| Rabu, 05 Januari 2005 | SEMARANG |
R Suryanto, Guru SMA 3 SemarangJuara di Singapura berkat Trik Nakal''SATU hari setelah ovulasi, beberapa sel sperma pada sel telur akan menembus membran. Setelah itu, sperma melepas bagian kepala dan terjadilah penggabungan.'' Suara perempuan pada loudspeaker komputer itu terdengar berintonasi. Begitu kalimatnya meluncur, sepotong gambar yang muncul di layar monitor lantas berkerdip. Gambar spiral dengan pangkal benjol itu mengipat-kipatkan ekornya sembari terus merayap ke bidang bundar yang divisualkan sebagai sel telur. Menyaksikan kipat genit sperma itu, puluhan siswa-siswi SMU 3 Semarang di salah satu kelas pun kontan riuh. Mereka kian tergelak begitu melihat proses pembuahan yang diimajinasikan dengan gerak malu-malu pipet ke lubang botol. Benda runcing serupa bolpoin itu terlihat aktif keluar masuk mulut botol yang pasrah. Suasana kelas pun langsung hangat. Meski gambarnya menggelitik, susunan kalimat pengantar si pemandu tetap saja serius. Materi fertilisasi yang ''riskan komentar'' itu memang membuat sebagian guru enggan memapar rinci. Lain bila penjelasannya terpola dalam slide di layar monitor. Sembari ''memanfaatkan'' ketertarikan siswa, materi bisa diserapkan lewat visualisasi dan penuturan. Inovasi pembelajaran melalui komputer itulah yang agaknya memesona Menteri Pendidikan Filipina, salah satu juri dalam The 1st Asia Pasific Regional Innovative Teachers di Singapura, 7-8 Desember lalu. Saat penentuan pemenang, para juri yang tertarik pada trik nakal R Suryanto, guru biologi SMA 3 Semarang, itu bersepakat menganugerahinya skor tertinggi. Seusai final di Nanyang Executive Center, Nanyang Technological University (NTU), dia akan dikirim ke AS dengan sponsor pabrikan software Microsoft bulan Maret mendatang. Pernah Diterapkan Keputusan juri kontan saja membuat dia kaget. Betapa tidak, awalnya tak ada niatan menang dalam benaknya, meski sempat panik menjelang presentasi di depan juri. Ketika maju di tingkat nasional, suami Dita Ayodya ini hanya berada di peringkat ke-4. ''Satu kelebihan yang membuat karya saya menang, menurut juri karena sudah pernah diterapkan di kelas. Kebetulan hanya saya yang melampirkan hasil olahan penerapan ke siswa,'' tutur pria asal Boyolali itu kepada Suara Merdeka, beberapa saat lalu. Namun. alumnus Jurusan Biologi Universitas Gajahmada (UGM) itu boleh saja berbangga. Sebagian besar peserta lebih banyak berkosentrasi pada teknik mengajarkan komputer, sementara hasil inovasi yang dia lombakan sudah dalam bentuk software yang telah diolah dengan pengantar bahasa Inggris. ''Kebetulan teman seprofesi yang mengajar bahasa Inggris ikut membenahi teks Inggris biar tidak berlepotan.'' Tapi, versi bahasa Inggris itu tidak dia gunakan untuk memaparkan materi dan evaluasi di kelas. Untuk mengetahui seberapa jauh pemahaman siswa, sejumlah soal bisa diakses dengan mengeklik simbol di layar komputer. Andaikan karya lulusan Pascasarjana Teknik Informatika Udinus ini bisa diterapkan pada materi yang memerlukan pemahaman ekstra, barangkali akan kian banyak siswa yang lebih mudah mencerap materi sekolah. (Renjani PS-89) |