| Kamis, 06 Januari 2005 | EKONOMI |
Biaya Operasional Ekspor Terus NaikSEMARANG-Biaya operasional pengiriman produk ke luar negeri atau ekspor terus naik. Dua tahun terakhir biaya lokal dan global telah meningkat 100% hingga sekarang. Kenaikan itu terutama dipengaruhi oleh lonjakan harga minyak dunia, rencana kenaikan harga BBM, serta tarif premi asuransi yang dikenakan bagi pengekspor. ''Hampir semua biaya operasional meningkat, antara lain jasa bongkar-muat barang. Tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri,'' ungkap Luigi Ribero, Ketua Asosiasi Penanaman Modal Asing (PMA) Jateng, kemarin. Pembengkakan biaya itu, lanjut dia, merupakan akumulasi. Perhitungan biaya yang pada alur operasional lokal menggelembung masih harus ditambah biaya yang dikeluarkan di pelabuhan luar negeri sampai negara tujuan. ''Akibatnya, saat ini para pengusaha terpaksa menambah anggaran dari jumlah yang biasa dikeluarkan,'' jelasnya. Kenaikan biaya itu, menurut dia, terjadi secara bertahap. Persentasenya bervariasi 6%-8%. Dicontohkan tarif menaikkan atau menurunkan barang saat ini 25 dolar AS. ''Secara keseluruhan kenaikan itu bisa mencapai 6,5% dari total biaya operasional,'' tambah pengusaha mebel asal Italia itu. Namun, meski biaya membengkak, ujar dia, angka permintaan ekspor ternyata meningkat. Saat ini proporsi permintaan bisa mencapai 30% dibandingkan dengan beberapa bulan lalu. Jumlah itu cukup membuka peluang bagi pengusaha untuk menggenjot pasar. Sektor Mebel Tetapi, kata dia, sektor mebel tampak tak cukup mampu memanfaatkan peluang tersebut. Banyak permintaan yang tak bisa dipenuhi karena terganjal sejumlah kendala. ''Sebagian perusahaan tidak mampu memproduksi lebih karena kekurangan bahan baku atau karena kebetulan perusahaannya mengurangi produksi. Tahun lalu banyak perusahaan mebel yang tutup atau terancam bangkrut,'' ungkapnya. Meski Pemerintah Provinsi Jateng dan Asosiasi Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) telah membangun terminal kayu untuk memenuhi kebutuhan bahan baku, kondisi fasilitas itu belum maksimal pada saat ini. ''Karena itu, banyak pengusaha yang terpaksa masih berburu bahan baku sendiri ke luar Jawa, misalnya Kalimantan,'' kata Luigi Ribero. Sementara itu ia mengatakan lalu lintas ekspor tidak terganggu meski jalur perairan di Samudera Hindia mengalami bencana tsunami pekan lalu. Pengiriman barang ke luar negeri masih lancar dan sesuai dengan kuota yang dipatok. Rute kapal-kapal barang melalui Pelabuhan Tanjung Emas Semarang selama ini hanya sampai Singapura. Selanjutnya dibawa angkutan lain ke negara tujuan. (rei-53) |