untuk melangkah ke babak final. Namun apa yang kita saksikan benar-benar menggetarkan. Di luar faktor taktik, strategi, dan kejelian pelatih, kita menggarisbawahi semangat, motivasi, dan kemampuan Boas Salossa cs untuk keluar dari berbagai tekanan. Gabungan dari faktor-faktor itulah yang mengantarkan kemenangan penting tersebut. -- Telah lama kita tidak menyaksikan penampilan tim nasional yang penuh impresivitas dan determinasi. Bahkan, apresiasi publik pun memperlihatkan tanda-tanda kebangkitan di tengah tayangan sepak bola Eropa yang sangat menghegemoni media massa. Jumlah penonton di Stadion Gelora Bung Karno tempo hari merupakan bukti adanya relevansi antara prestasi tim nasional dan apresiasi masyarakat. Hasil-hasil memuaskan pada babak penyisihan grup Piala Tiger di Vietnam mendapat respons bagus publik. Mereka ingin menyaksikan tim nasionalnya mempersembahkan kemenangan di kandang sendiri. Sayang, up-trend itu diwarnai sikap suporter yang tidak menguntungkan karena melampiaskan kekecewaan dengan melemparkan botol-botol minuman ke lapangan. -- Konsep pendekatan Peter Withe tampaknya mulai dapat dirasakan. Sejak awal kedatangannya ke Jakarta, mantan pemain Aston Villa Inggris itu mengemukakan tesis, kelemahan rata-rata pesepakbola Asia Tenggara adalah inferioritas sehingga mereka tidak mampu ''mengeluarkan'' seluruh kemampuan yang dimiliki. Secara teknis tidak ada masalah. Artinya, mampu bersaing dengan para pemain level atas. Hanya, mereka terkendala oleh rendahnya konfidensi. Thailand bisa dibangkitkan oleh Withe dan kini sentuhannya terhadap Ponaryo Astaman dan kawan-kawan dapat kita nikmati bersama hingga memasuki tahap akhir turnamen. Apakah ini bakal mampu menginspirasi otoritas sepak bola nasional kita secara struktural, tergantung pada sejauh mana mereka memaknainya. -- Dapat dipahami, masyarakat yang dahaga prestasi berharap lebih dari sekadar kemenangan di semifinal. Lawan yang akan dihadapi di partai puncak adalah Singapura, juara Piala Tiger 1998. Jadi, perjuangan memang masih panjang. Akan tetapi, baiklah kita menempatkan momen memukul balik Malaysia sebagai support mental luar biasa bagi sebuah bangsa yang sedang sakit, yang membutuhkan terapi-terapi kesembuhan dan kebangkitan. Bukan hanya di bidang olahraga, khususnya sepak bola kita membutuhkan terapi kejut untuk menyulut konfidensi, bahkan untuk kehidupan secara makro. Mengapa anak-anak PSSI memperlihatkan impresivitas dan determinasi? Karena ada spirit, motivasi, dan kepercayaan diri. Aspek-aspek inilah yang selama ini seperti terus dicari. -- Kalau hari-hari ini fokus perhatian pemerintah dan seluruh masyarakat Indonesia terkonsentrasi ke Aceh, penampilan tim Merah Putih setidak-tidaknya dapat dijadikan inspirasi. Motivasi mereka sedemikian tinggi untuk memberikan persembahan terbaik bagi bangsanya yang sedang berduka. Seolah-olah ingin memberi dorongan semangat, kita pasti bakal bangkit dari keluluhlantakan akibat bencana. Semua telah memulai kerja keras dalam upaya-upaya penanganan kedaruratan dan pemulihan. Tentu dengan ketulusan, kerja sama, saling mendukung, serta menyinergikan semua potensi. Di tengah pekerjaan itu, disadari pasti muncul tekanan-tekanan, hambatan, dan kesulitan. Namun dengan spirit, motivasi, optimisme, dan kerja keras, diyakini semua bisa dilalui. |