| Rabu, 05 Januari 2005 | INTERNASIONAL |
Abbas Cap Israel Musuh Bangsa PalestinaKOTA GAZA - Pemimpin PLO Mahmud Abbas menyebut Israel sebagai ''bangsa Yahudi musuh bangsa Palestina'', Selasa kemarin. Kata-kata keras seperti itu belum pernah digunakan sebelumnya oleh sosok moderat tersebut, yang diharapkan menjadi pengganti Yasser Arafat sebagai presiden. Abbas, yang sedang berkampanye menghadapi pemilihan presiden 9 Januari mendatang, menyatakan hal tersebut setelah tentara Israel menewaskan tujuh warga Palestina di Jalur Gaza. Aksi tentara negara Yahudi itu dilancarkan, sebagai balasan atas serangan mortir oleh para gerilyawan militan Palestina di sana, yang melukai para pemukim Yahudi. ''Kita mendoakan para syuhada kita yang gugur hari ini, akibat tembakan para Yahudi musuh kita,'' katanya, dalam kampanye di Khan Younis, kubu kuat para gerilyawan yang telah melakukan perlawanan bersenjata selama empat tahun terhadap Israel. Di tengah teriakan orang-orang bersenjata, Abbas yang diharapkan menjadi presiden Palestina berikut setelah kematian Arafat, membuat penampilan yang sangat menonjol. Sambil tersenyum dan mengacungkan tangan tanda menghormat, dia menunjukkan diplomasi yang hati-hati untuk membujuk para militan, ketika dia berupaya menggantikan Arafat lewat pemilu Minggu mendatang. Hampir bisa dipastikan, Abbas bakal memenangi pemilihan tersebut. Tantangan Terbesar Namun, untuk membuat kaum militan berada di bawah kendalinya yang nyata, tampaknya bakal jadi tantangan terbesar bagi Abbas (jika dia mencapai tujuannya untuk mengakhiri intifada yang telah berlangsung lebih dari empat tahun). Kaum militan kelihatannya tidak terbujuk oleh seruan Abbas untuk mengakhiri perjuangan bersenjata. Mereka malah menekankan, tidak akan ada gencatan senjata selama Israel terus memerangi mereka. Sebaliknya, Israel mengesampingkan perundingan-perundingan apa pun dengan pemerintah Palestina, jika kaum militan tetap melancarkan serangan. ''Saya tidak menolak gencatan senjata. Namun saya masih belum bisa menerima kesepakatan seperti itu,'' kata Zakaria al-Zubaidi, tokoh militan di kota Jenin, Tepi Barat, yang melepaskan tembakan untuk menyambut Abbas. Pemimpin PLO itu punya peluang terbaik mencapai kesepakatan gencatan senjata dengan Brigade Syuhada al-Aqsa pimpinan Zubeidi. Brigade al-Aqsa adalah sayap bersenjata dalam faksi Fatah pimpinan Abbas sendiri, yang dibentuk setelah intifada dimulai pada 2000 menyusul kegagalan perundingan damai dengan Israel. Beberapa orang bersenjata secara pribadi mengakui, mereka telah lelah berperang setelah bertahun-tahun dalam pelarian. (rtr-ben-30) |