| Senin, 03 Januari 2005 | RAGAM |
TASAWUF INTERAKTIFT: Prof. Amin yang saya hormati, apa itu zuhud dan bagaimana konteks zuhud masa sekarang khususnya bagi kalangan muda. Siapakah yang tepat untuk panutan dan teladan hidup pada zaman sekarang ini. Fulan di Kendal J: Zuhud merupakan sikap seseorang untuk meninggalkan keduniaan. Dalam hal ini ada banyak interpretasi, seperti yang diungkapkan Ibn Jalla bahwa zuhud suatu sikap mental memandang dunia ini adalah hina, sehingga berpaling darinya akan menjadi ibadah. Dalam pengertian ini zuhud diaplikasikan dengan meninggalkan apa pun yang berbau keduniaan. Karenanya pula ada sebagian pengamal zuhud yang hanya mengenakan pakaian serta memakan makanan yang seadanya. Pemahaman seperti ini tidak sejalan dengan Sufyan al-Tsauri yang menyatakan zuhud terhadap dunia itu artinya membatasi keinginan untuk memperoleh dunia bukan memakan makanan kasar atau mengenakan jubah dari kain kasar. Sebagian ulama mengkhususkan zuhud itu pada hal-hal yang haram, namun sebagian ulama menyatakan mengenai hal itu sudah merupakan kewajiban, dan zuhud dalam hal-hal yang dihalalkan merupakan keutamaan. Definisi yang agak berbeda dari definisi di atas dikemukakan Abu Sulaiman al-Darani bahwa zuhud adalah menjauhkan diri dari apa pun yang memalingkan diri dari Allah Swt. Dalam pengertian ini zuhud diaplikasikan dalam kehidupan di dunia ini dengan tetap berpijak pada keduniaan selama hal itu tidak melalaikannya pada Sang Khalik. Pengertian ini pulalah yang digunakan oleh ulama modern dalam memaknai zuhud, sehingga seseorang yang zuhud bukan berarti tidak boleh memiliki ''apa-apa'', tetapi ia boleh memiliki ''apa saja'' asalkan ia tidak dimiliki oleh ''apa pun'' selain Allah Swt. Berdasarkan pemahaman baru terhadap zuhud ini pulalah Imam Ahmad bin Hanbal menyatakan ada 3 macam zuhud. Pertama, menjauhi perkara-perkara yang haram, zuhud seperti ini merupakan zuhudnya orang ''awam''. Kedua, menjauhi sikap berlebih-lebihan dalam hal yang dihalalkan, zuhud seperti ini merupakan zuhudnya orang khawash. Ketiga, untuk menjauhi apa pun yang memalingkan sang hamba dari Allah, zuhud seperti ini merupakan zuhudnya ''arifin''. Tampak dari keterangan tersebut zuhud dalam konteks kekinian tidak harus diaktualisasikan dalam kekumuhan, kemiskinan dan sejenisnya. Tetapi hidup secara wajar di muka bumi ini dengan segala kelengkapan dunia dan tidak dibelenggu oleh kedunian. Semuanya dilakukan atas dasar karena Allah dan dikembalikan kepada Allah, sehingga tiada ambisi dalam dirinya, tiada keinginan untuk dipuji orang dan tidak dikendalikan oleh keinginan-keinginan duniawi. Itulah sebabnya berzuhud sebagaimana diungkapkan Yahya bin Mu'adz baru sempurna bila telah memenuhi 3 kriteria, antara lain: Pertama, berbuat tanpa disertai keterikatan. Kedua, berbicara tanpa diikuti ambisi. Ketiga, kemuliaan tanpa adanya kekuasaan atas orang lain. Maka bagi kalangan muda tidak ada halangan bahkan dianjurkan untuk memiliki sikap zuhud seperti pemahaman ulama modern tersebut yang akan melahirkan generasi-generasi pejuang tanpa pamrih, tidak ambisius dan tidak mudah dibawa arus ''keduniaan''. Dan untuk membentuk watak ini sudah barang tentu dengan mencari teman yang memiliki sifat zuhud pula sebagaimana dikemukakan dalam hadis riwayat al-Baihaqi: ''Bila kamu sekalian melihat seseorang yang telah dianugerahi zuhud berkenaan dengan dunia dan ucapan, maka dekatilah ia karena ia dibimbing oleh hikmah''. Salah satu manusia yang telah dibimbing bahkan mengajarkan hikmah adalah Rasulullah Saw, sebagaimana dikemukakan dalam Qs al-Baqarah (2):129: ''Ya Tuhan kami, utuslah ntuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan mmbacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan hikmah serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana''. Dialah manusia yang pantas diteladani oleh semua manusia di muka bumi ini, sebab Allah -Sang pencipta makhluk- telah memberikan klaim bahwa pada diri Muhammad Saw terdapat akhlak yang paling agung (Qs al-Qalam (68):4): ''Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung''. Atas dasar ini pulalah dalam diri Muhammad Saw terdapat keteladanan yang patut diidealkan (Qs al-Ahzab (33):21): ''Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan sia banyak menyebut Allah''. Untuk lebih meyakinkan hanya Muhammad Saw yang pantas diidealkan manusia adalah dengan mempelajari sejarah hidupnya sejak lahir hingga wafatnya yang dihiasi dengan puncak budi pekerti. Sebelum menjadi Nabi beliau dikenal dengan pemuda yang giat bekerja, penuh kejujuran dan memiliki jiwa kepemimpinan yang mengayomi banyak pihak. Sehingga ia digelari dengan al-amin (yang dapat dipercaya), beliau dikenal cerdas, pemalu, tidak mudah marah, murah senyum, selalu menjadi pemecah masalah sahabatnya (problem solver). Nah sekarang adakah sosok manusia yang sedemikian komplek keunggulannya? Sudah barang tentu tidak ada, karena Muhammad Saw bukan sekedar manusia pada umumnya, melainkan pilihan Allah Swt. Oleh karena itu sebaiknya manusia mengidealkan sosok manusia sempurna kepada Muhammad Saw, bukan yang lainnya. Wallahu a'lam bish shawab.(35) |