| Kamis, 06 Januari 2005 | SEMARANG |
Harga Susu Rendah, Peternak ResahUNGARAN - Harga susu yang rendah di tingkat petani selama ini, membuat Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Semarang prihatin. Segala cara yang dilakukan untuk mendongkrak harga seperti peningkatan kualitas dan pembinaan tampaknya kurang tepat sasaran. Kenyataan itu membuat ribuan peternak sapi perah di Kabupaten Ungaran mengeluh. Padahal beberapa waktu lalu, karyawan dari 5 KUD persusuan telah diberi pelatihan di Balai Besar Veteriner Yogyakarta. Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnak) Ir Bambang Tri Wahono MM didampingi Kasubdin Kesehatan Hewan dokter hewan Bambang Sutrisno mengatakan, banyak faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya harga susu. "Kami prihatin dengan rendahnya harga susu di tingkat petani," kata Bambang Tri Wahono, Rabu (5/1). Dalam waktu dekat ini, Pemkab melalui Dinas Peternakan dan Perikanan memberi bantuan milk can atau semacam tempat menampung susu. Bila sebagian peternak selama ini masih ada yang menggunakan ember, maka dengan bantuan milk can diharapkan susu yang telah diperah bisa terjaga kualitasnya. Sekadar catatan, harga susu per liter yang diterima petani melalui KUD yang menginduk ke GKSI (Gabungan Koperasi Susu Indonesia) Rp 1.200. Sementara harga di tingkat kelompok antara Rp 1.300/l dan Rp 1.350/l. Di Kabupaten Semarang terdapat lima KUD persusuan yang menginduk pada GKSI Jateng di Boyolali. Sementara 1 koperasi, yakni KSU Andini Luhur di Desa Jetak, Kecamatan Getasan yang diketuai Agus Warsito berdiri sendiri. Harga di tingkat petani melalui Andini Luhur mencapai sekitar Rp 1.350/liter sedangkan di tingkat kelompok antara Rp 1.400 hingga Rp 1.450/liter. Harga tersebut lebih tinggi dibanding dengan harga yang dipatok oleh KUD yang menginduk pada GKSI. "Harga susu di koperasi kami lebih tinggi karena kualitasnya juga baik. Total Solid-nya tinggi, mencapai angka 11,8 dan angka kuman rendah yakni di bawah satu juta /cc, " kata Agus Warsito. Kualitas susu sapi tersebut, kata Bambang Sutrisno, sangat dipengaruhi oleh faktor pakan dan lingkungan kesehatan ternak. "Selama ini mayoritas peternak sapi perah masih menggunakan sistim tradisional. Tapi, bila nanti sudah menggunakan sistim koloni, kualitas susu yang dihasilkan bisa lebih terjamin," jelasnya. (rny-73m) |