| Kamis, 06 Januari 2005 | SEMARANG |
Jalur KA Semarang-Rembang Ditutup karena Merugi
SEMARANG-Sebagian besar jalur kereta api (KA) dari Semarang ke arah timur, saat ini tidak dioperasikan. Dokumen jarak singkat angkutan kereta api di Jawa, Madura, dan Sumatera menyebutkan, selain jalur Semarang-Rembang sejauh 110 km, sejumlah jalur lain, seperti Rembang-Blora-Cepu, Demak-Blora sejauh 100 km, serta Lasem-Bojonegoro juga ditutup. PT Kereta Api (Persero) menutup jalur-jalur itu, karena terus merugi. Humas Daop IV PT Kereta Api (Persero) Suprapto mengungkapkan, jalur KA Semarang-Rembang lewat Demak ditutup, karena kalah bersaing dengan moda transportasi jalan. Pada awal tahun 1980-an, pembangunan jalan dilakukan secara besar-besaran bersamaan dengan maraknya angkutan jalan. Kereta diesel Semarang-Rembang yang hanya dapat dioperasikan dengan kecepatan sekitar 35 km/jam kalah bersaing dengan angkutan jalan yang melaju lebih cepat. ''Karena terus merugi, sejumlah jalur yang dianggap kurang produktif akhirnya ditutup,'' katanya. Meski sarana kereta api, seperti rel, perlintasan, dan stasiun dimiliki pemerintah, selama ini tanggung jawab pemeliharaan dibebankan kepada PT Kereta Api (Persero). Di lain pihak, pendapatan dari operasional kereta pada jalur itu tidak cukup untuk menutup biaya pemeliharaan. Menurut Suprapto, meski sudah ditutup, aset-aset kereta api seperti rel, stasiun, atau perlintasan dapat dimanfaatkan kembali. Jika jalur hendak dihidupkan kembali, maka aset kereta api dapat dibuka. Namun dia mengakui tidak mudah membuka kembali jalur yang sudah ditutup. Ada kecenderungan, daerah yang sudah ditutup dimanfaatkan untuk kepentingan lain. ''Seandainya jalur Ambarawa-Tuntang tidak dibuka kembali, kerusakan pada jalur itu kemungkinan akan lebih parah. Meski pada kanan-kiri jalur banyak dihuni warga, jalur itu dapat dibersihkan kembali dengan berbagai pendekatan kepada warga,'' ujarnya mencontohkan. Meski memiliki data kekayaan aset, pihak Daop IV PT Kereta Api (Persero) mengaku kesulitan mendata kondisi aset saat ini. Pasalnya, sejumlah aset seperti rel kini telah tertutup jalan raya, rusak, atau hilang. Bahkan beberapa jembatan dan stasiun perhentian juga telah dirobohkan. Sementara itu, Sekretaris Program Magister Lingkungan Perkotaan (PMLP) Unika Soegijapranata, Tjahjono Rahardjo mengungkapkan, dulu sepanjang Semarang-Juana ditangani perusahaan kereta api swasta Belanda bernama Semarang-Joana Stoomtkan Mij. Pada perkembangannya, jalur Semarang-Joana diperpanjang hingga ke Lasem sampai Cepu. Menurut Tjahjono, kala itu jalur Semarang-Lasem hingga Cepu dilalui kereta kecil (trem) yang menghubungkan antarkota. Jalur trem yang dibangun di samping jalan raya itu berfungsi untuk mengangkut hasil-hasil bumi, seperti minyak bumi, kayu, gula, serta penumpang manusia. ''Dalam sejarah perkeretaapian, trem biasanya digunakan di dalam kota. Karena itu, jika ada trem yang menghubungkan antarkota, maka trem dibangun di tepi jalan raya,''katanya. Tjahjono membenarkan, penutupan sejumlah jalur dilakukan dengan alasan ekonomis. Namun saat ini, keadaan sudah berubah. Kondisi jalan Semarang-Demak sudah termasuk jenuh, sehingga perlu dipikirkan moda transportasi lain. Jika jalur Semarang-Rembang hendak diwujudkan, dia mengusulkan agar desain kereta dibuat berbeda dengan desain zaman dulu. ''Spesifikasi rel atau jenis keretanya mungkin perlu diganti dengan spesifikasi yang lebih modern,'' katanya. (H5-64) |