| Rabu, 05 Januari 2005 | MURIA |
Penyeberangan di Sungai Wulan Berbahaya
KUDUS - Mobilitas warga dari desa-desa di perbatasan Kabupaten Demak dan Kabupaten Kudus, tepatnya di Desa Setrokalangan, Kecamatan Kaliwungu, Kudus, selama ini hanya mengandalkan sebuah sampan untuk menyeberangi Sungai Wulan yang lebarnya mencapai sekitar 50 m. Arus penyeberangan tersebut akan terganggu, bahkan cenderung rawan dari segi keselamatan, saat debit sungai tersebut naik, khususnya pada musim hujan seperti sekarang. Sekdes desa tersebut Abdul Hamdi mengatakan, setidaknya setiap hari ada sekitar 1.000 orang yang melintasi sungai tersebut. Mereka adalah orang-orang dari Demak yang bekerja di sejumlah industri di sekitar Setrolangan, atau bisa juga warga lokal yang ingin berbelanja di Pasar Mondoroko, Desa Tugu, Kecamatan Karanganyar, Demak. ''Pada musim banjir, para pekerja tersebut biasanya memutar dari arah Karanganyar yang jaraknya bisa tiga atau empat kali lipat jauhnya,'' katanya. Ia menambahkan, selain harus ekstrahati-hati saat melintas di atas arus Sungai Wulan yang sedang naik, warga tersebut juga harus menunggu sampai perahu yang akan digunakan penuh atau terisi setengahnya. Hal itu, lajutnya, akan sangat memakan waktu. Sekali melintasi sungai, berdasarkan pantauan Suara Merdeka di lapangan, mereka dikenai tarif Rp 300 - Rp 500. ''Dahulu, memang ada jembatan darurat dari bambu yang dapat dilewati sepeda motor. Namun hal itu hanya terjadi saat sungai kering. Ketika debit Sungai Wulan naik, jembatan darurat pun tersapu begitu saja,'' ujarnya. Sekdes mengaku pernah mengajukan proposal terkait dengan permohonan pembangunan jembatan yang melintas di Sungai Wulan yang menghubungkan desanya dan desa-desa tentangga di Kabupaten Demak. Namun hingga kini hal itu tidak pernah ada tindak lanjutnya. Pihaknya juga menyatakan tidak terlalu muluk-muluk untuk memimpikan dapat memperoleh jembatan permanen yang biayanya bisa mencapai miliaran rupiah. Yang dia harapkan, hanya jembatan semipermanen yang memungkinkan sejumlah barang kebutuhan pokok, bukan hanya manusia, dapat didistribusikan di kedua tempat. Jembatan semipermanen atau bahkan permanen itu menurutnya juga akan mendongkrak sektor ekonomi di daerah tersebut. Sebab, banyak warga desa tetangga (Demak) yang menggilingkan padi di lima penggilingan yang ada di Setrokalangan. Begitu pula banyak pedagang dari Demak yang membeli hasil bumi dari desa rawan banjir tersebut untuk dijual kembali ke Demak. ''Namun karena kondisinya seperti sekarang, tentu hal itu juga tidak dapat dilakukan secara optimal. Apalagi saat banjir, praktis mobilitas warga harus memutar ke lain daerah.'' (ton-15n) |