| Kamis, 06 Januari 2005 | BUDAYA |
Pentas Republik Togog untuk AcehJAKARTA - Teater Koma pimpinan Nano Riantiarno bekerja sama dengan PKJ-TIM dan Penerbit Gramedia Utama akan mementaskan lakon ''Republik Togog''. Namun, pentas kali ini merupakan pentas amal sebagai bentuk kepedulian terhadap para korban bencana gempa dan badai tsunami di Aceh dan Sumatera Utara. ''Ini adalah bentuk kepedulian kami yang dapat kami lakukan untuk saudara-saudara kita di Aceh dan Sumut,'' kata Nano Riantiarno, kemarin. Dia menyatakan akan menyumbangkan seluruh pendapatan tiket dari dua hari pertunjukan di Graha Bhakti Budaya, TIM, Jakarta, 6 dan 7 Januari 2005. Dengan menjual tiket seharga Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu, ''Republik Togog'' yang kali terakhir dipentaskan Juli 2004 di Gedung Kesenian Jakarta, tidak akan mengalami perubahan secara konsep. ''Dramaturgi dan keaktoran dari pementasan terakhir akan tetap saya pertahankan,'' imbuh suami Ratna Riantiarno ini. Menurut Nano, pemilihan ''Republik Togog', yang merupakan lakon ke 103 teater Koma, bukan semata-mata karena secara penceritaan teramat sangat berhubungan dengan kondisi kekinian. Namun, akan teramat sangat membutuhkan waktu yang lebih lama (untuk proses latihan) jika mementaskan lakon baru. ''Di atas semua itu, pementasan kali ini semata-mata karena nawaitu dan keikhlasan kami untuk berbuat sesuatu, sesuai dengan kemampuan kami,'' tandasnya. Tidak Dibayar Dia menambahkan, semua orang yang terlibat dalam pementasan tersebut tidak menerima bayaran. ''Sebagai orang panggung kami berpikir apa yang bisa kami berikan untuk Aceh. Kalau menjadi relawan ke sana kan tidak mungkin, kami juga tidak bisa melakukan apa-apa. Jadi, ya lewat acara ini saja, kami jadi relawan," cerita tutur Ratna Riantiarno, sang sutradara Republik Togog. Wanita kelahiran Manado itu mengaku tidak menyangka bila masyarakat cukup antusias untuk menyaksikan Republik Togog lagi. "Hampir 50 persen lebih tiket sudah terjual," ungkapnya. Republik Togog merupakan sebuah sandiwara komedi, sinergi dari Wayang Prancis, Tartuffe karya Moliere dan Sadewa Tumbal dari Wayang Jawa. Nama-nama seperti Cornelia Agatha, Salim Bungsu dan Budi Ros, turut berperan serta dalam lakon panggung tersebut. Di akhir pementasan akan ada persembahan untuk Aceh, berupa puisi yang dibacakan bersama berjudul "Untuk Aceh" karya Nano Riantiarno. (G20,dtc-63) |