| Rabu, 05 Januari 2005 | BUDAYA |
"Jiwaku Mataku" di Gedung SukasariSEMARANG-Pelukis Jimmy Lauy tetap produktif melukis objek-objek naturalis. Di ruang studio lukisnya, puluhan karyanya tertata rapi. Beberapa di antaranya masih bersandar menunggu finishing tapi banyak yang telah melekat di seluruh dinding ruangan rumah galerinya di Jl Puri Anjasmoro K 5/22 Semarang. "Masih dengan tema di seputar kita: orang dengan lingkungan. Kiblat saya memang kesederhanaan namun menjadikan kesederhanaan itu sebagai sesuatu yang sempurna. Dan itu obsesi saya," kata Jimmy pada 9 Januari 2005 akan menggelar pameran lukisan bertajuk "Jiwaku Mataku" selama sepekan. Dia mengadakan pameran bersama dengan pelukis Antock, Sardjono, Laurensia, Giman, Eko Sutro di Gedung Sukasari, kompleks Katedral Randusari Semarang. Pelukis kelahiran Jember 63 tahun silam itu kaya ungkapan naturalis yang berkarakter. Salah satu lukisannya, sosok perempuan tumbuh berjudul "Potret" yang terlihat manyala, mencuatkan karakternya yang khas. Lukisan potret gadis kecil ini berbicara bahwa fokus sangat penting keberadaannya untuk mencapai kedalaman makna naturalis yang hidup. Pencahayaan Kekuatan lukisan potret gadis kecil, salah satu lukisannya yang akan dipamerkan itu, mencuat pada pencahayaan dengan latar belakang warna yang mempertegas kehadiran objek naturalismenya berupa sosok perempuan yang sedang tumbuh. Jimmy terbilang pelukis naturalis yang selalu berhasil menebarkan wangi bunga-bungaan dan eloknya perempuan maupun matangnya wajah sosok tua. Dia mengolah warna menjadi cahaya naturalis yang menghidupkan objek kanvasnya. Kecekatannya memainkan dimensi warna selalu memberinya titik fokus berupa detil pencahayaan yang menyapu anatomi objek naturalisnya. "Jiwaku mataku. Bagi pelukis, itu berarti melukis harus dengan jiwa. Lukisan potret harus hidup meski pun sosok orang yang dilukis sudah mati. Jangan sebaliknya, lukisan potret terlihat mati tanpa cahaya, padahal orangnya masih hidup," ujarnya. (D18-81) |