| Kamis, 06 Januari 2005 | SEMARANG |
Muatan Lokal Bahasa Jawa Disetujui 3 Gubernur
SEMARANG - Berkaitan pdengan pemberlakuan pelajaran Bahasa Jawa sebagai muatan lokal (mulok) di SMA, Provinsi DI Yogyakarta selangkah lebih maju daripada Jawa Tengah. Di provinsi itu, mulok Bahasa Jawa untuk SMA resmi diberlakukan pada tahun pelajaran 2005/2006. Sebelumnya, mulai 2003/2004 telah dilakukan uji coba di beberapa SMA terkait dengan rencana tersebut. Dosen Jurusan Bahasa Jawa FBS Universitas Negeri Yogyakarta Drs Suwardi Endraswara MHum mengatakan, penerapan mulok Bahasa Jawa itu ditetapkan berdasarkan Perda Bahasa dan Aksara Jawa. Perda yang penyusunannya melibatkan UNY, UGM, dan masukan dari sanggar-sanggar budaya Jawa itu sudah diteken oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X dan DPRD. ''Sesuai dengan amanat tiga Kongres Bahasa Jawa, pembelajaran Bahasa Jawa sebagai mulok dimulai dari tingkat SD hingga perguruan tinggi. Amanat itu telah di-acc oleh tiga gubernur, yakni DIY, Jateng, dan Jatim,'' kata Suwardi, Rabu (5/1). Sekadar untuk diketahui, Kongres Bahasa Jawa I dilaksanakan pada 1991 di Semarang, Kongres II 1996 di Malang, dan Kongres III 2001 di Yogyakarta. Rencananya, Kongres IV akan digelar pada 2006 di Jateng. Suwardi memaparkan, persiapan pelaksanaan mulok di Yogyakarta dimulai dengan mengadakan penataran bagi para calon guru pengampunya. Guru yang ditatar ditunjuk oleh pihak sekolah, dari guru pelajaran lain yang memiliki pengetahuan dan keterampilan dasar terkait dengan sastra dan budaya Jawa. Hingga proses penerimaan guru Bahasa Jawa dilakukan, merekalah yang akan mengampu pelajaran itu di sekolah. Pada saat yang sama dilakukan penyusunan kurikulum mulok tersebut. Penataran guru pengampu dan penyusunan kurikulum dilakukan UNY dan Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS). ''Saya dan teman-teman dari UNY harus mempersiapkan dari A sampai Z terkait dengan mulok Bahasa Jawa untuk SMA di Yogyakarta,'' kata dia. Dalam penataran itu, para guru memperoleh wawasan tentang landasan filosofi pembelajaran bahasa Jawa di SMA, strategi dan metode pembelajaran, pengembangan materi serta mendapatkan draf buku ajar. Mereka juga melakukan diskusi untuk pendalaman serta microteaching (praktik mengajar). Selanjutnya untuk tahap awal, dilakukan uji coba di sejumlah SMA. Dari tiap-tiap kabupaten/kota ditunjuk lebih kurang 10 SMA negeri/swasta sebagai pilot project pelaksanaan mulok. Di sekolah itu, pelajaran Bahasa Jawa diberikan 2 jam pelajaran per minggu. Itu pun hanya diberikan pada kelas I dan II. ''Kalau diterapkan hingga kelas III, para kepala sekolah berkeberatan. Sebab, bisa jadi akan memberatkan siswa yang harus berkonsentrasi menghadapi ujian akhir,'' tambahnya. Sejauh ini, lanjut Suwardi, respons siswa dan sekolah cukup baik dalam menanggapi uji coba itu. Sebagian besar siswa merasakan manfaat pembelajaran Bahasa Jawa yang mereka terima sebagai bentuk pemahaman pada budaya bangsa. Materi Kontekstual Respons bagus itu, kata Suwardi, tidak terlepas dari materi dan metode pembelajaran yang digunakan. Agar pelajaran Bahasa Jawa tidak membebani siswa, materi yang diberikan tidak melulu pada hafalan, melainkan materi-materi kontekstual. Adapun metode pembelajarannya diupayakan bersifat praktis, interaktif, dan melibatkan para siswa. ''Materi-materi yang diberikan misalnya cerita cekak (cerkak), geguritan, atau artikel tentang persoalan kekinian bahasa Jawa yang ada di Sang Pamomong Suara Merdeka atau Mekarsari yang ada di koran terbitan Yogyakarta,'' papar dia. Selain itu, diberikan juga materi yang bersumber dari kehidupan sehari-hari siswa seperti campursari atau karawitan. Adapun materi-materi hapalan semacam tata bahasa, nama-nama bunga, atau hewan dalam bahasa Jawa, dan semacamnya dikemas untuk masuk secara implisit dalam wacana yang diajarkan. Materi Bahasa Jawa lebih ditekankan pada penguasaan budaya, sastra, dan kesenian Jawa. Materi-materi itu disampaikan dalam satu bentuk pembelajaran yang bersifat praktis dengan mengedepankan penguasaan lifeskill siswa. Sesuai dengan semangat Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), pembelajaran ditekankan pada penguasaan siswa terhadap keterampilan berbahasa, dari mendengarkan, membaca, berbicara, sampai menulis. ''Misalnya, siswa langsung diajak untuk menulis cerkak atau geguritan, dan disalurkan ke media yang bisa memuatnya. Atau kalau dalam pelajaran gending, paling tidak, siswa bisa memainkan gending-gending lancaran. Tentu saja, dengan memperhatikan kondisi sekolah masing-masing.'' (amp-73n) |