| Senin, 03 Januari 2005 | SALA |
Rektor: UMS Hanya Kalah dengan UGMSOSO- Begitu memangku jabatan sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), kemarin, Prof Dr H Bambang Setiaji MS, langsung disambut demo mahasiswanya. Dia dituntut menghapus kebijakan kenaikan SPP lima persen per tahun. Bagaimana sikapnya dan apa yang dilakukan terhadap UMS, berikut petikan wawancaranya. Apa tindakan Anda atas tuntutan mahasiswa? Nanti kita akan dialog. Tujuh tahun saya aktif di IMM bersama Prof Din Samsudin. Jadi saya mengenal betul dunia aktivis mahasiswa, tidak asing. Saya senang mereka mau mengemukakan. Mudah-mudahan ada solusi terbaik. Kebijakan itu nanti kita bicarakan. Apa yang perlu didialogkan dengan mahasiswa? Dulu, saya ikut merumuskannya kebijakan kenaikan SPP lima persen per tahun ditetapkan. Tujuannya, meng-cover inflasi yang waktu itu 12% per tahun. Maka SPP naik. Sekarang, inflasi hanya 5-6%. Ya, memang situasinya berubah. Nanti kami akan bernegosiasi dengan mahasiswa. Kami akan tunjukkan pula bahwa jumlah mahasiswa menurun. Kalau jumlah menurun, tarif (SPP-Red) juga turun, memang berat. Tapi alhamdulillah, UMS masih survive. Banyak PTS yang mengalami masalah sangat serius. Swasta bagaimana? Banyak program yang baru dibuka di institusi negeri mirip dengan PTM (Perguruan Tinggi Muhammadiyah). Sebenarnya pemerintah tak harus begitu. Di negara-negara maju, antara negeri dan swasta tidak dibedakan. Jadi banyak universitas swasta mendapat dana lebih besar dari yang negeri. Tergantung pada prodi yang ditawarkan, jumlah mahasiswa yang dihimpun, riset-riset yang dilakukan. Jadi, persaingan ini agak bias. Kondisi di UMS sendiri bagaimana? Di UMS, dosen yang menempuh program doktor ada 80 orang, 18 di antaranya di luar negeri. Sejumlah 10 orang emiritus, sembilan orang sudah lulus, 63 orang masih dalam proses. Kualitasnya dengan UGM kami kalah, tapi dengan PTN lain tak jauh berbeda. Bahkan dengan yang di luar Jawa, kami bisa lebih baik. Masalahnya, ada bias di masyarakat soal anggaran "negeri". Kami sebenarnya menginginkan pemerintah menyelamatkan aset PTS. Ini kan investasi secara makro. Daripada dari nol dan memusokan yang ada, kan lebih baik memberikan penguatan kepada yang sudah ada. Lalu ke mana Anda akan membawa UMS? Saya bertekad, kalau pada 2006 nanti doktor-doktor kami pulang dari luar negeri, kami akan men-dirikan program strata 3 (S3). Mudah-mudahan pemerintah mengizinkan. Semua perguruan tinggi yang mendirikan S3 dan memusatkan perhatian pada program pascasarjana itulah, yang mengarah pada universitas riset. Program lebih riil yang bisa akan dicapai? Kami akan usahakan di semester I dan II, mahasiswa memperoleh mata kuliah dasar umum (MKDU) di Pondok Pesantren Sobron (dekat UMS). Lalu, kami akan mengajukan pengembangan tiga bahasa, yakni Arab, Inggris, dan Mandarin. Itu atas saran Prof Syafei Ma'arif. Ada bahasa Mandarin agar sekat kultural yang ada, hilang. Saya berharap, dengan adanya bahasa Mandarin itu, UMS juga didatangi etnis Tionghoa. Selama ini etnis itu tidak ada? Ada, tapi sedikit sekali. Di pascasarjana, dulu ada dua. Di S1, setahu saya ada satu orang. Itu pun orang Malaysia. Kalau itu bisa berjalan, kita bisa mengembangkan suatu hubungan yang baik. Saya ingin menunjukkan bahwa universitas Islam itu terbuka, dan katakanlah sebagai mayoritas kita melindungi.(D11-17s) |