| Rabu, 05 Januari 2005 | NASIONAL |
Kasus Penembakan di HiltonAlmarhum Rudy Bukan Orang Neka-neka
''USUT Tuntas Penembakan Kawan Kami''. Demikian salah satu bunyi spanduk yang tertempel di Gedung Rektorat Universitas Bung Karno (UBK) Jakarta, perguruan tinggi tempat almarhum Yohanes Brachmans Hairudi (26) menuntut ilmu. Nama laki-laki kelahiran Ruteng, Flores NTT, 26 November 1979, itu seketika menarik perhatian masyarakat di tengah-tengah maraknya pemberitaan tentang bencana nasional di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Nias, dan sebagian wilayah Sumatera Utara. Betapa tidak, mahasiswa semester 9 yang menurut rencana April 2005 akan menghadapi sidang skripsi di Fakultas Hukum UBK itu, secara mengejutkan telah berpulang ke pangkuan Tuhan YME. Apa yang menyebabkan kematiannya? Sebagian besar orang sudah mengetahuinya. Memasuki Tahun Baru 2005, sebutir peluru dari sebuah revolver milik Adiguna Sutowo menembus kepalanya. ''Menurut hasil visum et repertum dari pihak keluarga, peluru yang menembus kepala Rudy itu yang menyebabkan kematiannya,'' kata Rano Suhendra (25), teman seangkatan dan sefakultas almarhum Rudy, di kampus UBK Jl Kimia No 20 Jakarta Pusat, Selasa (4/1). Rudy, demikian laki-laki yang bercita-cita menjadi seorang pengacara itu biasa disapa, memang tidak mempunyai kelebihan khusus dibandingkan dengan teman-teman mahasiswa yang lain. Kawan-kawan sekampusnya pun menyebut Rudy yang kos di rumah no 33 RT 14 /RW 40 Kelurahan Karet Kuningan, Kecamatan Setia Budi, Jakarta Selatan, itu sebagai mahasiswa standar. ''Bahkan, almarhum relatif pasif (terhadap kegiatan kampus). Namun dia juga bukan orang yang neka-neka. Bahkan, sebenarnya cukup familiar dan tidak sombong,'' imbuh Rano yang bersama kawan-kawannya telah menyiapkan sebuah aksi untuk mendesak Polri mengusut tuntas kematian Rudy pada hari ini (Rabu, 5/1). Rudy, pelayan paro waktu di Bar Fluid Club Hotel Hilton Jakarta, harus menanggalkan semua mimpinya untuk menjadi seorang pengacara, setelah ditembak Adiguna Sutowo, putra mantan pucuk pimpinan Pertamina (alm) Ibnu Sutowo, di hotel milik Pontjo Sutowo, kakaknya. ''Bahkan, masih menurut visum yang dikeluarkan Rumah Sakit Carolus, sebelum meninggal Rudy dianiaya terlebih dahulu. Hal itu ditunjukkan dengan adanya beberapa lebam di muka dan matanya,'' imbuh Rano yang juga bertindak sebagi Koordinator Lapangan Aksi yang menurut rencana akan melibatkan 1.500 sampai 2.000 mahasiswa UBK. Menurut versi sivitas akademika UBK, kronologis kematian Rudy murni akibat tindakan kesewenang-wenangan Adiguno Sutowo. ''Sebagaimana yang ditulis di koran-koran selama ini, memang demikian adanya,'' jelas Ishaq Ramadhan, jenderal lapangan aksi yang akan menempuh rute dari UBK, Mabes Polri, dan berakhir di Bar Fluid Hotel Hilton untuk menabur bunga. Aski solidaritas itu mendapat dukungan penuh dari Ketua Yayasan Pendidikan Soekarno yang juga Ketua Partai Pelopor, Rachmawati Soekarnoputri. Para mahasiswa berharap, pengusutan dan penuntasan kasus kematian Rudy dapat berjalan dengan transparan. ''Kami tahu, kasus Rudy adalah salah satu varian kecil dari berbagai kasus yang (cenderung) akan dipetieskan. Karena itu, kami akan mengawal kasus ini (sampai tuntas),'' tegas Rano yang juga telah menyiapkan kerja bareng dengan berbagai jaringan pergerakan lintasmahasiswa, di antaranya jaringan universitas se-Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi). Lantas apa yang akan dilakukan para mahasiswa jika desakan mereka untuk sebuah transparansi tidak dapat dipenuhi pihak terkait? ''Kami tahu, kami berhadapan dengan sisa-sisa kekuatan Orde Baru yang tidak akan mudah untuk dikalahkan. Tapi dengan tetap menjunjung asas prejudice of innocence, supremasi hukum di negara ini harus ditegakkan,'' tegas Rano, sembari mengepalkan tangan. ''Jika memang perlu, kami akan menegur keras Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY),'' sambung Ishaq. Jika Presiden SBY juga dianggap tidak mampu menyelesaikan masalah ini? ''Rakyat akan menilai sendiri, sejauh mana kesungguhan memancangkan hukum di negeri ini.'' (Benny Benke-69t). | ||||