| Rabu, 05 Januari 2005 | SEMARANG |
Membina Mantan Napi dengan PranaPARA mantan narapidana (napi) sering kesulitan kembali ke tengah masyarakat. Sikap penolakan sebagian masyarakat terhadap para mantan napi acap membuat mereka merasa diperlakukan tidak manusiawi. Padahal sebagai manusia, mereka juga butuh pekerjaan untuk menghidupi keluarga. ''Sebagian masyarakat tidak nguwongke kami, padahal kami juga butuh pekerjaan untuk melanjutkan hidup,'' tutur Endi Kuntono. Endi, pria kelahiran Semarang 49 tahun silam itu, kini membuka ruang untuk para mantan napi yang ingin kembali ke jalan yang benar. Endi yang dikenal sebagai spiritual dan paranormal, sejak enam bulan lalu membentuk sebuah lembaga bernama "Tim Pemburu". Anggotanya sekitar 70 orang, tersebar di Demak, Pekalongan, Temanggung, dan Semarang. Uniknya, semua anggota tim Endi adalah mantan "anak-anak nakal". Namun sejak enam bulan silam, mereka yang acap keluar masuk penjara itu, berjanji untuk kembali lurus. ''Saya tegaskan kepada mereka, kalau mau bekerja halal silakan ikut saya. Tetapi kalau melakukan kejahatan saat bertugas, saya sendiri yang akan menangkap dan membawa ke polisi,'' tegasnya. Beberapa kali, suami pengacara Noveni Ariani SH ini diminta memberi ceramah di depan orang tua anak-anak pengguna narkoba atau pelajar. Terakhir, bersama psikolog Hastaning Sakti, Endi dan Tim Pemburu memaparkan kiprah yang telah dirintis di depan jajaran Pemkot Semarang. Sejumlah perusahaan besar dan lembaga nonpemerintahan menggunakan jasa tim Endi untuk mengamankan situasi. Saat konser musik, misalnya, event organizer biasanya menyewa sebuah tim untuk mengamankan situasi panggung dan menjaga keamanan pengunjung. Namun tujuan terbesar yang hendak diraih sesungguhnya, penurunan angka kriminalitas di Jawa Tengah. ''Kalau mereka yang membantu Polisi dalam mengamankan lingkungan adalah mantan anak-anak nakal, mereka yang akan berbuat jahat tentu berpikir ulang. Mereka akan sungkan berbuat nakal kalau ketahuan orang yang dikenal,'' ungkap Endi. Tak heran jika Endi pun menjalin relasi dengan Polri. Setiap hari, petugas kepolisian melakukan pembinaan di sekretariat Tim Pemburu, Jl Batan Miroto III/531. Jika Polda Jateng memperkirakan angka kriminalitas bakal meningkat setahun ke depan, Endi justru yakin sebaliknya. Selain angka kriminalitas diharapkan turun, teror-teror bom juga diprediksi berkurang. Sebab selama ini teror bom di Semarang, 25 persen sungguhan dan 75 persen dilakukan orang iseng. Diakuinya, membina mantan anak nakal membutuhkan cara tersendiri. Salah satu terapi, kata dia dengan memberi kesibukan selama hampir 24 jam. Selain olah raga seminggu sekali, Endi juga mengajarkan seni bela diri dengan tenaga prana kepada anak-anak didiknya. Tenaga prana itu amat berguna, karena mampu mengubah pikiran negatif menjadi positif. Endi Kuntono, mantan "anak nakal" yang pernah malang melintang di dunia kelam pada tahun 1970-an itu, kini menyadari hidup tidaklah kekal. Sebagai paranormal, Endi kerap dimintai tolong untuk menyembuhkan penyakit kanker dan urusan keduniawian, seperti jodoh, karier, atau keharmonisan rumah tangga. Hidup, mati, rezeki, dan jodoh, kata dia ada di tangah Yang Kuasa. Mantan pengawal pribadi Mbak Tutut dan Akbar Tanjung itu mengajarkan kekuasan Yang Esa kepada puluhan mantan narapidana yang ingin kembali ke masyarakat. ''Kami hanya takut kepada Allah, karena Dia Maha Kuasa. Meski menguasai ilmu prana, kalau Tuhan menghendaki lain, pasti akan terjadi,'' ucapnya menutup perbincangan. (Ninik Damiyati-64) |