| Rabu, 05 Januari 2005 | SEMARANG |
Jembatan Banjirkanal Timur Juga AmblesSEMARANG UTARA- Kondisi ambles ternyata tidak hanya terlihat pada sambungan antara jalan dan jembatan (oprit) di jembatan layang depan pelabuhan, tapi juga pada jembatan Banjirkanal Timur dan Kali Tenggang. Kondisi itu juga menyebabkan Jl Usman Janatin rusak dan bergelombang. Jika ditelusuri dari arah Jl Kaligawe, gejala tanah ambles terlihat di oprit jembatan Kali Tenggang. Gejala serupa juga terlihat pada kedua ujung jembatan yang melintasi Kali Banger dan Banjir. Di antara tempat-tempat itu, gejala tanah ambles paling mudah dilihat pada oprit di kedua ujung jalan layang. Setiap kendaraan yang akan turun atau naik dari jembatan selalu terlihat terhentak, sambil mengeluarkan suara ''glodak-glodak''. Jl Usman Janatin yang terbuat dari beton kini terlihat bergelombang. Bahkan beton jalan di dekat pintu 2 Pelabuhan Tanjung Emas retak-retak. Keretakan juga terlihat pada cerukan di ujung atas jalur akses dari Jl Ronggowarsito ke jalan layang. Kegagalan Konstruksi Pengajar geoteknik Jurusan Teknik Sipil Unika Soegijapranata Daniel Hartanto ST MT mengatakan, berbagai kerusakan itu merupakan indikasi telah terjadi kegagalan konstruksi. Karena itu, dia menyarankan, bagian-bagian jalan dan oprit yang rusak dibongkar dan dibangun ulang. Untuk memperkuat fondasi di tempat itu, dia menyarankan digunakan tiang-tiang pancang. Di atasnya kemudian diletakkan pelat beton yang sekaligus berfungsi sebagai fondasi jalan. Dengan cara itu, penurunan akan terjadi secara merata. Menurutnya, penurunan tanah di kawasan itu sulit dihentikan. Lahan di kawasan itu semula tambak dan rawa-rawa yang kemudian diuruk. Lapisan tanah pada bagian atas menjadi sangat lunak. Karena dekat pantai, kawasan itu juga terkena interusi air laut. Dia memperkirakan kandungan air di wilayah itu hampir 80%. Lapisan tanah lunak semacam itu diperkirakan berkedalaman hingga 25 meter. Lapisan tanah semacam itu akan terus mengalami pemampatan, apalagi di atasnya selalu ada beban berat. Beban tak hanya dari kendaraan-kendaraan besar, tetapi juga jalan dan jembatan. Faktor penurunan tanah sebenarnya bisa ditolelir jika hanya sekitar 2,5 cm per tahun. Namun jika melebihi angka tersebut, kecepatannya harus dikurangi. Menurut dia, semestinya sebelum pembangunan dimulai, dilakukan upaya-upaya untuk mempercepat pemadatan tanah. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah menggunakan teknik vertikal drain. Upaya yang bisa dilakukan adalah mengebor beberapa titik, kemudian mengisinya dengan pasir. Dengan cara itu, kandungan air di dalam tanah akan terperas keluar. Permukaan tanah memang akan turun dengan cepat. Namun setelah itu, lahan tersebut akan relatif lebih stabil. Upaya mempercepat pemampatan tanah saat ini sulit dilakukan. ''Maka, upaya perbaikan paling murah dan mudah hanya pengurukan atau penimbunan,'' kata dia. (G6-89) |