logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 05 Januari 2005 NASIONAL
Line

Menjelang Bencana Tsunami

Ada Pesta di Makam Syiah Kuala


AMBRUK: Makam Syiah Kuala di Desa Deyah Raya, Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh, ambruk diterjang musibah pada Minggu (26/12).(55t) - SM/Rukardi

DI antara reruntuhan rumah dan segala bangunan yang ada, Masjid Al Waqib di Desa Deyah Raya, Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh ternyata tetap berdiri kokoh. Masjid itu, kabarnya menjadi peninggalan Tengku Syiah Kuala, ulama Islam yang mengabdikan dirinya pada ilmu pengetahuan dan pembinaan masyarakat.

Sementara itu, bangunan Makam Syiah Kuala yang menjadi salah satu objek wisata di Aceh ambruk. Batu nisannya juga ikut terkoyak, kendati masih di areal pemakaman. Nisan-nisan itu tertimpa reruntuhan besi dan kayu-kayu. Hingga kemarin, atau sepuluh hari setelah gempa dan tsunami menghantam wilayah Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), kompleks makam Syiah Kuala belum tersentuh oleh proses evakuasi. Mayat-mayat masih bergeletakan.

Masjid Al Waqib, kini menjadi saksi bisu dahsyatnya kekuatan alam yang memporakporandakan seluruh Deyah Raya. Untuk mencapai kampung Deyah Raya yang berjarak sekitar 15 km dari Kota Banda Aceh harus berjalan kaki. Akses jalan menuju kampung tersebut, belum bisa dilewati kendaraan. Pohon-pohon bertumbangan di tengah jalan. Bongkahan batu-batu sebesar drum berserakan di jalanan.

Satu-dua sepeda motor milik warga setempat nekad masuk ke kampung itu dengan susah payah. Siang itu, Suara Merdeka harus menempuhnya dengan jalan kaki sejauh 2 km. Kendaraan hanya bisa mencapai kompleks Makam Syiah Kuala yang bangunan sudah hancur lebur.

Pagar kompleks makam yang berada di tepi Pantai Kuala hanya sebagian yang tertinggal. Sebagian lagi terseret tsunami, entah sejauh mana. Pohon-pohon yang menjadi peneduh makam itu, ikut bertumbangan. Hanya tinggal tiga pohon kelapa, empat pohon cemara, dan beberapa pepohonan yang masih berdiri.

Menurut M Nasyir (45), warga Syiah Kuala, kompleks makam seluas 1.000 m2 itu rimbun dengan pepohonan. ''Masyarakat sering datang untuk melakukan ziarah. Mereka betah di sini, bahkan ada yang menginap di pondok-pondok yang ada di kompleks makam sampai berminggu-minggu. Banyak orang Padang yang datang sampai sebulan,'' katanya kepada Suara Merdeka.

Ketika itu, ada dua warga dari Kampung Darussalam, Kabupaten Banda Aceh sengaja berkunjung ke kompleks makam. Dia ingin membuktikan kabar yang sampai ke telinganya. Salah satu kabar itu, adalah rumah-rumah yang roboh dihantam bencana bisa berdiri kembali. ''Sekarang sudah terbukti, semua rumah rata dengan tanah,'' kata Usman (54), warga Darussalam saat berada di depan Makam Syiah Kuala.

Namun demikian, dua nisan masih terlihat utuh, meski sudah tercerabut dari posisi semula. Dari makam itu, Masjid Al Waqib yang dikenal dengan Masjid Syiah Kuala, masih terlihat kokoh dari kejauhan. Untuk mencapai masjid itu, harus menunggu air surut. Sebab, satu-satunya akses jalan sudah terendam air laut.

''Tidak lama Mas, paling jam 4 (16.00 WIB) sudah surut,'' kata Nasyir. Padahal waktu itu, jarum jam di tangan masih menunjuk pukul 13.00. Namun, hingga pukul 16.00, air tidak juga surut. Sejumlah warga yang hendak menengok kampungnya batal menyeberang. Air masih setinggi pinggang.

Apa cerita di balik musibah yang menimpa sebagian wilayah NAD, dan menelan korban ratusan ribu jiwa itu?

Ada beberapa kisah yang melingkupi pada setiap kejadian. Menurut sejumlah warga Syiah Kuala, sehari sebelum peristiwa buruk itu menimpa kawasan itu, ada kegiatan hura-hura yang dilakukan oleh salah satu pasukan keamanan.

Pesta musik diiringi organ tunggal itu, hanya beberapa meter dari Makam Syiah Kuala. Pesta itu pun dilengkapi dengan minum-minuman keras. Iskandar (15), penduduk Syiah Kuala menuturkan, pada Jumat (24/12) malam, pasukan itu benar-benar sedang berpesta. Jika pada hari biasa, hanya ada tujuh orang petugas, namun malam itu jumlahnya lebih banyak. Sebuah tenda layaknya hajatan pun didirikan.

Tengku Usman (54), warga Aceh Barat mengungkapkan, seseorang yang mengenakan jubah putih telah mengingatkan agar pesta itu dihentikan. Sebab, kompleks makam itu cukup mendapat perhatian warga. ''Orang-orang yang datang ke sini tidak berani berbuat sembarangan,'' kata Usman.

Kendati telah diingatkan sampai dua kali, pasukan tetap asyik berjoget. Moncong senapan justru diacungkan ke orang tua yang mengingatkan untuk menghentikan acara itu. Iskandar menjadi saksi adanya pesta itu. Dia mengaku, dimintai bantuan oleh pasukan itu untuk ikut membereskan tenda dan kursi-kursi seusai pesta.

Peringatan ternyata menyimpan pesan datangnya bencana. Entah ada kaitannya atau tidak, yang jelas sehari setelah pesta itu, musibah menerjang Kota Serambi Makkah, termasuk wilayah Syiah Kuala. Komandan Kodim 0101 Banda Aceh Letkol TNI, Joko Warsito ketika berada di kompleks Makam Syiah Kuala mengaku, mendengar kabar tersebut. Sejauh mana kebenarannya, dia tidak bisa memastikan.

Sepulang dari makam itu, saya melihat sebuah coretan di pagar putih rumah warga yang hampir runtuh seluruhnya. Tulisan dengan cat semprot itu ditulis besar-besar: ''Musibah ini akibat dari kita yang berbuat kemaksiatan''.

''Pesan itu memang tepat,'' kata Fauzi (35), warga Aceh Jaya yang kehilangan 30 saudaranya yang semuanya tinggal di Syiah Kuala. (Laporan Agus Toto W, Rukardi dari Banda Aceh-69m)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA