logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 03 Januari 2005 SALA
Line

Nasib Transmigran Asal Boyolali yang Dikirim ke Aceh Belum Jelas

BOYOLALI- Warga Boyolali yang bertransmigrasi di Aceh dilaporkan tidak jelas nasibnya, menyusul terjadinya gempa dan bencana tsunami. Dinas terkait yang mencoba melakukan kontak dan menghubungi para transmigran tidak mendapat kejelasan.

Hal itu disebabkan komunikasi lumpuh, sehingga sulit mencari kejelasan. Paling tidak ada ratusan warga Boyolali yang bertransmigrasi ke Aceh dari 1996-1999.

''Secara persis kami tidak mengetahui berapa warga yang masih tinggal di Aceh. Dari 300 warga yang transmigrasi ke Aceh tahun 1997, sudah pulang ke kampung halaman 97 orang. Jadi, masih banyak yang tinggal di Aceh,'' kata Kepala Dinas Kesehatan dan Sosial (DK) Boyolali, dokter Samsudin MKes, kemarin.

Setelah kembali dari tanah rencong, para transmigran tersebut oleh DKS dibuatkan rumah penampungan di sekitar kuburan Sonolayu, Kelurahan Pulisen, Boyolali. Pemerintah membangunkan rumah penampungan, kerena mereka tidak lagi mempunyai bekal, harta benda, dan rumah. Rumah penampungan para bekas transmigran itu hingga kini masih digunakan untuk berteduh.

Samsudin mengatakan, jumlah warga yang bertransmigrasi bisa ditanyakan ke dinas terkait.

Untuk sementara ini pihaknya mencatat satu orang yang dilaporkan meninggal karena bencana tsunami.

Yakni, mertua drg Siti Solikhah yang bertugas di Puskesmas I Kemusu, Kecamatan Kemusu.

Melakukan Pendataan

Sehubungan dengan itu, Bupati dokter H Djaka Srijanta minta kepada Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi untuk melakukan pendataan warga Boyolali yang bertransmigrasi.

Itu diperlukan untuk memudahkan mencari informasi dan mengetahui nasibnya. Selain itu guna memudahkan memberikan penjelasan kepada sanak saudaranya yang meminta informasi.

''Kami berharap semua warga selamat dan terhindari dari gempa dan bencana tsunami,'' kata Bupati melalui Kepala Kantor Informasi, Komunikasi dan Kehumasan (KIKK) Dra Kristiana Purwanti.

Samsudin menuturkan, alasan para transmigran pulang kampung halaman antara lain situasi di Aceh tidak menguntungkan.

Mereka mengaku tidak nyaman dan jiwanya terancam oleh Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Setelah memutuskan pulang ke kampung halaman, mereka kesulitan mencari nafkah.

Selain itu tidak mempunyai rumah atau tempat tinggal. Karena itu, pemerintah mendirikan rumah penampungan sederhana. Menyusul bencana tsunami yang menelan korban ribuan jiwa, DKS Boyolali akan mengirim tenaga medis atau perawat.

Direncanakan awal Januari ini akan diberangkatkan dua orang tenaga medis. Untuk sementara tenaga yang diminta dari Pemerintah Pusat baru tenaga lapangan.

''Sebenarnya kami sudah mempersiapkan 10 orang tenaga medis. Tapi yang diminta hanya dua orang,'' katanya. (shj-85s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA