logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 05 Januari 2005 KEDU & DIY
Line

Lukisan Yani untuk Korban Tsunami

BANYAK cara untuk membantu korban bencana tsunami di Aceh dan daerah lain. Ada yang mengedarkan kotak sumbangan di pinggir jalan, membuka posko peduli, mengumpulkan pakaian, sampai mengirim relawan ke daerah bencana.

Para penyumbang pun dari berbagai kalangan, ada anak-anak sekolah, mahasiswa, aktivis politik, dan pengusaha. Tidak ada batasan etnis, agama, strata, mereka berlomba-lomba membantu saudaranya yang sedang tertimpa bencana dahsyat yang meluluhlantakkan Aceh.

Tidak ketinggalan pula para seniman Yogyakarta dan sekitarnya. Mereka prihatin dan berduka, karena begitu banyak korban berjumlah mencapai puluhan ribu, jatuh tak berdaya. Agak unik memang, namanya juga seniman dalam mengekspresikan keprihatinannya.

''Kami juga peduli dengan saudara-saudara kita di Aceh yang sedang kena musibah besar, dan para seniman ini punya cara sendiri untuk membantu mereka,'' ujar salah seorang perupa Yogyakarta, Godod Sutejo.

Dia bersama puluhan perupa tidak hanya dari Yogyakarta tetapi juga kota-kota lain di Jawa, berkumpul dan mencoba berbuat sesuatu untuk membantu para korban. Lantas apa yang dilakukan seniman-seniman tersebut?

Mereka memboyong Yani Saptohudojo, istri almarhum pelukis terkenal Saptohudojo sebagai model lukisan. Bertempat di Museum Vredeburg Yogyakarta, Yani yang meski sudah berumur didapuk para seniman untuk menjadi model. Nah, hasil lukisan itu nanti akan dipamerkan dan dilelang di Galeri Saptohudojo yang terletak di Jalan Solo. Hasil lelang tentu saja untuk para korban bencana tsunami.

Gratis

''Para seniman sengaja memilih Yani Saptohudojo, karena dia memang fotogenik dan dulu sering menjadi model lukisan. Sampai sekarang pun dia tetap layak menjadi model, apalagi namanya sudah sangat dikenal,'' papar Godod.

Pertimbangan lain memilih Yani, karena selama ini komitmen perempuan yang masih terlihat cantik di usia senja itu di dunia seni tetap tinggi. Bahkan untuk menjadi model lukisan guna membantu korban bencana, dia tidak dibayar alias gratis.

''Kalau harus membayar ya...para seniman ini tidak kuat hehehe...,'' ujar Godod sembari terkekeh.

Yani memang masih menyimpan daya tarik sebagai model lukisan. Almarhum suaminya, Saptohudojo, pernah menorehkan kuas di kanvas dengan model istrinya dengan sangat apik. Garis-garis wajahnya yang mempunyai karakter khas sebagai perempuan Jawa serta lekuk tubuh yang indah menjadikan dia ikon model lukisan kala itu.

Kini, berbalut pakaian Jawa basahan, Yani terlihat begitu eksotik sebagai model. Lebih dua jam dia duduk di lincak di hadapan puluhan pelukis termasuk pelukis karikatur dan pembuat tokoh Om Pasikom di Harian Kompas, GM Sudharta.

''Hasil lukisan ini akan kami pamerkan dan ada yang merelakan 100% hasil penjualan untuk korban tsunami, tapi ada pula yang hanya 50%. Berapa jumlahnya nanti tidak menjadi soal, yang penting kepedulian untuk mereka yang menderita,'' tutur Godod. Maka, jadilah lukisan Yani untuk korban bencana.(Agung PW-92s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA