| Rabu, 05 Januari 2005 | PANTURA |
Dampak TsunamiPengunjung Pantai SepiPEKALONGAN - Gempa dan tsunami yang terjadi di Aceh dan Sumatra Utara berdampak juga di Pekalongan. Yakni, masyarakat ketakutan mengunjungi tempat wisata pantai di kota tersebut, baik di Pasir Kencana maupun Slamaran. ''Kami takut ke pantai setelah melihat di TV ada bencana di Aceh,'' kata Narno (22), warga Panjang, kemarin. Dia menuturkan, sebelum ada bencana tsunami, dia sering ke Slamaran untuk mandi di laut, khususnya pada hari-hari libur. Bahkan, dia sering mengajak keponakannya untuk mandi di pantai. Namun gelombang besar yang merenggut nyawa puluhan ribu orang di Aceh telah menimbulkan rasa ngeri dan ketakutan. Karena itu, sejak beberapa hari terakhir ini, bahkan pada hari libur Sabtu dan Minggu lalu, dia tidak lagi ke pantai. Hal yang sama juga dialami Hajirin, warga Podosugih. Sebelum ada bencana tsunami di Aceh, hampir setiap Minggu atau hari libur dia mengajak anak-anaknya berlibur di pantai. Anak-anaknya dibiarkan mandi di pantai sambil menguji keberanian. Di pantai tersebut, biasanya ratusan orang berdatangan dengan mobil, sepeda motor, atau dokar. Namun pada Sabtu lalu, yang mandi bisa dihitung dengan jari. Pada umumnya, mereka ketakutan terhadap kemungkinan adanya ombak besar di Pekalongan. Tak Berjualan Lagi Dari pengamatan Suara Merdeka, Pantai Pasir Kencana dan Pantaisari pada Sabtu dan Minggu lalu memang sepi dari pengunjung. Pedagang yang semula memenuhi jalan di sepanjang pantai, kini tidak mau berjualan lagi. Apalagi Sabtu pagi lalu terjadi peningkatan gelombang air laut sehingga warga ketakutan. Kepala Kantor Pariwisata Kota Pekalongan Totok Parwoto menjelaskan, sejak ada bencana di Aceh, tempat wisata Pasir Kencana dan Slamaran sepi. ''Biasanya pada hari-hari libur jumlah pengunjung mencapai ratusan. Namun dalam beberapa hari terakhir ini, bahkan pada libur Sabtu dan Minggu, jumlah pengunjung hanya puluhan. Sampai kapan hal itu akan berlangsung, saya tidak tahu,'' katanya. Dia juga mengatakan, jika hal itu berlangsung berkepanjangan, jelas akan menyebabkan pendapatan tempat wisata menurun. Meski demikian, dia yakin kondisi itu tidak akan berlangsung lama. (A15-74n) |