logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 06 Januari 2005 EKONOMI
Line

Rupiah Menunggu ''Berkah'' Bencana Tsunami

SEBELUM tsunami meluluhlantakkan Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara 26 Desember lalu sebenarnya indikator makro ekonomi Indonesia cukup positif.

Inflasi terkendali rata-rata hanya mencapai 5,31%, sedangkan tingkat inflasi year-on-year (November 2004 terhadap November 2003) sebesar 6,18%.

Kondisi tersebut menciptakan optimisme bahwa pertumbuhan ekonomi akan mencapai target 4,8%. Apalagi suku bunga bunga rendah. Walaupun masih fluktuatif, cukup mampu menggerakkan dunia usaha.

Perkembangan ekspor juga menggembirakan. Pada Oktober 2004 nilainya mencapai 7,267 miliar dolar AS atau naik 1,26% dari bulan sebelumnya.

Di sisi lain, nilai impor Oktober mencapai 4,32 miliar dolar AS sehingga terjadi surplus perdagangan sebesar 2,847 miliar dolar AS.

Sampai akhir November 2004 kegiatan ekonomi menunjukkan peningkatan. Bank-bank mulai menambah penyaluran kredit.

Hal itu terlihat pada peningkatan loan to deposit ratio (LDR) atau rasio pinjaman dan simpanan perbankan yang rata-rata mencapai 50%. Meski kegiatan ekonomi meningkat, tekanan terhadap inflasi tidak meningkat.

Kini setelah tsunami menghajar belum diketahui dampak ekonominya secara nasional. Namun secara makro, terutama terkait dengan pembayaran utang luar negeri, tentu menjadi sedikit terganggu. Rehabilitasi di daerah yang terkena bencana gelombang air laut akibat gempa yang bisa menghabiskan dana belasan triliun rupiah mengharuskan pemerintah melakukan penundaan pembayaran utang. Bahkan mengusahakan penghapusan.

Namun Indonesia bisa kesulitan untuk memperoleh penghapusan utang karena saat ini posisi utang sudah berada di bawah 60% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka itu jauh lebih baik dibandingkan dengan negara lain, misalnya Filipina.

Ekonom yang menjadi anggota Komisi XI DPR, Dradjad H Wibowo, menghitung saat ini total utang luar negeri Indonesia mencapai 67 miliar dolar AS atau sekitar Rp 600 triliun. Angka itu belum termasuk utang dalam negeri pemerintah dari penerbitan obligasi negara.

Tingkat utang luar negeri jangka panjang Indonesia tahun 1996 mencapai 57% dari PDB dan pernah melonjak menjadi 113% pada saat krisis ekonomi, lalu turun menjadi sekitar 71% pada 2002.

Berdasarkan kenyataan itu bisa saja upaya pemerintah mendapatkan penghapusan utang melalui Paris Club gagal. Saat ini yang ditunggu Pemerintah Indonesia adalah pernyataan resmi dari Paris Club yang akan bersidang 12 Januari.

Tetapi salah satu indikator ekonomi yang menunjukkan kejanggalan adalah pergerakan rupiah. Tidak sebagaimana mata uang regional lainnya yang menguat terhadap dolar AS, rupiah tampak tertatih-tatih dan kelelahan menghadapi tekanan dolar AS.

Pergerakan cenderung fluktuatif atau stagnan di kisaran Rp 9.200/dolar AS. Rupiah tertekan tatkala dolar AS di pasar global mengalami tekanan hebat terhadap euro, yen, dan mata uang lainnya.

Rupiah kelihatan begitu sulit menguat ke level di bawah Rp 9.000/dolar AS. Setiap menyentuh Rp 9.000/dolar AS tak lama kemudian kembali lunglai.

Pelemahan dolar AS harusnya menjadi momentum yang sangat positif bagi Bank Indonesia (BI) untuk mendorong rupiah menguat.

''Semestinya pelemahan dolar AS di pasar internasional menjadi momentum tepat untuk penguatan rupiah. Tapi BI seperti membiarkan saja pada mekanisme pasar,'' ungkap Farial Anwar, praktisi pasar valuta asing.

Menurut Farial, pergerakan rupiah yang stagnan dan cenderung tertekan terutama karena faktor dalam negeri.

Tak Berdampak

Angger P Juwono, senior adviser Watson Wyat Worldwide, mengatakan kemelemahan dolar AS terhadap euro dan mata uang lain tak berdampak sama terhadap rupiah.

Rupiah justru tertinggal dibandingkan dengan mata uang Asia yang lain. Kalau dibandingkan dengan emerging countries atau negara berkembang, Indonesia dan Filipina tertinggal.

Mata uang lain menguat, tetapi mata uang kedua negara itu malah tertekan. Ketertekanan rupiah mau tak mau berpengaruh pada perekonomian Indonesia tahun 2005.

Apalagi kalau tren sebagaimana 2004 berlanjut. Menjelang akhir tahun banyak pelaku pasar mengambil kesempatan membeli dolar AS dan membuat rupiah melemah dalam dua pekan ini.

''Kelihatan peluang untuk menguat di bawah Rp 9.000/dolar AS masih kecil. Sentimen pasar terhadap rupiah juga cenderung negatif, dalam arti mind set orang tertuju untuk membeli dolar AS karena memang demand terhadap dolar AS tergolong besar. Ini juga diikuti oleh antisipasi dan spekulasi yang memanfaatkan kondisi,'' jelas Angger.

Berdasarkan data sepanjang 2004 ada beberapa faktor yang memengaruhi pelemahan rupiah. Pertama, permintaan terhadap dolar AS dari korporasi masih tinggi untuk membayar utang, membeli raw material impor, atau membeli mesin-mesin.

Ketika ekspor Indonesia naik seharusnya berdampak positif terhadap rupiah karena ada valuta asing yang masuk. Namun itu tidak terjadi karena hasil ekspor tersebut tidak langsung dimasukkan ke dalam sistem perbankan dalam negeri, melainkan diparkir di luar negeri.

Faktor kedua adalah masih ada kekhawatiran terhadap inflasi yang diperkirakan naik pada akhir 2004 dan awal tahun ini karena masyarakat mengantisipasi kenaikan harga BBM. Bila inflasi naik maka rupiah akan tertekan.

BI memutuskan mempertahankan kebijakan moneter yang cenderung ketat dengan menyerap likuiditas secara optimal. Selain itu, memonitor secara seksama faktor-faktor risiko yang dapat memengaruhi perkiraan ekonomi ke depan, terutama menyangkut ketidakpastian harga minyak.

Ada dealer yang melihat rupiah akan bergerak di atas Rp 9.000/dolar AS. Level itu masih menjadi kisaran yang aman bagi rupiah dalam kondisi ekonomi ssat ini.

Untuk mendorong rupiah menguat di bawah Rp 9.000/dolar AS diperlukan trigger atau pemicu yang sangat kuat, misalnya pasokan dolar AS ke pasar oleh BI yang tentu tidak mudah dilakukan karena bisa menguras devisa.

Sementara itu suku bunga benchmark Sertifikat Bank Indonesia (BI) masih berada pada level rendah, walau dalam lelang terakhir naik tipis ke level 7,43% dari 7,41% sebelumnya.

Federal Reserve (The Fed), bank sentral AS sudah menaikan suku bunganya. Namun ada kemungkinan kembali menaikkan untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi negeri adidaya itu.

Suku bunga di Indonesia dipertahankan di bawah 7,5% mengingat perbankan masih mengalami ekses likuiditas.

Dengan demikian tak ada alasan kuat bagi BI untuk menaikkan suku bunga. Selain itu, inflasi masih terkendali sehingga suku bunga efektif masih cukup menarik.

Kini masalahnya tinggal bagaimana mengelola krisis yang melanda Aceh dan Sumatera Utara. Jika pengerahan kekuatan ekonomi tidak memengaruhi cash flow dana pemerintah maka tidak akan menjadi masalah.

Bahkan tsunami bisa menjadi ''berkah'', yakni ada perhatian dan bantuan dunia yang mengalir, termasuk kemungkinan pemotongan atau bahkan penghapusan sebagian utang luar negeri.

Kegagalan mengurus Aceh jelas menjadi kegalauan kita semua, termasuk dunia usaha. Bukan hanya bencana itu yang ditakutkan oleh banyak pihak saat ini, tetapi juga bagaimana penanangan pascabencana. Kalau penanganannya dianggap gagal maka akan langsung melahirkan sentimen negatif. Ujung-ujungnya rupiah makin tertekan! (Wahyu Atmaji-53)

Kinerja Makro Ekonomi 2004

Inflasi Rata-rata (November) 5,31%
Inflasi Year-on-Year 6,18%.
Nilai Ekspor Januari- Oktober 58,5 Miliar Dolar AS
LDR Perbankan Rata-rata 50%
Total Utang Luar Negeri 67 Miliar Dolar AS
Kisaran Kurs Rupiah Rp 9.200/Dolar AS

Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA