logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 05 Januari 2005 PANTURA
Line

Pilih Jadi Tukang Becak dan Ojek

  • Hasil Tangkapan Ikan Sedikit

SLAWI - Akibat hasil tangkapan ikan berkurang, sejumlah nelayan di wilayah Kabupaten Tegal banyak yang tidak melaut. Mereka yang kebanyakan nelayan kecil (kapal sopek) membiarkan kapal mereka tertambat di pelabuhan. Sebagian lagi memilih mencari pekerjaan sampingan, seperti menjadi tukang ojek dan tukang becak.

Di sekitar Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Munjung Agung Desa Larangan, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal, ratusan kapal dibiarkan begitu saja berhari-hari.

Menurut penuturan seorang nelayan setempat, Wasmin (43), aktivitas melaut sudah berhenti sejak dua pekan terakhir. Bahkan, dia mulai tidak melaut sejak satu bulan terakhir.

Dia mengemukakan, penurunan hasil tangkapan ikan terjadi sejak satu bulan terakhir. Hasil tangkapan yang ada tidak mampu memenuhi biaya yang dikeluarkan untuk operasional melaut. Akibatnya, mereka memilih untuk tidak melaut dan membiarkan kapal mereka tidak digunakan.

Para nelayan tersebut biasa melaut mulai pukul 16.00 hingga dini hari. Jumlah kapal sopek di wilayah tersebut sekitar 150 buah dengan ratusan nelayan. Dari jumlah tersebut, kini hanya 10% nelayan yang masih melaut. Sisanya memilih tinggal di rumah sambil memperbaiki kapal dan jala. Selain itu, beberapa nelayan untuk sementara pindah profesi menjadi tukang ojek atau tukang becak.

Berkurangnya hasil tangkapan ikan tersebut, menurut penuturan Wasmin, karena hasil tangkapan akhir-akhir ini sangat sedikit. Mereka mengaku tidak mengetahui penyebab hasil tangkapan sangat minim.

"Daripada kami berangkat tetapi tidak mendapatkan apa-apa, lebih baik kami tidak melaut. Karena jika memaksakan diri, hasilnya tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan," tandasnya.

Hal itu dibenarkan nelayan lainnya, Disun (35). Dia mengungkapkan, saat ini sekali melaut mereka paling hanya mendapatkan Rp 50.000-Rp 100.000. Padahal, biaya operasional untuk melaut mencapai Rp 50.000, antara lain untuk bahan bakar solar dan perbekalan.

8-10 Orang

Sementara itu, sisa uang tersebut harus dibagi satu kelompok nelayan yang biasanya terdiri atas 8-10 orang. Terlebih, saat ini harga bahan bakar minyak (BBM) akan naik, para nelayan semakin mengeluh kesulitan.

Menurut keterangan dia, hal itu berbeda dari saat jumlah ikan banyak. Sebelumnya, saat ikan banyak mereka bisa mendapatkan uang Rp 200.000-Rp 300. 000 sekali melaut.

Hasil tangkapan paling banyak adalah ikan teri. Harga teri tersebut saat ini menurun, hanya Rp 13.000 per kilogram dari harga sebelumnya Rp 20.000 per kilogram.

Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, dia mengaku terpaksa berutang kepada para tetangga. "Ya ndak tahulah, istri saya yang mencari penghasilan dengan berjualan di pasar. Yang penting tetap bisa untuk membeli beras," imbuhnya.(wn-42j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA