logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 05 Januari 2005 BANYUMAS
Line

Duka Mahasiswa Aceh di Unsoed

''Kami Butuh Informasi soal Keluarga"

TUMPUKAN karung plastik berisi pakaian pantas pakai terserak di teras asrama Paguyuban Mahasiswa Asal Transmigran (PMAT) di Jalan Gunung Muria, Grendeng, Purwokerto. Sesaat kemudian bocah perempuan seusia taman kanak-kanak (TK) datang membawa celengan plastik.

''Ini untuk membantu Mas,'' tutur bocah itu kepada seorang mahasiswa asal Aceh yang tinggal di asrama tersebut.

Para mahasiswa asal Aceh itu sangat terenyuh. Muhamad Zamzari, mahasiswa Unsoed, yang berasal dari Jalan Teuku Umar Lorong Kelinci Gang Nurul Iman Nomor 5, Kelurahan Setui, Kecamatan Baiturahman, Kota Banda Aceh, mengakui korban gempa dan tsunami sangat membutuhkan bantuan.

Saat ini para mahasiswa itu mersakan duka mendalam. Mereka kehilangan kontak dengan anggota keluarga masing-masing.

''Kami sangat membutuhkan informasi tentang keluarga di Aceh. Kami tak bisa berkomunikasi. Kami tak tahu bagaimana kondisi keluarga di rumah,'' tutur Supriyadi Yanto, mahasiswa semester I Fakultas Peternakan Unsoed.

Bebas SPP

Dia kuliah bersama kakaknya, Musriyadi, yang diterima di Fakultas Pertanian. Mereka berasal dari Desa Jatirejo Blok 7, Kecamatan Kuala, Kabupaten Nagam Raya. Rumah orang tua mereka, Yasmudi dan Sutinem, hanya sekitar 1 km dari pantai.

Selain Zamzari, Musriyadi, dan Supriyadi, ada beberapa mahasiswa lain asal Aceh yang diterima di Unsoed melalui program penjaringan siswa berpotensi daerah transmigrasi (PPSBDT) tahun 2004. Mereka adalah Evi Rahmawati (D3 Bisnis Internasional) dan Taufiq Oktaviandi (Teknik Sipil).

Musriyadi menuturkan sejak meninggalkan Aceh baru sekali mengontak keluarga, yakni kali pertama tiba di Purwokerto, September 2004. Mereka, sebagian alumni SMA 8 Banda Aceh, tak pernah lagi mengontak keluarga sampai terjadi malapetaka sangat dahsyat. Sejak mendengar berita ada gempa dan tsunami yang menelan korban puluhan ribu jiwa, mereka tak tahu nasib keluarga masing-masing.

''Kami pernah mengontak anggota DPRD Banda Aceh. Namun dia pun tak tahu kondisi keluarga kami karena dia berada di rumah terus. Di luar hanya mayat bergelimpangan. Aparat keamanan yang dimintai tolong sibuk mengevakuasi korban,'' tutur Zamsari.

Mereka pun bingung memikirkan nasib masing-masing. Unsoed memang membebaskan mereka dari kewajiban membayar SPP. ''Cuma kami belum tahu sampai kapan dibebaskan membayar SPP. Keinginan kami sampai kuliah selesai,'' tutur Musriyadi.

Untuk menopang hidup sehari-hari, kata dia, ada dermawan menyumbang. ''Kami di sini kecil-kecil juga usaha lewat koperasi PMAT. Kami menjual barang kebutuhan sehari-hari. Keuntungannya untuk kepentingan bersama,'' imbuh Supriyadi.

Zamsari, Musriyadi, dan Supriyadi bertekad menyelesaikan studi, meski dalam suasana keprihatinan. ''Kami ingin menimba ilmu. Setelah lulus kami akan memanfaatkan ilmu untuk membangun Aceh.'' (Sigit Oediarto-86)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA