logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 05 Januari 2005 KEDU & DIY
Line

Rumah Hancur, Parno Tempati Los Pasar

PURWOREJO - Akibat rumah beserta isinya musnah diterjang tanah longsor pada Senin (27/12) malam, sejumlah warga Loano kini mengungsi di rumah famili dan tetangga. Ada pula sebagian warga Beruduwur, Desa Kalisemo hanya berani pulang ke rumah pada siang hari, sedangkan bila malam mereka mengungsi karena takut ada bencana susulan.

Di antara sekian warga yang menderita, ada yang terpaksa tinggal di bangunan los pasar lantaran tidak memiliki famili. Dia adalah keluarga Parno (42) dan orang tuanya, Ny Wakirah (70). Dua keluarga tersebut terpaksa menndompleng di bangunan los pasar Desa Guyangan karena sudah tidak ada pilihan lain.

Dua keluarga tersebut semula tinggal di Dukuh Wonosari, Desa Guyangan, Loano. Tanah longsor telah menerjang rumah dua orang itu dan rumah milik Budiyono. Budiyono kini tinggal bersama orang tuanya di desa setempat.

Bagi Parno, musnahnya rumah beserta isinya merupakan pukulan berat. Sebab, harta benda yang dia miliki merupakan tabungan sejak bekerja sebagai kernet mobil angkutan. Pekerja sebuah pabrik besi di Bogor itu sebelum tertimpa musibah sebenarnya tergolong paling kaya di antara para tetangganya.

Akan tetapi, setelah rumah beserta isinya dihantam tanah longsor, kini hanya tinggal sebagian kecil lantai keramik rumahnya yang masih terlihat.

Lebih celaka lagi gara-gara sudah sekian hari tidak masuk kerja, dicoret dari tempat kerjanya. Tak ayal kini dia hanya menganggur di rumah. Bisa dibayangkan, keluarga yang semula tinggal di rumah berdinding tembok dan berlantai keramik, kini harus hidup di bangunan yang sangat sederhana. Aksi protes terutama datang dari anak-anak Parno. ''Omahe kok kaya kandhang pitik, Pak (Rumahnya kok seperti kandang ayam, Pak),'' keluh anaknya yang bernama Supardiyanto (9).

Tanah Bengkok

Menurut penuturan warga, dua bangunan yang ditempati Parno dan ibunya itu semula bangunan los pasar desa. Semula hanya berupa bangunan los beratap tanpa dinding. Setiap los berukuran 4 x 7 meter yang dibangun di atas tanah bengkok desa.

Sehari setelah terjadi tanah longsor, Kepala Desa Bambang Atmiliyanto meminta korban tanah longsor memanfaatkan bangunan tersebut. Dengan pertimbangan, sudah sekitar setengah tahun silam dua los tersebut menganggur. Itu karena pemindahan pasar desa yang semula di Dusun Kemejing tidak bisa hidup, malah kini pasar desanya pindah ke Dusun Jambean, Guyangan.

Kisah serupa dialami tiga keluarga warga Desa Kalisemo, Loano. Karena rumahnya hancur, kini mereka mendompleng di rumah milik Gino yang merantau di Jambi. Sepuluh jiwa yang kini mengungsi di rumah itu terdiri atas keluarga Ny Taslimah, Kanifudin, dan Tamal.

Hingga kemarin, sebagian warga Loano sudah tidak berani pulang ke rumah karena terancam longsor. Seperti di Dusun Berutengah dan Dusun Beruduwur, Desa Kalisemo terlihat tanah bengkah selebar 60 cm dan sepanjang satu meter. Warga khawatir, sewaktu-waktu tebing di sekitar rumahnya longsor.

Camat Loano Drs Fatkhurohman ketika ditemui kemarin mengharapkan bantuan berupa pakaian pantas pakai, bahan makanan, dan material bahan bangunan.

Data yang dia miliki, tercatat ada 53 keluarga yang menjadi korban tanah longsor pada 27 Desember lalu dengan korban jiwa dua orang. Rumah yang rusak total 19 buah dan sisanya rusak berat. Kerugian harta diperkirakan sekitar Rp 1 miliar. (yon -92j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA