| Rabu, 05 Januari 2005 | SEMARANG |
Pedagang Direlokasi ke Pasar Rejomulyo
BALAI KOTA-Revitalisasi kawasan Alun-alun Semarang tahap ketiga merupakan agenda utama Pemkot selama lima tahun ke depan. Sedangkan untuk melanjutkan revitalisasi kawasan itu, Pemkot harus merelokasi pedagang ke Pasar Rejomulyo. Sementara itu, berbagai kalangan meminta Pemkot menyusun konsep yang jelas tentang program tersebut dan kemudian disosialisasikan. Dengan begitu semua pihak yang terlibat bisa mengambil sikap, termasuk memberikan dukungan. Menurut Sekretaris Program Magister Lingkungan Perkotaan Tjahjono Rahardjo, kawasan alun-alun saat ini sudah terlanjur semrawut dan luasnya makin berkurang. Dulu lokasi yang saat ini ditempati Hotel Metro dan Pasar Yaik juga merupakan bagian dari alun-alun. Dia kemudian mempertanyakan, apakah kedua bangunan itu juga akan dihilangkan. Dia juga mempertanyakan, apakah dalam revitalisasi tahap ketiga ini, juga termasuk mengembalikan keberadaan Kanjengan. Tempat itu dulunya merupakan pusat pemerintahan Bupati Semarang, namun berubah menjadi pertokoan dan gedung bioskop. Sementara pendapa kebupaten yang ada saat itu, juga dipindah ke Gunung Talang di dekat Tugu Suharto. Terkait dengan konsep revitalisasi, Kepala Sub-Bidang Pengembangan Kawasan Bappeda Kota Semarang, Ir Farchan mengatakan, salah satu tujuannya agar Masjid Agung Kauman terlihat lebih berwibawa. Upaya yang dilakukan, antara lain membuka Jalan Alun-alun timur. Upaya itu merupakan bagian upaya memperlebar akses ke Masjid Agung Kauman dan kawasan Pecinan. Dengan demikian, kawasan Alun-alun itu tidak ''terputus'' dengan kawasan Pecinan. ''Upaya melanjutkan program revitalisasi ini menjadi agenda utama Pemkot Semarang, untuk lima tahun ke depan,'' kata dia. Relokasi Dia mengakui, untuk melanjutkan revitalisasi kawasan Alun-alun Semarang, salah satunya harus merelokasi pedagang ke tempat lain. Bappeda Kota saat ini sedang mendesain pengembangan Pasar Rejomulyo menjadi pasar induk di Kota Semarang. Setelah pasar itu dijadikan pasar induk, sebagian pedagang di Johar akan direlokasi ke tempat itu. Tanpa relokasi pedagang, revitalisasi sulit dilakukan. Potensi Pasar Rejomulyo dijadikan pasar induk sangat besar. Apalagi nantinya di lokasi itu juga terdapat pasar ikan higienis. ''Sekarang, penyusunan desain pengembangan Pasar Rejomulyo sebagai pasar induk sedang dilakukan,'' kata dia. Dari mana pendanaan Pasar Rejomulyo dijadikan pasar induk? Menurut dia, Bappeda akan mengusulkan pendanaannya dari Bank Dunia melalui program USDRP (Urban Sector Development Reform Programe). ''Kami kira ada peluang untuk itu,'' tandasnya. Sikap pedagang sendiri, Farchan yakin masih seperti dulu. Pedagang sudah mendapat sosialisasi tentang revitalisasi Alun-alun Semarang dengan sejumlah tahap. ''Mereka dulu mendukung,'' tandasnya. Yang lebih penting setelah dilakukan revitalisasi, lanjutnya adanya institusi pengelola kawasan yang direvitalisasi tersebut. Pengelola kawasan yang direvitalisasi tidak hanya Pemkot, tetapi juga melibatkan pihak lain semacam konsorsium. Dia berharap kasus revitalisasi kawasan Kota Lama tidak terulang lagi. Dalam revitalisasi itu, tidak ada institusi pengelola kawasan selain Pemkot, sehingga kondisinya masih seperti sekarang. ''Jadi perlu institusi pengelola kawasan,'' ungkap dia. (G6,G17-64) |