| Rabu, 05 Januari 2005 | SALA |
''Kami Masih Ingin Kembali ke Aceh''KELUARGA Slamet Harso Diharjo (55), pengungsi Aceh asal Klaten, sedang menikmati siaran televisi berukuran besar di rumahnya di Dukuh Tegalan Desa Planggu Kecamatan Trucuk Kabupaten Klaten. Sebuah sepeda motor Honda Supra-X berpelat nomor BL (Aceh) diparkir di depan rumah yang cukup bagus untuk ukuran desa mereka. ''Ada lima sepeda motor milik kami yang bisa diselamatkan. Kami tidak sempat membawa apa-apa karena yang penting semua anggota keluarga selamat sampai di Klaten,'' kata Slamet ditemui wartawan di rumahnya, Selasa (4/1) kemarin. Slamet beserta seratusan warga asal Desa Planggu di Banda Aceh baru saja sampai di kampung halaman mereka, Senin (3/1) malam. Mereka menumpang dua bus yang dicarter dari Banda Aceh. Slamet mengisahkan, dirinya termasuk orang pertama dari Desa Planggu yang menginjakkan kaki di Tanah Rencong. Hanya berbekal keahlian membuat es puter, ayah empat anak itu nekat berangkat ke Aceh pada 1982. Dengan gerobak dorong, lelaki itu berjualan es berkeliling kampung. Lambat laun usahanya menampakkan hasil. Beberapa tahun kemudian istrinya Ny Suginem menyusul bersama anak-anaknya. Slamet berjualan es keliling, sedangkan istrinya berjualan jamu gendong keliling. Keluarga ini beberapa kali pindah kontrakan hingga akhirnya menetap di Kampung Setui, Lorong Kerinci, Banda Aceh. ''Anak saya semua sarjana. Anak pertama sekarang malah sedang mengambil S3 di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Yang bungsu baru diwisuda pada Agustus lalu,'' ujarnya. Slamet termasuk figur yang sukses di perantauan. Pada awalnya banyak yang meragukan apa yang bisa diperoleh dari berjualan es puter keliling. Namun, waktu yang membuktikan. Slamet bisa hidup cukup dan rumahnya di Klaten pun terbilang paling bagus. Semua itu hasil merantau ke Aceh. Keberhasilan Slamet itu rupanya memberi inspirasi warga Desa Planggu untuk mengadu nasib di provinsi paling barat Indonesia itu. Mereka pun merintis usaha seperti yang dilakukan Slamet lebih dari 20 tahun yang lalu, yaitu berjualan es keliling. Kebanyakan dari mereka tinggal di sekitar Kampung Setui. ''Dari Desa Planggu saja ada 100 jiwa lebih yang tinggal di Aceh. Sebagian besar mereka berjualan es dan jamu keliling. Ada juga yang jadi tukang kayu dan tukang batu, tapi sedikit,'' kata Wajiman (43) yang lolos dari amukan tsunami. Butuh Modal Sama seperti keluarga Slamet, keluarga Wajiman juga pulang kembali ke kampung dengan selamat. Ketiga anak pasangan Wajiman-Sri Mulyani (40) tampak mulai akrab bermain-main di rumah nenek mereka di Planggu. Padahal, mereka baru saja melewati perjalanan jauh selama 100 jam dari Aceh. Slamet yang melihat langsung datangnya air bah mengaku trauma. Apalagi, seusai banjir mendadak yang hanya berlangsung sekitar 10 menit itu banyak mayat bergelimpangan di jalan-jalan tidak jauh dari rumahnya. Beruntung Kampung Setui yang ditempati bersama ratusan warga beretnis Jawa itu berjarak sekitar 10 km dari garis pantai. Selain itu, kampung mereka termasuk dataran tinggi, sehingga kerusakan yang terjadi tidak separah kampung-kampung di sekitar pantai. ''Saya masih punya rumah dan toko yang saya tinggalkan di Banda Aceh. Mungkin hanya barang dagangan di toko yang rusak. Saya akan perbaiki lagi kalau keadaan sudah membaik. Untuk sementara, biar kami beristirahat dulu di sini,'' kata Slamet diamini sang istri dan keempat anaknya. Wajiman pun sama dengan Slamet. Begitu kondisi Aceh membaik, dia akan membawa kembali istri dan anak-anaknya ke Banda Aceh untuk meneruskan kembali usahanya berjualan es puter keliling. Bumi Aceh sudah menjadi tanah harapannya. ''Sebelum musibah terjadi sebetulnya usaha kreditan istri saya mulai berjalan baik. Sekarang saya tidak punya apa-apa lagi. Semua harta yang saya kumpulkan 20 tahun hilang dalam beberapa menit. Semoga pemerintah memberi bantuan, sehingga saya bisa kembali berjualan es dan istri saya bisa berdagang kain lagi,'' ujar Wajiman penuh harap. (Merawati Sunantri-20e) |