| Senin, 03 Januari 2005 | SALA |
Seni Tradisional Turonggo SetoLayak Diangkat ke Tingkat NasionalKESENIAN daerah di Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, ternyata punya potensi untuk diangkat di tingkat nasional. Misalnya, seni tradisional Turonggo Seto yang berkisah tentang prajurit Senthot Prawiro Dirjo yang tengah berlatih perang dan perjalanan ke medan laga. Namun, ada kendala bagi seni tradisional itu untuk bisa maju dan berkembang. Salah satu kendala yang dihadapi komunitas kesenian tradisional tersebut adalah masalah klasik, yakni tidak ada dana atau modal untuk mengangkatnya ke tingkat nasional. Akibatnya, seni tari itu hanya sebatas dinikmati oleh warga masyarakat sekitar atau tingkat lokal. ''Saya pikir itu menjadi tanggung jawab Dinas Pariwisata. Mestinya, potensi kesenian daerah bisa dibawa ke event tingkat nasional. Selama ini, dinas terkait hanya sekadar menampilkannya di tingkat lokal. Belum ada tindak lanjut penanganan yang menyeluruh,'' kata Ketua Dewan Kesenian Daerah (DKD) Boyolali, Edy Sutedjo. Menurut Ketua Paguyuban Seni Tradisional Turonggo Seto, Suharmin, kesenian itu muncul sejak masa proklamasi kemerdekaan RI. Pada waktu itu, masyarakat mengekspreksikan kegembirannya dengan atraksi seni yang menggambarkan perjuangan pahlawan nasional. salah satu di antaranya Pangeran Diponegoro. ''Dari pengekspresian itulah, muncul seni tradisional yang diberi nama Turonggo Seto,'' katanya. Di berbagai desa di Kecamatan Selo, memang ada berbagai lokasi persembunyian prajurit Diponegoro, antara lain di Dukuh Kajor, Desa Jrakah. Tidak heran, apabila kisah-kisah tentang Diponegoro menjadi tema sentral kesenian lokal. Salah satu kesenian tradisional yang kini terus dikembangkan adalah seni tari Turonggo Seto tersebut. Karena Cinta Kemunculan kelompok seni tradisional yang dipimpinnya itu, tidak hanya sekadar melestarikan budaya, tetapi juga sebagai alat mempersatukan elemen masyarakat untuk senantiasa memperkokoh persatuan dan kesatuan antarwarga masyarakat. Pengembangan seni tradisional juga untuk mengantisipasi kunjungan wisata di Kecamatan Selo. Apalagi, Kecamatan Selo merupakan kawasan wisata Solo-Selo-Borobudur (SSB). ''Kami berharap dinas terkait peduli dan membimbing kami, sehingga seni tari itu selalu eksis,'' kata Suharmin. Perkumpulan seni tradisional Turonggo Seto itu, kini menjadi wadah warga masyarakat untuk berkreasi dan menyalurkan bakat. Menurut Ketua DKD, potensi seni tradisional sudah semestinya ditindaklanjuti dengan kegiatan yang mampu meningkatkan kemajuan. Misalnya, melalui pendidikan dan latihan, workshop, atau kegiatan lain yang bertujuan meningkatkan keterampilan. Selama ini, kelompok kesenian cenderung berjalan sendiri tanpa adanya pembinaan. Menurutnya, hal itu benar-benar memprihatinkan. ''Mereka mau berkembang dan mengisi berbagai kegiatan hiburan, semata-mata karena cinta dan setia kepada kesenian daerah. Atensi yang positif tersebut, mestinya ditangkap dengan memberi pelatihan dan kegiatan lain yang bisa membawa kemajuan,'' kata Edy Sutedjo. (Suti Harjoyo-52a) |