| Kamis, 06 Januari 2005 | EKONOMI |
Pendapatan Wartel di Perkotaan TurunSEMARANG-Pilihan media untuk berkomunikasi yang kian beragam membuat omzet pengelola warung telekomunikasi (wartel) makin turun. Penurunan terutama terjadi di wilayah perkotaaan seiring dengan peningkatan teknologi komunikasi serta penetrasi telepon seluler. "Saat ini banyak wartel di kota yang penghasilannya di bawah Rp 1 juta/kamar bicara umum (KBU). Di luar kota, misalnya Kendal, ada yang memperoleh Rp 6 juta/KBU," kata Arief Musta'in, General Manager PT Telkom Kandatel Semarang. Ia mengungkapkan hal itu di sela-sela undian program ''Ngomong Murah Dapat Hadiah'' periode ketiga Kandatel Semarang yang dilakukan di Gedung Telkom, kemarin. Pemenang hadiah motor adalah M Tri Laksana Jalan Bulugede I/5, Patebon, Kendal dan Wahyu Jalan Tambak Dalam I/114 RT04/03 Semarang. Mesin cuci diraih Budi Purwanti Jalan Karang Tempel Perbalan II/529 Semarang, sedangkan TV 14 inci dimenangi Khairil Anwar, Asrama Yonif 411 Jalan Veteran Salatiga. ''Idealnya penghasilan wartel berkisar Rp 1,7 juta-Rp 2 juta/KBU sehingga dapat menutup biaya operasional lain, contohnya listrik dan tenaga kerja,'' jelas Arief. Ada dua pendekatan yang bisa dilakukan untuk meningkatkan omzet penghasilan wartel. Pertama, melalui program insentif atau promosi dengan undian berhadiah untuk menambah volume pembicaraan. Program undian ''Ngomong Murah Dapat Hadiah'' diluncurkan 27 September 2004 dan telah disosialisasikan ke 4.117 wartel di Kandatel Semarang. Kedua, diversifikasi produk dengan mengubah paradigma lama wartel hanya sebagai penyedia layanan suara. "Kami mengajak wartel bersama-sama memasarkan produk Telkom yang bervariasi, misalnya layanan data dan internet, serta kartu perdana dan isi ulang Flexi," tuturnya. Kontribusi Selama 2004 wartel telah memberikan kontribusi sebesar 8% dari seluruh pendapatan Telkom Divre IV yang meliputi Jateng dan DIY. "Omzet tersebut turun 2%-5% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Tahun ini kami menargetkan kontribusi wartel 10%-12%," jelasnya. Di tengah penurunan omzet pendapatan, pihaknya akan mencari titik-titik pertumbuhan baru pengguna wartel di luar kota. "Saat ini jumlah pelanggan Telkom baru sekitar 300.000 orang. Jumlah penduduk di enam daerah yang masuk Kandatel Semarang yang mencapai 4,5 juta, sehingga masih banyak yang belum menggunakan teknologi komunikasi," ungkapnya. Usaha wartel, lanjut dia, memang tidak akan bertahan selamanya, tetapi paling tidak yang dapat dilakukan adalah memperpanjang product life cycle usaha tersebut sehingga mampu bertahan dengan cara mencari pasar baru. Minat masyarakat membuka usaha wartel masih tinggi. Selama 2004 tercatat 400 orang yang membuka usaha tersebut, termasuk wartel Flexi. (hrn-53) |