logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 05 Januari 2005 EKONOMI
Line

Tingkat Inflasi Jateng Desember 2004 Naik

SEMARANG- Tingkat inflasi Jateng bulan Desember 2004 mencapai 0,96%. Tingkat inflasi yang merupakan hasil komposit dari Indeks Harga Konsumen (IHK) 4 kota di Jateng ini, terdorong positif atau terjadi kenaikan 0,07% dari bulan November yang tercatat 0,89%.

"Rencana kenaikan BBM diperkirakan juga berdampak psikologis dengan mendorong terjadinya inflasi ini. Khusus Jateng, tingkat inflasi disebabkan arena kenaikan komoditi bahan makanan seperti bumbu-bumbuan gula pasir, cabe, dan gas elpiji,'' kata Susiono SSi, Kepala Seksi Statistik Harga Konsumen dan Harga Perdagangan Besar Badan Pusat Statistik (BPS) Jateng, di kantornya Jl Pahlawan, kemarin.

Berdasarkan data di BPS Jateng inflasi di empat kota yang menjadi sampel Semarang masih menduduki peringkat paling tinggi yakni 1,15%, Solo 0,71%, Purwokerto 0,71% dan Tegal 0,63%. Sepanjang tahun ini, inflasi di Jateng 5,76% atau masih di bawah inflasi nasional 6,40%.

Susiono menandaskan, pada bulan Desember ini kenaikan indeks bahan makanan sebesar 1,26% menjadi pendorong utama terjadinya inflasi disusul, makanan jadi minuman rokok dan tembakau dengan kontribusi 1,22%, perumahan air listrik dan BBM (Bahan Bakar Minyak) 0,36%, Sandang 0,22% dan Pendidikan 0,2%. Adapun untuk bahan per kelompok untuk untuk bumbu-bumbuan 13,38% , sayuran 8,05%, jagung dan hasil-hasilnya 2,05%. kelompok makanan jadi sub kelompok minuman tidak beralkohol 5,57%.

Menurut dia, tingginya sumbangan kelompok bahan makanan tersebut juga disebabkan oleh tingginya curah hujan yang terjadi sejak awal bulan Desember, sehingga mengakibatkan rusaknya tanaman-tanaman tersebut. Inflasi lebih terdorong dengan kenaikan harga gas elpiji yang semula hanya Rp 36.000 menjadi Rp 51.000, atau bahkan mencapai Rp 58.000 di tingkat pengecer.

Selain harga elpiji yang merangkak naik hampir dua kali lipat harga gula pasir yang terus merangkak sejak Oktober dinilai sebagai pendorong tingginya inflasi Desember. Berdasarkan catatan Suara Merdeka, pada awal Oktober harga gula pasir Rp 4.000 per kg menjadi Rp 4.500 per kg, dan menyentuh Rp 5.000 per kg di akhir tahun 2004.

"Di samping kenaikan elpiji, rencana kenaikan harga BBM secara psikologis menyebabkan kenaikan harga komoditi lain secara perlahan," jelasnya.

Namun mengenai perkiraan inflasi untuk bulan Januari 2005 ini, pihaknya tidak dapat mengeluarkan prediksi, sebab BPS hanya melakukan survei, tapi tidak melakukan perkiraan karena dikhawatirkan tidak objektif. ''Kami hanya sampaikan data yang sudah diolah dari lapangan,'' tandasnya. (G2-82)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA