logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 03 Januari 2005 PANTURA
Line

Minyak Nilam Kalahkan Sapu Gelagah

  • Laku Diekspor

KECAMATAN Watukumpul, Pemalang dulu dikenal sebagai salah satu daerah penghasil kerajinan sapu gelagah. Karena sapu yang berasal dari bahan baku bunga rumput itu laku dijual di kota-kota besar. Namun kerajinan itu kini makin ditinggalkan penduduk dan mereka beralih membuat minyak nilam.

Beralihnya usaha ekonomi produktif pedesaan itu tidak bisa dilepaskan dari situasi pasar. Dulu kerajinan sapu maju pesat, karena saat itu pasar masih sangat membutuhkan. Namun kini seiring dengan munculnya berbagai alat pembersih modern, sapu akhirnya ditinggalkan.

Hal itu dibenarkan Kasubdin Perindustrian Dinas Diperindagkop Drs Sumartana. Perubahan pasar berpengaruh pula terhadap kegiatan usaha pedesaan. Salah satu contoh adalah beralihnya kerajinan sapu gelagah ke pembuatan minyak nilam.

''Ada sejumlah perajin sapu gelagah yang beralih menekuni pembuatan minyak nilam. Namun jumlah perajin sapu masih cukup banyak, meski produknya tidak diekspor lagi,'' katanya.

Pembuatan minyak nilam di Watukumpul masih dilakukan dengan penyulingan secara tradisional. Yakni dibuat dari bahan baku daun dhilem, sejenis tanaman perdu. Setelah dikeringkan dengan dijemur di bawah terik matahari, daun dimasukkan ke jeding -semacam dandang besar. Dengan alat tersebut daun digodok hingga terjadi penguapan. Uap disalurkan melalui selang hingga menjadi minyak.

Relatif Mahal

Menurut Sumartana, setiap jeding mampu menanak delapan kuintal daun dhilem kering. Dari delapan kuintal bahan baku tersebut dapat menghasilkan minyak nilam sekitar dua persennya. Harga minyak nilam untuk setiap kilogram berkisar Rp 210.000-Rp 280.000.

Mungkin karena harganya relatif mahal, penduduk menjadi tergiur untuk membuatnya. Sebelum puasa lalu di Kecamatan Watukumpul hanya ada sekitar 40 perajin. Tetapi kini sudah berkembang menjadi 80 perajin. Antara lain tersebar di Desa Jojogan, Bongas, Tundakan, Tambi, dan Desa Watukumpul.

Setiap perajin memiliki jeding yang berkapasitas tiap hari bisa menghasilkan puluhan liter minyak nilam. Namun dalam musim penghujan sekarang ini mereka kesulitan dalam penjemuran daunnya. Sebab belum ada alat pengering daun. Subdin Perindustrian baru-baru ini telah membantu sebuah alat jeding kepada kelompok Nilam Jaya. Harga alat itu Rp 18 juta.

Untuk penjualan produk minyak nilam tidak ada kesulitan. Karena setiap saat pembeli akan datang. Terutama para pengepul yang berasal dari Purwokerto. Oleh pengepul minyak dipasarkan ke luar negeri antara lain Prancis. Di sana minyak nilam dimanfaatkan untuk bahan campuran pembuatan kosmetik, pewangi, dan lain-lain. (Saiful Bachri-90s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA