| Kamis, 06 Januari 2005 | EKONOMI |
Rencana The Fed Tekan Rupiah dan IndeksJAKARTA-Rencana bank sentral AS (The Fed) segera menaikkan suku bunga langsung menekan rupiah. Petang kemarin rupiah turun tipis 5 poin dan ditutup pada posisi Rp 9.280/dolar AS. Penyebabnya, terjadi perburuan dolar AS oleh beberapa investor untuk mengejar selisih bunga. Ketika dibuka pada perdagangan sesi pagi rupiah sudah melemah di level Rp 9.310/dolar AS dibandingkan dengan pembukaan hari sebelumnya di level Rp 9.270/dolar AS. Selasa rupiah ditutup di posisi Rp 9.275/dolar AS. Beberapa dealer menyebutkan pasar valuta asing didominasi aksi beli dolar AS yang mendorong mata uang asing itu menguat tajam sehingga melewati batas psikologis Rp 9.300/dolar AS setelah sebelumnya merosot di bawah level tersebut. ''Faktor eksternal yang muncul di pasar memang sangat besar pengaruhnya terhadap pergerakan rupiah yang semula diperkirakan bisa kembali mendekati level Rp 9.000/dolar AS,'' tutur salah seorang dealer sebuah bank swasta nasional. Sejumlah investor sebelumnya mengatakan The Fed akan menaikkan tingkat suku bunga sepanjang tahun ini hingga mencapai 3,50% sebagai upaya mendorong pertumbuhan ekonomi AS. Kondisi itu kembali menaikkan tingkat suku bunga. Tingkat suku bunga Federal Fund (Fedfund) untuk satu bulan yang saat ini mencapai 2,50% dinilai belum bisa mendorong pertumbuhan ekonomi. Pengaruh negatif terhadap rupiah diperkirakan hanya bersifat sementara. Mata uang lokal itu akan kembali menguat karena tahun ini sejumlah investor mengatakan awal tahun merupakan kemerosotan bagi dolar AS. ''Kami optimistis rupiah akan kembali menguat mendekati level 9.000/dolar AS. Hanya tinggal menunggu waktu apabila pengaruh negatif dari bank sentral AS tidak lagi berperan,'' tutur dealer itu. IHSG Turun Sementara itu indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Jakarta (BEJ) kemarin ditutup turun 3,112 poin pada level 1015,431. Meski nilai transaksi sangat tinggi, yakni Rp 2 triliun lebih, tidak kuasa menaikkan indeks karena diwarnai oleh aksi ambil untung (profit taking) di kalangan investor. Investor menunggu realisasi moratorium utang yang ditawarkan oleh beberapa negara kreditor. Sebelum ada kepastian jadi atau tidak Indonesia memperoleh pemotongan utang, investor cenderung mengejar keuntungan lewat penjualan saham yang dianggap telah memberikan gain atau keuntungan. Perdagangan di pasar reguler kemarin berlangsung ramai dengan transaksi yang terjadi sebanyak 27.552 kali pada volume 4.614.100 lot saham senilai Rp 2,152 triliun. Sebanyak 46 saham harganya naik, 111 saham turun, dan 211 saham stagnan. Indeks LQ45 (45 saham terlikuid) turun 0,984 poin menjadi 221,519, Jakarta Islamic Index (JII) turun 1,687 poin pada level 168,204, Indeks Papan Utama (MBX) turun 0,913 poin pada level 272,732, dan Indeks Papan Pengembangan (DBX) turun 0,344 poin pada level 225,369.(wa-53) |