logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 06 Januari 2005 SEMARANG
Line

Bentuk Badan Fasilitator

MENGHADAPI konflik buruh tentu butuh kelihaian dan cara yang tepat. Untuk mengantisipasinya tentu bukan pekerjaan enteng, apalagi kalau sudah terkait upah. Sebagai kepala pengelola Kawasan Berikat Industri Tugu Wijayakusuma, Ridwan Sastra nampaknya tahu betul apa yang harus dilakukan.

Terlebih lagi jika ada konflik, seperti yang menimpa PT Audio Sumitomo Techno (AST) beberapa waktu silam. ''Saya sangat prihatin dengan keadaan itu, apalagi saat ini semua buruh perusahaan tersebut kehilangan pekerjaan,'' katanya ketika ditemui Suara Merdeka di kantornya.

Untuk mencegah kejadian serupa terulang lagi, saat ini pihaknya berencana membentuk badan fasilitator bagi para buruh dan pejabat perusahaan di kawasan itu. ''Jadi jika ada masalah antara buruh dan perusahaan yang tidak bisa diselesaikan secara internal, kami sebagai pihak yang netral siap membantu,'' papar dia.

Aksi demo, menurut Ridwan adalah opsi terakhir. ''Unjuk rasa tidak akan menyelesaikan masalah, kedua belah pihak akan dirugikan,'' tukas dia.

Ridwan juga meminta Pemkot Semarang maupun Provinsi Jateng menaruh perhatian lebih pada masalah tersebut.

''Bukankah salah satu tugas pemerintah, mengurangi pengangguran? Keadaan yang menimpa pekerja PT AST jelas menambah jumlah pengangguran,'' tegasnya.

Buruh, lanjut Ridwan adalah aset negara, sehingga harus dilindungi dan bukan hanya untuk lips service saja. Pihaknya amat menyayangkan sikap pemerintah yang tidak responsif atas kejadian tersebut. ''Kasihan para buruh itu, mereka juga punya keluarga yang harus dinafkahi,'' imbuh dia.

Kejadian itu lanjut Ridwan, sedikit banyak mempengaruhi investor yang berencana menanamkan modalnya di kawasan Industri Tugu. ''Beberapa pengusaha bimbang, padahal Memorandum of Understanding (MOU) sudah ditandatangani,'' papar dia.

Menurut dia, selama ini buruh di Jateng dikenal sebagai pekerja yang kondusif. ''Itu merupakan salah satu daya tarik penanam modal asing untuk investasi di sini,'' ujarnya.

Untuk itu, dia mengharapkan kepada para buruh dan menajemen perusahaan di Jateng agar saling menahan diri. ''Jangan terbawa emosi dalam menyelesaikan masalah agar tidak timbul penyesalan.''

Dalam waktu dekat, Kawasan Indusrti Tugu Wijawakusuma akan membuka pelatihan meningkatkan keterampilan calon pelamar. ''Kebetulan kami mendapatkan hibah mesin jahit dari Perusahaan Daewoo Korea. Jadi jika sewaktu-waktu ada perusahaan yang membutuhkan penjahit, kami siap menyalurkan,'' urai dia. (nrs-64)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA