| Rabu, 05 Januari 2005 | SEMARANG |
Pelajaran Bahasa Jawa Tunggu SK Gubernur
SEMARANG- Pelaksanaan pengajaran bahasa Jawa di sekolah menengah atas (SMA) dan sekolah menengah kejuruan (SMK) menunggu ketetapan gubernur. Hal itu diungkapkan Kasubdin Pendidikan Menengah Drs Nur Hadi Amiyanto MEd, kemarin. Dia mengungkapkan, Gubernur Jawa Tengah H Mardiyanto merespons positif bahasa Jawa kembali diberlakukan sebagai mata pelajaran muatan lokal setelah 20 tahun tidak diajarkan di jenjang SMA. Sebagai persiapan, Dinas P dan K Jateng berencana mengadakan pertemuan dengan sejumlah pakar pendidikan dan pakar bahasa Jawa di Jateng dalam dua hari mendatang. ''Pendidikan bahasa Jawa merupakan muatan lokal yang akan berlaku untuk SMA dan SMK mulai tahun pelajaran 2005/2006 di seluruh Jateng, sehingga perangkat hukumnya menunggu ketentuan Gubernur,'' ujarnya. Pada pertemuan itu akan dibahas kurikulum, infrastruktur, sistem semester, jumlah jam pelajaran, dan perangkat teknis lain yang mengatur pelaksanaan pelajaran bahasa Jawa di tingkat SMA. Menurut dia, semangat yang dikandung dalam Kurikulum 2004 menekankan manajemen berbasis sekolah. Konsep itu memberikan kewenangan sekolah untuk melakukan inovasi dan mengambil keputusan mengenai buku pelajaran bahasa Jawa sehingga tak perlu menunggu ketentuan Dinas P dan K. ''Kami hanya memberikan semacam kisi-kisi kurikulum. Saat ini banyak buku bahasa Jawa yang beredar di masyarakat. Silakan sekolah menentukan.'' Menyenangkan Sementara itu, ahli bahasa Jawa dari Undip Prof Drs Soedjarwo menyambut baik gagasan untuk mengajarkan bahasa Jawa di tingkat SMA. Menurut dia, ketetapan tentang muatan lokal itu diperlukan untuk keberlangsungan bahasa Jawa serta memahamkan generasi penerus pada kekayaan budaya bangsa itu. Namun dia berpesan agar dalam penyajiannya pelajaran bahasa Jawa dikemas seringan dan semenyenangkan mungkin. ''Merupakan tantangan bagi para pengajar bahasa Jawa untuk membuat pembelajaran seperti bermain-main yang menyenangkan. Jangan sampai pelajaran bahasa Jawa sebagai muatan lokal di SMA malah menjadi beban karena siswa tidak meminatinya,'' ujar Soedjarwo. Karena itu, materi pelajaran bisa ditekankan pada hal-hal yang menarik berkait dengan adat-istiadat, budi pekerti, dan sopan santun. Selain itu, melalui pelajaran itu para siswa bisa diajak lebih memahami kekayaan budaya Jawa, seperti wayang, folklor, gending, dan tembang. Materi tentang struktur atau tata bahasa hendaknya diberikan secara implisit. Sebab, materi tentang struktur cenderung membosankan. Menurut Soedjarwo, struktur bisa disisipkan dalam materi percakapan, drama, tembang, geguritan, dan semacamnya. ''Jangan sampai ater-ater (imbuhan), jejer-wasesa-lesan (subjek-predikat-objek), atau rimbag cuma menjadi hafalan siswa tanpa terpahami dengan baik,'' kata dia. Bahasa Jawa yang dipelajari, menurut dia, seyogianya bisa langsung dipraktikkan oleh peserta didik. ''Lewat praktik keterampilan berbahasa, mereka bisa menerapkan pengetahuan tentang struktur yang diperolehnya. Dengan cara itu, pengetahuan dan keterampilan berbahasa Jawa akan lebih kuat melekat.'' Sekali-sekali, kata dia, perlu juga disisipkan materi tentang dialek daerah. Hal itu dimaksudkan untuk memperkaya pengetahuan peserta didik perihal kekayaan bahasa Jawa.(amp,wid-89) |