| Kamis, 06 Januari 2005 | BANYUMAS |
Pasokan Berkurang Harga Beras MelonjakPURWOKERTO-Pasokan beras di pasaran Banyumas sepekan terakhir berkurang. Para pedagang beras kelabakan karena pasokan dari pedagang besar berkurang drastis. Tak ayal, harga beras melonjak. Beras medium yang paling banyak dikonsumsi seperti IR 64, cisadane, dan cimalaya semula hanya Rp 2.400/kg. Namun sejak 1 Januari naik menjadi Rp 2.800-Rp 3.000/kg. Wasti, pedagang beras di Sawangan atau Jalan Mayjen Sutoyo, Purwokerto, menuturkan sejak lima hari lalu persediaan berasnya berkurang drastis karena pasokan berkurang. ''Saya tak tahu kenapa suplai berkurang. Saya sudah mengontak berbagai pengepul beras. Namun mereka mengaku tak punya stok,'' tuturnya, kemarin. Wehab, pedagang beras di Jalan Komisaris Bambang Suprapto, Purwokerto, menyatakan biasanya setiap hari menerima pasokan 20 karung plastik. Namun sejak sepekan lalu dia hanya dikirim tiga karung setiap hari. Satu karung berisi 50 kg. Hal itu juga dialami pedagang beras di beberapa toko sekitar Purwokerto, seperti Ajibarang dan Sokaraja. Mereka kini kesulitan mencari beras. Wasti dan Wehab menuturkan beras yang sulit dicari itu tak hanya IR 64 dan cisadane. Beras berkualitas rendah, beras campuran hasil sumbangan, juga sulit diperoleh. Bahkan sepekan ini Wehab tak mempunyai persediaan lagi. Wasti masih memiliki persediaan, tetapi sedikit dan harganya pun naik dari Rp 2.000 menjadi Rp 2.400/kg. Asisten Ekonomi dan Pembangunan Sekda Suyatno SSos MHum, kemarin, mengakui persediaan beras berkurang. Sebab, sebagian besar lahan pertanian di Banyumas tidak panen lagi. Sementara itu, berdasar laporan Asosiasi Perberasan Banyumas (APB), stok beras antara lain karena banyak permintaan dari luar Jawa, terutama Bangka Belitung dan Batam. Beras itu diangkut dengan kapal lewat Jakarta dan Jepara. Apalagi impor beras sampai saat ini tetap tak dibolehkan. ''Pedagang besar anggota APB saat ini kesulitan mencari beras untuk memenuhi permintaan dari luar Jawa. Persediaan berkurang bukan karena pedagang besar menimbun gabah. Selain sedang paceklik, permintaan dari luar Jawa sangat besar. Jadi persediaan kurang dan harga beras naik.'' Dia memperkirakan akhir Januari hingga Februari kondisi kembali normal. Sebab, daerah lain seperti Purworejo dan Solo mulai panen. Saat itulah para pedagang beras di Banyumas pun bisa menyerap hasil panen. Bila harga beras tak kunjung turun dan stok terus berkurang, kata dia, Pemerintah Kabupaten akan segera meminta Bulog Subdivre IV Banyumas melakukan operasi pasar. (G23-86) |