| Rabu, 05 Januari 2005 | WACANA |
tajuk rencanaBetapa Indah ketika Dunia Bergandeng Tangan-- Hampir sepekan setelah tsunami menerjang wilayah-wilayah pantai Lautan Hindia sejumlah negara Asia, bantuan dari segala penjuru dunia berdatangan. Pemerintahan-pemerintahan dan banyak organisasi independen mengulurkan tangan. Bantuan diberikan bukan hanya dalam bentuk uang dan barang melainkan juga tenaga. Kini tenaga-tenaga bantuan sukarelawan dari dalam maupun luar negeri sedang berjuang keras -- terutama di Nanggroe Aceh Darussalam -- melakukan salah satu tugas kemanusiaan paling besar dalam sejarah. Puluhan ribu korban tewas yang mayat-mayatnya masih berserakan di mana-mana, perlu segera diambili dan dikuburkan. Puing-puing bangunan dan material lain yang menggunung mesti cepat disingkirkan. Korban yang selamat perlu penanganan rehabilitasi. -- Melihat kiprah sukarelawan yang terjun langsung ke lapangan dan reaksi komunitas internasional untuk memberikan bantuan, meskipun senilai hanya beberapa rupiah seperti sejumlah bocah yang memecah celengannya di Inggris, sangatlah membanggakan sekaligus mengharukan. Perbedaan pandangan dan friksi yang muncul dari kebijakan politik antarnegara seakan-akan pupus. Panggilan nurani yang paling dalam telah menyisihkan segala perbedaan. Tidak peduli betapa bumpy (tidak mulus) hubungan Indonesia dan Australia atau Indonesia-AS belakangan ini, kedua negara Barat yang merupakan sekutu lengket itu adalah yang pertama-tama datang mengulurkan tangan. Tidak bisa dimungkiri, uang dan sarana mereka yang lebih dari cukup telah memberikan peran penting. -- Kapal induk USS Abraham Lincoln yang merupakan bagian dari Armada Pasifik AS segera datang ke perairan pantai Aceh. Pada saat RI pada awal-awal pascabencana tampak kewalahan karena tidak punya cukup helikopter, USS Lincoln yang dilengkapi puluhan helikopter datang membantu. Tentu tidak boleh dilupakan pula peran penting Australia, Singapura, Malaysia, Thailand, dan sejumlah negara lain yang menyediakan sarana tranportasi udara. Meulaboh dan sekitarnya mungkin takkan mendapat pertolongan segera tanpa sarana angkutan yang mobil itu. Seperti terlihat dari tayangan televisi, betapa mubazir bantuan bahan makanan yang dijatuhkan begitu saja lewat udara dengan pesawat-pesawat fixed-wing. Entah sampai atau tidak ke tangan yang membutuhkan. -- Reaksi spontan negara-negara atau LSM-LSM terhadap suatu bencana besar di dunia bukan baru kali ini diperlihatkan. Pada saat banjir dan topan menyerang Filipina belum lama ini, komunitas internasional bahu-membahu membantu. Ketika jutaan rakyat Korut terancam kelaparan karena banjir dan kekeringan, bantuan juga berdatangan. Sayang, negara komunis itu sengaja menutup diri dan hanya mau menerima bantuan uang kontan dan bahan makanan yang harus dikirim ke salah satu pelabuhannya saja. Sudah berulang-ulang dunia menjadi sangat akur saat membantu bencana-bencana kemanusiaan di Afrika. Betapa sangat indah dunia, bila semua negara bisa terus bekerja sama seperti itu. Sayang, keharmonisan tampaknya hanya terwujud bila bencana datang. -- Dalam menghadapi bencana berskala besar (catastrophic), rasanya sulit bagi suatu negara untuk menghadapi sendiri. Apalagi yang tergolong miskin seperti Indonesia, Sri Lanka, dan India yang Minggu pekan lalu diterjang tsunami. Akan tetapi, tsunami tersebut semestinya menjadi pelajaran berharga bahwa kesiapan menghadapi bencana-bencana alam hebat seperti itu mulai sekarang sudah harus dipikirkan. Paling tidak, bagaimana caranya negara yang terlanda bisa menangani sendiri lebih dulu secara memadai dampak yang muncul sambil menunggu bantuan masyarakat internasional. Andaikata kita bisa lebih cepat memberikan bantuan kepada rakyat Aceh yang terkena bencana, korban jiwa mungkin dapat ditekan. Ketidaksiapan membuat kita semua tidak berdaya. -- Tidaklah berlebihan jika kita mencontoh sejumlah negara. Rusia punya departemen penanggulangan keadaan darurat. Amerika punya badan profesional, yakni Federal Emergency Management Agency (FEMA). Bila bencana datang, setiap personel FEMA bekerja amat terampil dan menjadi komandan berwenang penuh di lapangan. Polisi dan militer berada di bawah komando mereka. Penanganan bencana terpusat dan terkoordinasi di satu tangan. Mereka memiliki wewenang meminta polisi dan militer menyediakan sarana kerja yang diperlukan: helikopter, pesawat, truk, dan traktor. Rasanya bukanlah tuntutan yang berlebihan jika Indonesia semestinya juga punya lembaga seperti itu. Tidak ada orang yang berharap bencana tetapi ia bisa datang kapan saja dan di mana saja. |