| Rabu, 05 Januari 2005 | BANYUMAS |
Usaha Dikendalikan dari Sebuah KamarKAMPUNG Kecepit, Kelurahan Purbalingga Lor, Kecamatan Purbalingga Kota, selama ini tak dikenal banyak orang. Namun kampung itu kini didatangi banyak nasabah CV Investindo dan CV Berlian Artha Sejahtera yang berkantor di tempat tersebut. Jalan masuk ke kampung itu cuma selebar 1 m dan hanya cukup dilewati sepeda motor. Namun dana ratusan miliar rupiah pernah menyinggapi sebuah rumah di RT 1 RW 3 yang disulap menjadi kantor. Uang itu milik nasabah yang ingin menikmati jasa antara 5% dan 10% dari dana yang diinvestasikan. Besar uang jasa itu tergantung pada dana yang disimpan. Makin besar dana yang disimpan, jasa yang diberikan kian tinggi. Untuk dana antara Rp 10 juta dan Rp 20 juta memperoleh pengembalian jasa 5%, Rp 20 juta-Rp 30 juta 7,5%, dan di atas Rp 30 juta 10%. Melihat iming-iming itu, nasabah pun menghimpun dana secara kelompok agar bisa menikmati jasa 10% per bulan. Setiap kelompok mempunyai seorang koordinator yang biasanya berkedudukan di kecamatan atau kantor. Selain menghimpun dana investasi, perusahaan itu menyelenggarakan arisan motor. Banyak PNS jadi nasabah dengan modal pinjaman ke bank antara Rp 20 juta dan Rp 30 juta. Dengan menitipkan uang ke CV itu, mereka berharap menikmati uang jasa 8%. Jepang dan Hong Kong Nasabah lain yang menyimpan ratusan juta rupiah tetapi tak bisa menarik kembali dananya menuturkan, memperoleh penjelasan uang nasabah ditanamkan kembali di luar negeri. Misalnya, di perusahaan Nikkei Jepang dan Han Seng Hong Kong. Dana itu diputar di bursa komoditas perdagangan dengan penyerahan kemudian (future trading). ''Apakah perusahaan itu ada atau tidak, saya kurang paham,'' ujar warga Kemangkon itu. Nasabah yang jeli semestinya tak perlu kehilangan uang ratusan juta rupiah. Karena, melihat kantor perusahaan yang sangat sederhana sulit dipercaya bisa mengelola uang ratusan miliar. Ruangan kantor adalah kamar berukuran 3 x 3 m. Di dalam kamar itu ada satu meja ukuran setengah biro dan tiga unit komputer. Sebuah lemari penyimpan arsip dari plastik berada di pojok ruangan. November lalu mereka mengumumkan penarikan arisan sepeda motor periode 11-31 November diundur, karena menjelang Lebaran sulit menarik uang dari bank. Penarikan rata-rata ditunda 12 hari. Akhir Desember ada lagi pengumuman menjelang tutup tahun bahwa dana yang jatuh tempo dibayarkan pada 3 Januari 2005. Namun sampai kemarin dana itu belum cair. Pada 2 Januari para koordinator mengadakan rapat koordinasi langkah penyelamatan. Hasilnya antara lain untuk mengatasi kemacetan, koordinator bersama perusahaan akan melakukan perdagangan dengan modal awal sendiri dan dijalankan Indra Bassun ST. Hasil usaha dengan modal dari para koordinator itu untuk menutup penghasilan para nasabah dan memenuhi arisan motor yang berjalan. Penghasilan akan dibayarkan ke investor pertengahan Januari ini. Mereka meminta investor tak buru-buru mengambil modal. Jika kontraktor memenuhi hasil nasabah, modal investor yang sudah habis kontrak akan dikembalikan. Aturan yang baru dimulai sejak bulan Januari itu melalui Koperasi Artha Kencana. Untuk investor baru, investasi minimal Rp 70 juta dengan penghasilan 7,5%. Pengambilan keuntungan dilakukan tiga kali sebulan. Adapun masa kontrak tetap setiap empat bulan, tanpa bonus. Pendaftaran hanya diterima melalui koordinator. (Didi Wahyu-86) |