| Rabu, 05 Januari 2005 | INTERNASIONAL |
Gubernur Bagdad Tewas DibomBAGDAD - Sekelompok orang bersenjata menghabisi nyawa Gubernur Bagdad Ali al-Haidri, dalam aksi pembunuhan paling menonjol selama delapan bulan terakhir di Irak. Pembunuhan itu dilakukan lewat serangan bom mobil jibaku, yang juga menewaskan 10 orang lain, dekat Zona Hijau (kompleks pemerintahan dan Kedubes AS) Bagdad, Selasa kemarin. Serangan tersebut menunjukkan kampanye gerilyawan antipasukan asing kian meningkat belakangan ini, untuk mengganggu pemilu yang menurut rencana dilaksanakan 30 Januari mendatang. Dengan membunuh Gubernur Ali al-Haidri sebagai sasaran, para gerilyawan ingin menunjukkan bahwa mereka mampu menyerang jantung ''kaum kelas berkuasa'' di Irak. Muncullah kecemasan, apakah pasukan keamanan Irak mampu melindungi para politikus dan kaum pemilih, ketika hari pelaksanaan pemungutan suara semakin dekat. Pembunuhan gubernur Bagdad terjadi, beberapa jam setelah sebuah bom jibaku yang lain menghancurkan truk tangki bahan bakar yang melewati pos pemeriksaan di Zona Hijau. Serangan bom tersebut menciptakan bola api raksasa yang mengguncang ibu kota Irak tersebut, kata polisi dan sumber-sumber rumah sakit. Sebanyak 58 orang terluka. Takuti Pemilih Sehari sebelumnya, 17 aparat keamanan Irak tewas dalam serangkaian penyerbuan dan ledakan di berbagai wilayah negara itu. Serangan-serangan tersebut merupakan kampanye terakhir gerilyawan Suni untuk mengusir pasukan pimpinan AS. Gerilyawan Suni juga ingin melumpuhkan pemerintahan sementara yang didukung Amerika, dan menakut-nakuti pemilih agar tidak datang ke tempat pemungutan suara (TPS). Haidri tercatat sebagai pejabat paling senior Irak yang dibunuh di Bagdad, sejak ketua Dewan Pemerintahan negara itu tewas dalam serangan bom jibaku, Mei tahun lalu. Dia lolos dari upaya pembunuhan, September lalu. Gerilyawan telah berulang kali mengincar para pejabat Irak dan anggota pasukan keamanan negara itu, sebagai bagian dari upaya mengacaukan pemerintahan. Senin lalu, sebuah bom mobil yang ditujukan untuk membunuh PM Sementara Iyad Allawi meledak dan menewaskan sedikitnya 27 anggota pasukan pengawal. Di tengah maraknya aksi perlawananan yang semakin meningkat itu, Menteri Pertahanan Hazem Al-Shaalan mengatakan tidak tertutup kemungkinan pemilu legislatif diundur. Sebanyak empat orang tewas dan 24 lainnya terluka dalam ledakan bom jibaku tidak jauh dari kantor PM Allawi di Bagdad, kata seorang juru bicara Departemen Dalam Negeri Irak. Kelompok Ansar al-Sunna mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut, seperti mereka katakan dalam sebuah situs internet. ''Salah satu pejuang kami telah berhasil melakukan tindakan heroik terhadap anggota polisi yang bertugas menjaga markas pemerintahan sementara yang dipimpin Iyad Allawi,'' bunyi pernyataan tertulis dalam situs internet kelompok tersebut. AS Tambah Penasihat Amerika Serikat berencana menambah penasihat militernya untuk bekerja langsung dengan unit militer Irak setelah pemilu 30 Januari, dalam upaya meningkatkan kinerja militer Irak, ungkap The New York Times, Selasa. Sebanyak 100 penasihat militer akan menunjang pelatihan angkatan darat, Pasukan Pengawal Nasional, dan pasukan Kepolisian Irak, kata koran itu, mengutip penjelasan beberapa pejabat tinggi AS. ''Dalam pandangan saya, peningkatan kinerja pasukan keamanan Irak pada dasarnya merupakan upaya utama kami,'' kata Brigjen Carter Ham, komandan pasukan Amerika di Irak utara, kepada harian itu. Beberapa ratus anggota pasukan AS sudah bertugas dalam unit-unit militer Irak untuk memberikan latihan tambahan. Departemen Keamanan Tanah Air AS juga akan menyediakan tim kecil untuk membantu melatih pejabat polisi perbatasan Irak yang baru. (rtr-ben-30) |