logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 05 Januari 2005 INTERNASIONAL
Line

ANALISIS

Empat Negara Mencoba Tingkatkan Citra

TOKYO - Upaya pengumpulan bantuan besar-besaran bagi daerah-daerah bencana tsunami di lingkungan Samudera Hindia memberikan peluang bagi AS, Jepang, China, dan India untuk memperbaiki citra mereka sebagai ''kekuatan yang ramah'' di kawasan tempat mereka berebut pengaruh.

Keempat negara itu telah menjanjikan sejumlah besar bantuan dalam bentuk uang tunai atau barang, dan mengirimkan pejabat puncak ke KTT khusus bantuan tsunami di Jakarta, Kamis besok.

Namun sebagian pengamat mengatakan, keengganan Presiden AS George W Bush berbicara kepada khalayak tentang bencana itu, dan janji awal bantuannya yang hanya 15 juta dolar AS, membuat dia kehilangan kesempatan untuk memperbaiki citra Amerika yang suram akibat kebijakan pascaserangan kamikaze 11 September dan invasi ke Irak.

''Mereka sedang berupaya mengejar dan menangkap peluang yang mudah,'' kata Brad Glosserman, direktur riset Forum Pasifik CSIS, sebuah kelompok pemilik di Honolulu.

Sebagian lainnya mengatakan, mobilisasi dana besar-besaran dan personel militer yang dilakukan AS, dapat memperbaiki posisi Washington di kawasan Asia, dan kalangan negara muslim pada umumnya.

Sebab, daerah yang paling parah dilanda bencana tsunami tersebut sebagian besar penduduknya muslim.

''Fakta bahwa jumlah bantuan itu bertambah secara cepat, sangat berkaitan dengan tujuan umum untuk mencoba memulihkan citra AS sebagai pemimpin dunia yang simpatik,'' kata Malcolm Cook.

Direktur program untuk Asia dan Pasifik Lowy Institute for International Policy di Sydney itu menambahkan: ''Saya tentu saja memandang ini sebagai peluang baik.''

Jepang dan China Bersaing

Bantuan mengalir deras ke wilayah tersebut, khususnya Indonesia dan Sri Lanka yang paling parah dilanda bencana. Amerika memperbesar kontribusinya menjadi 350 juta dolar AS (sekitar Rp 3,25 triliun), setelah dikritik terlalu pelit dalam memberikan bantuan.

Washington juga mengerahkan angkatan bersenjatanya untuk kerja-kerja kemanusiaan, dan mengadakan upaya amal swasta untuk mendukung salah satu penggalangan bantuan terbesar dalam sejarah.

Untuk membantu mengkoordinasi upaya-upaya pemberian bantuan, Menlu Colin Powell dan Gubernur Negara Bagian Florida Jeb Bush (adik Presiden Bush) berada di Asia, dan akan menghadiri KTT tsunami di Jakarta bersama PM Jepang Junichiro Koizumi, PM China Wen Jiabao, dan para pemimpin lain.

Jepang telah menjanjikan bantuan 500 juta dolar AS, atau seperempat dari total bantuan global yang mencapai dua miliar dolar AS.

Walaupun jumlah itu tergolong biasa mengingat kekuatan ekonomi Jepang, para analis mengatakan bantuan tersebut dapat menjadi pengingat yang tepat waktu bahwa Tokyo merupakan mitra regional yang dapat diandalkan, meskipun perhatian pada akhir-akhir ini terpusat pada pertumbuhan China.

Janji bantuan Beijing sendiri, lebih dari 60 juta dolar AS - suatu jumlah yang besar bagi sebuah negara berkembang - juga memperlihatkan keinginan China untuk menjalin hubungan lebih bersahabat dengan wilayah yang curiga pada pengaruh ekonomi dan tujuan strategisnya.

Namun jika Washington terlalu berlebihan dengan menjadikan bantuannya sebagai bagian dari strategi kontraterorisme, hasilnya malah bisa menjadi bumerang, kata beberapa pengamat.

''Orang selalu beranggapan, bantuan amal punya dampak positif. Orang tidak perlu menyebutkan dampaknya secara khusus,'' kata Wang Gungwu, direktur Institut Asia Timur di National University of Singapore.

Kecurigaan pada iktikad AS telah muncul di India. Sebagian orang memandang keputusan Washington untuk mengirimkan 1.500 pasukan marinir dan kapal serang amfibi ke Sri Lanka, merupakan bentuk penyusupan ke wilayah pengaruh India itu.

India, yang bertekad untuk tidak semata dipandang sebagai korban setelah kehilangan lebih dari 15.000 warganya dalam bencana tersebut, bergerak cepat mengirimkan bantuan ke Sri Lanka dan negara-negara lain.

Angkat Citra

Bagi Jepang, yang pada tahun-tahun terakhir kalah dari China dalam berebut kepemimpinan regional, kemauan untuk memberi bantuan dan memobilisasi militernya untuk operasi-operasi kemanusiaan, dapat mendorong citra Tokyo di kalangan tetangganya, kata para analis.

''Pemberian bantuan ini bukan hanya dapat dimenangi dengan mudah oleh Jepang. Ini juga ajang bagi mereka untuk mengalahkan China, karena China tidak punya aset atau kemampuan untuk melakukannya, atau uang untuk membiayainya,'' kata Glosserman dari CSIS.

Tetap saja, kontribusi China sendiri - yang besarnya sama dengan sumbangan Kanada dan Prancis - mencerminkan hasratnya untuk memainkan peranan diplomatik yang lebih besar di kawasan itu dan dunia.

''China yang semakin kuat, membuat negara-negara merasa tidak nyaman, meskipun mereka tidak secara terbuka mengatakan China ancaman. Para pemimpin baru di Beijing ingin mengubah kesan, sehingga mereka ingin memberikan seluruh uang ini,'' kata Jia Qingguo, profesor di Jurusan Studi Internasional Universitas Peking, Beijing.

China bahkan mungkin dapat meraih lebih banyak sambutan hangat atas bantuannya ketimbang Jepang, karena bantuannya jauh lebih besar, kata para analis. Mereka mengingatkan, Beijing memperoleh pujian dunia dengan membuat mata uangnya tidak mengambang selama krisis keuangan 1997.

''Meskipun Jepang memberikan bantuan jauh lebih besar, citra China tetap terangkat tanpa harus menyumbangkan bantuan sebesar yang diberikan Jepang,'' kata Cook.(rtr-ben-30)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA