| Rabu, 05 Januari 2005 | NASIONAL |
GAM Sabotase Logistik Pengungsi
BANDA ACEH - Komandan Kodim 0101 Banda Aceh Letkol TNI Joko Warsito mengatakan, Gerakan Aceh Merdeka (GAM) telah menjalankan aksi sabotase terhadap bantuan untuk para pengungsi, pascabencana alam tsunami di Nangroe Aceh Darussalam (NAD). Upaya sabotase tersebut, dilakukan di beberapa tempat di Kabupaten Aceh Besar, antara lain Lhoknga, Ladong, dan Montasik. Bahkan, sempat terjadi kontak senjata antara GAM dan TNI di Ladong. Aksi kali pertama GAM dilakukan di Lhoknga, pada Senin (27/12). Selain mendatangi lokasi pengungsian, mereka berjumlah sekitar 40 orang dan mengenakan seragam loreng yang tak jauh berbeda dengan seragam TNI itu, juga mencari senjata di reruntuhan dua gedung instalasi militer TNI yang terdapat di tempat itu, yakni Kompi Senapan B 112 Lhoknga dan Dansipur 1 Banda Aceh. Namun Joko belum bisa memastikan, apakah mereka berhasil mendapatkan senjata-senjata tersebut atau tidak. Setelah mendapatkan informasi tersebut, TNI langsung melakukan upaya pengejaran. ''Kami menurunkan tim khusus untuk melacak jejak mereka,'' ujarnya. Di kompleks Kompi Senapan B 112 Lhoknga, seluruh bangunan di sana rata dengan tanah. Hasil pantauan Suara Merdeka di lokasi itu, tidak ada satu pun bangunan gedung-gedung militer yang utuh. Semuanya rata dengan tanah disapu bencana. Sebuah tulisan di atas karung plastik di pasang di sekitar tumpukan, berbunyi ''Di mohon kepada masyarakat yang menemukan peralatan TNI agar menyerahkannya ke posko''. Posko yang dimaksud, adalah sebuah tenda yang didirikan di sekitar lokasi, dan dijaga oleh aparat TNI dan dilengkapi sebuah truk. Aksi berikutnya, kata Joko, dilakukan GAM di Desa Ladong, Kecamatan Krueng Raya. Saat itu, GAM melakukan upaya sabotase bantuan makanan dan obat-obatan untuk pengungsi yang ada di Krueng Raya. Upaya sabotase tersebut, dilakukan dengan membelokkan sejumlah truk pengangkut bahan makanan dan obat-obatan ke sebuah desa di kawasan itu. Di tengah jalan, mereka menodong para sopir dengan senjata, dan merampas muatan yang ada di dalamnya. ''Orang-orang GAM itu, pura-pura menunjukkan lokasi pengungsian di desa tersebut. Padahal, lokasi pengungsian yang mereka katakan itu tidak ada,'' kata Joko. Dalam rombongan pemberi bantuan itu, terdapat Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NAD Mulia Hasmi. Dia sempat diseret oleh kelompok bersenjata itu menuju ke daerah perbukitan. Secara kebetulan, beberapa anggota TNI tengah melintas di tempat itu. Maka kontak senjata di antara keduanya tidak bisa dihindari. Di tengah pertempuran jarak dekat tersebut, Mulia Hasmi berhasil meloloskan diri dari sekapan GAM. ''Kontak senjata hanya terjadi pada jarak sekitar 50 meter. Namun, tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. Bantuan dapat diselamatkan.'' Sementara di Kecamatan Montasik, aksi GAM berlangsung di dua tempat, yakni di Desa Montasik dan Desa Piyeng, pada Senin (2/1). Di dua tempat tersebut, mereka mendatangi tempat-tempat pengungsian. Selain merampas bahan makanan dan obat-obatan, anggota GAM juga melakukan sweeping terhadap para pengungsi yang berasal dari Jawa. ''Untung saja, di tempat-tempat tersebut tidak ada orang Jawa, karena hampir semuanya warga Aceh,'' tutur Joko. Menghadapi aksi-aksi yang dilakukan anggota GAM tersebut, TNI menyiagakan pos-pos militer yang terdapat di kawasan rawan seperti Aceh Besar. Selain melakukan penjagaan, mereka juga akan memasuki desa-desa untuk melakukan pengamanan. Tak cukup dengan itu, TNI juga akan mengirimkan pasukan mobile yang akan bergerak menyusuri hutan-hutan untuk melakukan perburuan terhadap anggota GAM. Pada Minggu (2/1), pasukan TNI dan Brimob terlihat meluncur ke arah Krueng Raya. Ketika Suara Merdeka sedang mengikuti proses evakuasi yang dilakukan oleh sebuah kelompok relawan, sejumlah truk pasukan keamanan beriringan menuju lokasi sabotase. Kendati bersenjata lengkap, tidak terdengar adanya kontak senjata. Menurut Joko, pengiriman pasukannya ke Krueng Raya, sehari setelah upaya sabotase itu sebagai langkah antisipasi. Untuk itu, dia mengharapkan peran serta masyarakat untuk memperlancar pengiriman logistik. RS Lapangan Sementara itu, untuk menolong kampanye bantuan besar-besaran di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, yang luluh lantak dilanda bencana tsunami, Pemerintah Australia akan mengirimkan lebih banyak bantuan medis dan pengawas lalu lintas udara. Menhan Robert Hill mengatakan Selasa kemarin, rumah sakit lapangan militer Australia akan didirikan di Banda Aceh, sementara pengawas lalu lintas udara bakal dikerahkan untuk bantu melakukan koordinasi pesawat-pesawat pengangkut bantuan. ''Mengingat rusaknya seluruh infrastruktur, penting bagi Australia untuk tidak hanya menyediakan dukungan, tetapi juga memberikan jenis bantuan lain yang tepat,'' kata Hill, dalam suatu pernyataan. ''Kita akan memberikan dukungan medis penting di daerah yang paling membutuhkan,'' tambahnya. Hampir 150.000 orang tewas dan jutaan lainnya kehilangan tempat tinggal setelah tsunami itu, yang dipicu gempa tektonik di dasar laut dengan kekuatan 9,0 skala Richter di lepas pantai Aceh barat, 26 Desember lalu. Sampai 94.000 orang tewas di Aceh. Sekitar 350 personel militer Australia telah dikerahkan untuk menolong upaya-upaya pemberian bantuan di Indonesia. Pengerahan itu meliputi empat helikopter militer, kapal pengangkut pasukan HMAS Kanimbla, tim pendukung kesehatan yang dilengkapi peralatan sinar X, unit rawat intensif dan bedah, serta fasilitas penjernihan air. Tambah Relawan Tim medis relawan tambahan dari Australia, meliputi ahli bedah dan spesialis penyakit menular, juga akan dikirimkan ke Aceh untuk mengobati korban yang luka-luka, kata Ketua Tim Medis Australia John Horvath, setelah membrifing PM John Howard tentang perkembangan terakhir. Howard sendiri akan datang ke Jakarta untuk menghadiri pertemuan internasional tentang bantuan bencana tsunami, Kamis besok (6/1), dan berbicara dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Koran The Australian melaporkan, Howard akan memanfaatkan pembicaraan tersebut untuk membuat keputusan final tentang paket bantuan, guna menolong Indonesia membangun kembali sekolah-sekolah, rumah sakit, dan memulihkan persediaan air di Aceh. Bantuan ekstra tersebut akan mencapai nilai di atas 60 juta dolar Australia (sekitar Rp 450 miliar) - yang telah dijanjikan - untuk membantu para korban tsunami. Belum lagi janji bantuan 160 juta dolar Australia untuk program bantuan bilateral tahunan kepada Indonesia. Menlu Australia Alexander Downer mengunjungi daerah-daerah bencana di Thailand, Selasa kemarin. Dia mengatakan akan ke Jakarta untuk berunding dengan para menteri Indonesia. Mulai Beraktivitas Di pihak lain, kegiatan perekonomian di Banda Aceh perlahan-lahan mulai bangkit. Aktivitas perdagangan di beberapa pasar tradisional mulai menggeliat. Empat pasar yang aman dari hantaman musibah gempa bumi dan tsunami dipadati para pedagang dan pembeli pada Selasa (4/1). Pasar tersebut adalah Pasar Lambaro yang terletak di sekitar kompleks pertokoan Kecamatam Lambaro, Aceh Besar, juga Pasar Nesu, Pasar Ulee Kareng, dan Pasar Ketapang. Bahkan Pasar Lambaro pascamusibah tetap terlihat ada aktivitas, meskipun relatif kecil. Dagangan yang diperjualbelikan juga cukup lengkap. Beberapa pedagang tampak menawarkan daging ayam, telor, sayur mayur, dan buah-buahan. Bahkan dagangan itu, ditawarkan hingga ke tepi-tepi jalan agar dekat dengan pembeli. Hanya saja, harga barang-barang tersebut melonjak tajam. Misalnya, harga telor yang sebagian besar dijual per butir itu, dihargai Rp 700/butir hingga Rp 1.000/butir atau naik sekitar Rp 300 sampai Rp 600 per butir dibandingkan dengan sebelum musibah. Sementara harga daging ayam, berkisar Rp 20.000/kg atau meningkat 100% dibandingkan dengan harga sebelumnya. Harga sayur mayur, seperti cabai juga naik dari Rp 15.000/kg menjadi Rp 19.000/kg. Gula pasir melonjak tajam dari Rp 4.000/kg menjadi Rp 8.000-Rp 10.000/kg. ''Pembelian gula pasir juga dibatasi hanya 3 kg/pembeli,'' kata Mahyudin, penjual minuman di Lambaro. Aktivitas jual beli juga terlihat di pinggir-pinggir jalan. Penduduk menggelar dagangan seperti rokok dan minuman dalam kemasan. Menurut pengakuan warga, barang-barang dagangan itu mereka peroleh dari luar kota seperti Lhokseumawe yang relatif aman dari musibah. Harga-harga rokok dan minuman dalam kemasan tersebut, dijual lebih mahal dari sebelum gempa, sebab biaya transportasi meningkat. Padahal, berdasarkan pantauan Suara Merdeka, beberapa petugas maupun relawan memasok dagangan untuk mereka. Biasanya beberapa slop rokok itu dibungkus kertas koran atau kain. Penyerahan barang dagangan dilakukan sambil berkendaraan tanpa turun dari mobil. Mereka agaknya telah melakukan pembicaraan sebelumnya. ''Kemungkinan besar, barang-barang tersebut juga hasil jarahan,'' kata Rustam Effendi, warga Aceh Besar yang lolos dari musibah. Selain pasar tradisional, arus transportasi di Kota Banda Aceh mulai padat. Kendaraan pribadi dan sepeda motor berplat nomor BL (NAD) berseliweran di jantung kota. Mereka pada umumnya mengangkut barang-barang yang bisa diselamatkan setelah disapu musibah. Kendaraan Toyota Kijang, misalnya, dipenuhi barang-barang seperti pakaian, kipas angin, sepatu, dan alat-alat elektronik saat melintas di sekitar Kuta Alam. Karena begitu penuh muatannya, pintu belakang mobil itu tidak bisa ditutup. Pengendara sepeda motor juga mengangkut bungkusan kain besar, namun ada pula yang sekadar wira-wiri di jalan-jalan kota. Tarif transportasi di Kota Banda Aceh sejak musibah langsung melangit. Sejumlah wartawan maupun relawan dari luar daerah mengeluhkan tarif yang naik gila-gilaan itu. Suara Merdeka ketika baru turun dari Bandara Iskandar Muda dikenai tarif Rp 1 juta untuk sekali perjalanan ke pusat kota yang berjarak kurang lebih 15 km. Namun, setelah negosiasi dan ditengahi oleh pegawai Telkom asal Aceh, tarif tersebut menjadi Rp 400 ribu. ''Untuk hari-hari biasa hanya dikenai Rp 3.000/orang naik labi-labi (angkutan kota),'' katanya. Pada hari kelima pascamusibah, tarif ojek dari bandara ke pusat kota dipasang Rp 30 ribu. Sementara itu, untuk angkutan dalam kota dikenai tarif Rp 30 ribu-Rp 50 ribu dari Lambaro ke Simpanglima yang jaraknya 10 km. Para pengojek beralasan untuk membeli bahan bakar minyak (BBM) saat ini mahal Rp 5.000/liter. ''Loh, harga bensin kan hanya Rp 1.810/liter,'' tanya Suara Merdeka. Pengojek kembali beralasan untuk pengisian BBM di SPBU harus antre berjam-jam. Namun, di sejumlah pom bensin antrean sebenarnya tidak terlalu panjang. Kendati harus antre, tidak lebih dari 30 menit. Sebab, pasokan BBM di SPBU yang bisa dioperasionalkan cukup lancar. Mereka tampaknya memanfaatkan kesempatan ini. Seorang mahasiswa dari Kota Langsa yang menjadi relawan menyatakan pengemudi dan pengojek menaikkan harga lantaran mengira orang luar Aceh masuk ke kotanya membawa banyak uang. (G1,H6,rtr-ben-69,30m) | ||||