| Rabu, 05 Januari 2005 | BUDAYA |
Berkaca pada Keruh LumpurKALAU hendak memahami kehidupan, cobalah bertanya pada keruh lumpur. Agaknya, hal itulah yang hendak dipresentasikan Sanggar Seni Paramesthi lewat refleksi akhir tahun bertajuk ''Garis Lumpur'' yang digelar di Joglo Paramesthi Jl Kelud Utara 22 Semarang, baru-baru ini. Sebuah pertunjukan yang hendak menerakan kepedulian pada persoalan ekologi yang membelit Semarang. Katakanlah sebagai cuplikan kota-kota lainnya di Indonesia. Tengara itu terlihat kentara. Hampir-hampir pertunjukan yang digelar malam itu merupakan respons kreatif terhadap lumpur yang menutupi hampir seluruh lantai Joglo Paramesthi. Ya, nyaris seluruh lantai keramik putih itu ditimbun lumpur merah basah. Dilihat sepintas, seperti ada sawah usai dibajak yang dipindahkan ke tempat itu. Sesekali ada seseorang yang menyiramkan air, untuk menjaga kelembekan lumpur. Lihatlah spontanitas pekerja teater Imam Broto. Hampir setengah jam ia melakukan olah tubuh menggulati lumpur basah itu. Sesekali, dari mulutnya mencebis kalimat-kalimat berbahasa Jawa yang tak terlampau sinambung dengan pertunjukan secara keseluruhan. Tak banyak yang bisa dicatat dari performance Imam kecuali pencapaian artistik auditif dari vokalnya. Ia menutup kepalanya dengan pengaron sehingga mengeluarkan bunyi yang cukup artistik. Bahwa yang dilakukannya mirip dengan salah satu adegan ''Waktu Batu#3'' Teater Garasi, itu soal lain! Cermin Kehidupan Pertunjukan berikutnya adalah karya tari Sri Paminto bertajuk ''Gerak Lumpur'' menerakan pergulatan yang sama. Lewat para penari Wawan Lukas, Arief Win, Patria, Supriyati, dan Paminto sendiri, ''Gerak Lumpur'' merupakan pembacaan kreatif terhadap lumpur sebagai cermin kehidupan. Pertunjukan itu relatif bisa berkomunikasi dengan penonton, yang memadati sisi luar arena pertunjukan. Paling tidak, mereka bisa menangkap visualisasi gerak atau simbolisasi ritual yang dimunculkan dalam pertunjukan itu. Terlebih dengan ilustrasi musik oleh Yoyok cs yang memberikan dukungan yang cukup pada artistik pertunjukan. Sayangnya, Paminto memunculkan gerak alusan, nyaris slow motion hampir pada sepenuh waktu pertunjukannya. Entah mengapa, tak muncul sekalipun gerak-gerak kejut yang mungkin akan memberikan efek artistik yang lebih kuat pada penonton. Selain gerak tari itu, refleksi diwarnai dengan pertunjukan teater, pembacaan puisi dan geguritan, serta pemutaran film pendek. Nyaris semua pertunjukan yang digelar malam itu, merespons langsung pada arena lumpur yang tersedia. Membaca Peradaban ''Menilik proses tanah menjadi lumpur seperti membaca jejak peradaban. Dari lumpur di desa, kita bisa melihat perilaku budaya manusia atau masyarakat. Begitu juga dari lumpur di kota,'' ujar Muji Konde, koordinator acara. Mereka memulai aktivitasnya dengan ritual pengambilan lumpur di Dusun Dersone Branjangan, pertengahan Desember 2004. Dari dusun di lereng Gunung Ungaran itu mereka mengambil tanah yang menyimbolkan kosa budaya masyarakat kampung. Kurang lebih seminggu kemudian, prosesi serupa dilakukan di Kali Berok yang merepresentasikan entitas perkotaan. Berselang beberapa hari, kembali ritual pengambilan lumpur dilakukan di Tanah Mas, mewakili pesisir pantai. Lantas, lumpur di gunung, kota, dan pantai itu disatukan. ''Betapa dari ketiga tempat itu akan sangat jauh berbeda materi yang dikandungnya.'' Ya, dari lumpur para seniman Paramesthi mengaca perjalanan sebuah peradaban. Dari lumpur, mereka mencoba mendedah lebih dalam pada kehidupan manusia. Asal jangan, kalau buruk peradaban, si lumpur yang terkena tendang.... (Achiar M Permana-81) |