| Kamis, 06 Januari 2005 | SEMARANG |
''Menulis Tak Ubahnya Berkreasi dengan Otak''SEMARANG - Menulis tidak ubahnya seperti berkreasi dengan otak. Jika otak tidak berfungsi dengan baik, maka proses kreativitasnya juga terganggu. Sebab, untuk bisa menghasilkan tulisan yang baik, seseorang harus memiliki otak yang cerdas dan jernih. Demikian dipaparkan Redaktur Suara Merdeka Dra Hj Humaini As dalam pelatihan penulisan artikel ilmiah populer yang digelar Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Unnes di Kampus Sekaran, Gunungpati, Rabu (5/1). Pelatihan itu digelar selama dua hari dan diikuti oleh 30 dosen dari pelbagai jurusan yang ada di Unnes. Selain Humaini, materi pelatihan disampaikan Drs Muhammad Ali (Suara Merdeka) dan Agus Erma Surya (Wawasan). ''Tulisan yang bagus bisa diolah dari ide yang bagus, dan ide bagus itu hanya bisa muncul jika otak kita berada dalam situasi optimal,'' papar Humaini. Ide tulisan, kata dia, bisa berasal dari pengalaman pribadi atau orang lain. Lantas, ide itu diolah menjadi tulisan dengan dukungan data, referensi, atau hal-hal lain yang diperlukan untuk kesempurnaan sebuah tulisan. Selain itu, Humaini juga menguraikan arti penting kerangka untuk bisa membentuk sebuah tulisan yang bagus. Kerangka diperlukan sebagai pedoman untuk menentukan arah tulisan, sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Dari kerangka itu, seorang penulis bisa menyampaikan penjelasan logis, terarah, dan mudah diterima oleh pembaca. ''Lazimnya, sebuah tulisan, diawali dengan intro atau pembukaan sebagai langkah memasuki persoalan yang akan dibahas,'' katanya. Keterbatasan Ruang Baru sesudah itu, tulisan bisa digulirkan ke bahasan yang sesungguhnya dengan menampilkan data, fakta, dan analisis yang perlu disampaikan. Dia menyatakan, banyaknya permasalahan yang perlu dibahas acap kali memaksa seorang penulis untuk memutus pembahasan agar lebih terfokus. Hal itu sangat penting terkait dengan jumlah karakter dan keterbatasan space yang tersedia di setiap media. Kalau memang dianggap telah memadai, tandas Humaini, tubuh tulisan bisa segera diakhiri dengan sebuah simpulan atau penutup. Penutup atau ending itu bisa berupa rekomendasi, pertanyaan, harapan, atau pesan yang sesuai dengan keinginan penulis sejak awal. Dalam pelatihan itu, Humaini banyak memperoleh pertanyaan dari para peserta pelatihan. Pertanyaan itu terutama berkisar tentang cara menulis, kriteria sebuah tulisan bagus, serta kiat-kiat menembus media massa. ''Harapan kami, seusai pelatihan para dosen bisa mulai menulis dan bisa mengirimkannya pada media massa,'' kata M Mustofa, ketua panitia. (amp-73m) |