| Rabu, 05 Januari 2005 | SEMARANG |
Duka Mahasiswa Aceh di Semarang''Hana Lee Bandaaceh Ka Abeh...''''Hana lee Bandaaceh ka abeh. Han jeut tanging le ka abeh leuh,'' kata Zul Akbar dari ibu kota Provinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD) lewat pesawat telepon. Tak ada lagi Bandaaceh. Tak ada lagi yang bisa kita lihat, semua sudah habis. Begitulah kira-kira yang dituturkan Zul dengan suara yang sesekali tertelan isak kesedihan. Ramzi, penghuni asrama mahasiswa asal Aceh di Gang Iwenisari Banjarsari Tembalang yang menerima telepon Zul hanya bisa terdiam. Ya, Zul Akbar memang pantas dirundung duka. Sebab, keluarganya yang tinggal di Banda Aceh raib entah ke mana, berbarengan dengan serbuan gelombang tsunami, Minggu (26/12). Sehari setelah musibah terjadi, mahasiswa Teknik Sipil Unissula angkatan 2000 itu segera mudik ke Aceh untuk mencari keluarganya. Tak cuma Zul yang kehilangan keluarganya. Puluhan mahasiswa asal Aceh yang kini menempuh pendidikan di Semarang mengalami kepedihan yang sama. Kini mereka berharap-harap cemas menanti dering telepon dari Tanah Rencong itu. Toh, kabar tak selamanya mendatangkan keriaan. Berita tentang nasib buruk keluarganya membuat Zauzatul Amnah beberapa kali pingsan. Saudara-saudaranya di Sigli, yang terletak sekitar Selat Malaka, bernasib malang akibat gelombang tsunami. Beberapa anggota keluarganya juga menjadi korban. Berita yang lebih baik mungkin seperti yang diterima Hari, mahasiswa Arsitektur Undip angkatan 2000. Ia telah menerima kabar dari keluarganya, yang tinggal di Sabang, Pulau Weh. Kata dia, rumah tinggalnya cuma berjarak sekitar 30 m dari laut. ''Tapi, alhamdulillah, rumah kami berada di bukit dan terlindung tebing. Kabar terakhir yang saya terima, ayah ibu bisa dipastikan selamat,'' tutur Hari, seraya menunjukkan letak rumahnya di peta Aceh. Saat ini Hari tak bisa berbuat banyak untuk mencari informasi kabar keluarga. Satu-dua kali dia mencoba mengontak teman, tetangga, dan sanak saudara melalui telepon yang nomornya tersimpan di memori hand phone-nya. Tapi, tak ada yang bisa dihubungi. Berbeda dari Hari, Fakhrurrazi masih menyimpan rasa degdegan. Hingga saat ini dia belum bisa memastikan keadaan kedua orang tuanya, yang tinggal di Peureumeu Meulaboh. Hubungan dengan keluarganya terputus untuk sementara. ''Saya sempat cemas, karena seminggu sebelum musibah tsunami, Mamak (ibu-Red) dirawat di RS Cut Meutia Meulaboh karena luka di kepala. Musibah mengerikan itu sampai juga di RS,'' katanya. Arul, demikian dia dipanggil, menduga keluarganya yang menunggui sang Mamak menginap di rumah saudaranya, yang terletak di bibir pantai Meulaboh. Hal itulah yang membuat mahasiswa Teknik Sipil Undip angkatan 2002 itu belum bisa tidur dengan nyenyak. Kalaupun ada berita yang sedikit menggembirakannya, adalah informasi perihal keselamatan keluarganya, kendati dia belum bisa memperoleh kepastian soal itu. ''Ada seorang teman dari Tapaktuan Aceh Selatan yang mengabarkan soal itu lewat telepon. Sayang, sampai hari ini saya belum bisa menelepon Ayah dan Mamak sendiri.'' Kirim Sukarelawan Sejumlah mahasiswa asal Aceh yang tinggal di asrama yang dikelola Yayasan Pocut Meurah Intan Tembalang Semarang juga masih menunggu kepastian keluarga di tanah kelahiran. Sebagian dari mereka dibayangi persoalan seputar kelanjutan studi dan biaya untuk hidup di tanah rantau, mengingat orang tua yang selama ini memasok jatah bulanan tak kunjung ada kabar. Saat ini, Ikatan Pemuda Aceh Semarang (IPAS) dan Ikatan Masyarakat Aceh Semarang (IMAS) mencoba mendata seluruh mahasiswa asal Aceh yang ada di Kota ATLAS. Pada saat yang sama, sekaligus mencari bantuan beasiswa agar kelangsungan hidup selama kuliah. ''Kalau di Undip dan beberapa PT lain SPP bagi mahasiswa Aceh telah dibebaskan, tapi untuk biaya hidup sehari-hari selama menempuh kuliah itu yang masih menjadi pikiran,'' kata Hari. Menyikapi musibah itu, para mahasiswa Aceh tak mau berpangku tangan. Mereka membuka posko peduli Aceh di dua tempat, Masjid Baiturrahman Simpanglima dan Yayasan Pocut Meurah Intan Tembalang, yang juga asrama mahasiswa asal Aceh. Pada hari-hari pertama musibah, mereka sempat meminta sumbangan di seputar Tugumuda. Setelah muncul kepedulian dari eksponen mahasiswa lain, mereka menghentikan penarikan sumbangan di jalan-jalan. Selain itu, mahasiswa Aceh mengirimkan sukarelawan langsung ke daerah bencana. Minggu (2/1) lalu, 21 mahasiswa Aceh yang tergabung dalam IPAS bersama sukarelawan lain dari Semarang bertolak ke Aceh. Mereka datang lengkap dengan bahan makanan, peralatan, dan obat-obatan. Para mahasiswa Aceh di Semarang menyayangkan lambannya pengiriman bantuan, terutama yang berupa bahan makanan. ''Saya tak habis pikir, kenapa pengiriman bantuan bisa berjalan begitu lambat. Alasannya, tak ada pesawat, jalan tak bisa dilewati, atau masih banyak lagi alasan lain. Padahal kalau mengirim tentara, cepatnya bukan main....,'' kata salah seorang mahasiswa. (Achiar M Permana, Widodo Prasetyo-89) |