| Senin, 03 Januari 2005 | PANTURA |
Konser Amal Batal
PEKALONGAN - Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, warga Kota Batik Jumat malam lalu merayakan tahun baru hanya di jalan raya. Pasalnya, semua panggung hiburan yang sedianya akan di gelar pada saat malam pergantian tahun 2004-2005 dibatalkan. Alasan dibatalkannya semua kegiatan tersebut, karena bangsa Indonesia saat ini masih berduka, yakni puluhan ribu warga Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Sumatera Utara meninggal karena terkena bencana alam gempa dan tsunami. Dari Pantauan Suara Merdeka, siang hari sebelum perayaan pergantian tahun dimulai, di beberapa tempat sudah bersiap-siap menggelar panggung hiburan menyambut tahun baru; di antaranya Konser Amal Djarum Super yang akan digelar di Lapangan Mataram, depan gedung DPRD. Namun karena belasan Front Pembela Islam (FPI) dan organisasi masyarakat lainnya datang ke Mapolresta Pekalongan meminta agar semua bentuk hiburan dibatalkan, akhirnya konser amal itu tidak jadi digelar. Menurut mereka, semua bentuk panggung hiburan, meskipun dalam bentuk penggalangan dana untuk rakyat Aceh yang tertimpa gempa, tetap saja tidak diperbolehkan dilakukan. "Kami meminta agar segala bentuk hiburan dibatalkan, karena masih ada saudara kita yang tertimpa bencana," ujar Ketua FPI, Abu Ayyash. Sementara itu, M Sodikkin yang mewakili PeDe Production sebagai panitia pelaksana kegiatan konser amal Djarum Super menyikapi tuntutan FPI seperti itu mengatakan, pihaknya menyetujui tuntutan tersebut. Alasannya, karena dia ingin mencari solusi yang terbaik dalam mengatasi permasalahan itu, sehingga kondisi Kota Pekalongan tetap kondusif. "Kalau dibilang kecewa, kami memang kecewa. Namun hal itu tidak masalah, yang terpenting suasana kota aman," tegas dia. Dibongkar Lebih jauh Sodikkin menjelaskan, pada pertemuan antara FPI, PeDe Production dan Polresta Pekalongan, pihaknya sudah meminta agar kegiatan itu diganti dengan acara istighotsah atau doa bersama untuk warga Aceh dan Sumatera Utara yang tertimpa bencana tsunami. Paling tidak, ujar dia, dengan adanya kegiatan tersebut panggung yang sudah berdiri bisa digunakan dan tidak mubazir. Namun, usulan tersebut tetap saja ditolak, sehingga panggung hiburan yang siap dipakai untuk konser amal akhirnya dibongkar. Kapolresta Pekalongan, AKBP Drs Edy Suyanto melalui Kasatreskrim, AKP Umar Sanusi ketika dikonfirmasi mengenai masalah itu membenarkan bahwa konser amal di Lapangan Mataram dibatalkan. Namun demikian, bukan hanya kegiatan itu yang batal, semua kegiatan yang bersifat hiburan pada acara tutup tahun di beberapa tempat juga batal. "Semua dibatalkan, karena saudara kita masih ada yang tertimpa bencana, sehingga hal itu harus dimaklumi," papar dia. Sejak pukul 19.00 masyarakat Kota Batik terlihat tumplek blek memenuhi jalan raya di wilayah itu, sehingga sempat membuat arus lalu lintas agak tersendat. Aksi turun ke jalan tersebut, kemungkinan karena tidak digelarnya panggung hiburan di beberapa tempat, sehingga mereka melampiaskannya di jalan raya. Namun sayang, pada saat turun ke jalan raya banyak dari mereka mereka terlihat mengemudikan kendaraan secara ugal-ugalan, sehingga membuat anggota polisi yang sedang bertugas menjadi geram. Di lapangan Mataram, yang sedianya akan digelar malam penggalangan dana untuk korban gempa dan tsunami yang akhirnya batal ini, ternyata tetap dikunjungi banyak wargamasyarakat. Menurut salah satu di antara mereka, kedatangannya di lapangan tersebut karena tidak mengetahui bahwa konser amal itu dibatalkan. (H4-34a) |