logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 05 Januari 2005 MURIA
Line

Pentransfer Prana

MENYEMBUHKAN berbagai penyakit lewat pijat refleksi tentunya sering kita dengar dan banyak tukang pijat yang telah mempraktikkannya. Namun, mentransfer prana melalui pijat sehingga menyentuh ke bagian sumber penyakit tampaknya masih asing.

Demikian penuturan Hj Koestatik, sang ahli prana yang mengungkapkan metode penyembuhannya itu. Menurut pendapatnya, antara transfer prana dan pijat refleksi sebenarnya hampir tidak ada bedanya karena keduanya sama-sama berusaha menyentuh pusat penyakit.

Hanya, transfer prana sering tidak terasa sakit sedangkan pijat refleksi tak jarang membuat yang dipijat menggeliat kesakitan. Perbedaan lainnya, dalam keadaan darurat, transfer prana bisa dilakukan dengan tanpa kontak langsung. Bisa juga lewat media air putih dan bahkan lewat udara. ''Sulit menjelaskannya memang namun ternyata saat ini banyak orang yang bisa melakukannya,'' ujar ibu empat anak yang juga pengusaha mebel Jepara itu.

Disinggung tentang efek samping, dengan tegas dia menyatakan tidak ada. ''Cuma disentuh pelan-pelan dan diminumi air putih, mana mungkin ada efek negatifnya. Yang jelas, reaksi spontannya peredaran darah lebih lancar sehingga tubuh menjadi lebih segar,'' katanya.

Dia menuturkan, keahliannya itu bukan dari mana pun namun tampaknya merupakan keturunan. Dia mengaku mendapatkan ilmu itu dari kakeknya, seorang haji dari daerah Keling, Jepara yang kini sudah almarhum. ''Kakek dahulu senang menyembuhkan orang lewat tenaga prana yang mirip-mirip hipnotis. Akan tetapi, ternyata itu bukan hipnotis melainkan memanfaatkan energi batin yang tentunya harus diungkit lewat laku dan doa,'' ujar hajah yang telah menunaikan umrah lima kali itu.

Tinggal bersama suami dan keempat putra-putrinya di RT 2 RW 2, Watusingo, Bregat Krapyak, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara (telepon 0291-595519), Mbak Koes, demikian wanita ini akrab dipanggil, tak pernah sepi dari tamu.

Kebanyakan yang datang ingin berobat namun tak jarang berkonsultasi masalah lain, misal tentang kecantikan, jodoh, rumah tangga, karier dan sebagainya. ''Saya risi kalau disebut dukun, padahal niat saya adalah tetulung,'' tandasnya.

Dia menyebutkan, problem apa pun yang dihadapi manusia termasuk penyakit berat, sumber pengatasannya adalah pada Allah SWT. Hanya terkadang perlu ada perantara dan mungkin saja dirinya termasuk yang mendapat anugerah dari Allah itu untuk menjadi perantara sehingga tetulung dengan metode yang sangat sederhana pun tak jarang berhasil. (Djito Pati-15j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA