| Senin, 03 Januari 2005 | PANTURA |
Pengalaman Warga Brebes di Aceh (1)Tak Punya Apa-apa Lagi tapi Tak MenyesalSEBUAH mobil Suzuki Carry biru bernomor polisi Jakarta (B), Kamis pekan lalu sekitar pukul 11.00 berhenti di depan rumah Amin. Tak lama kemudian muncul seorang berbadan tegap, disusul dua anak dan istrinya. Amin (28) yang sebelumnya mengamati dari dalam rumahnya, begitu melihat dan memastikan penumpangnya langsung menyambutnya. Dia tampak begitu gembira, dan sambil berlarian memburu orang yang baru turun dari mobil tersebut. Sesaat kemudian keduanya berangkulan, seakan melepas kerinduan yang mendalam. Siang itu, Abdul Wahab, kakak Amin baru datang dari Aceh. Mereka berhasil selamat dari musibah, dan siang itu kembali lengkap bersama dua anak dan istrinya ke kampung halaman. Spontan tangis pun meledak, termasuk tetangganya yang menyaksikan kedatangan rombongan tersebut. Abdul Wahab (32) dan keluarganya datang menggunakan mobil dari Jakarta, setelah sebelumnya diterbangkan dari Aceh ke Medan, kemudian dari Medan ke Jakarta. Amin berhasil pulang lebih dulu atau sehari sebelumnya. Baik dia maupun kakaknya adalah warga Desa Cibendung, Kecamatan Banjarharja, Kabupaten Brebes yang bekerja di Aceh. Dia berangkat ke Aceh sejak 1997, sedangkan kakaknya, Abdul Wahab, berangkat 12 tahun silam. Amin berhasil pulang ke Brebes pada Kamis (30/12). Sementara keluarga Abdul Wahab baru pulang satu hari kemudian. Kepulangan mereka tentu menjadi sebuah kegembiraan tersendiri bagi keluarga dan masyarakat sekitar. Selain mereka, juga ratusan warga Kecamatan Banjarharja yang berada di Aceh. Mereka merantau ke Aceh atas inisiatif sendiri. Selama ini mereka bekerja sebagai pekerja bangunan. Masyarakat Banjarharja terkenal sebagai pembuat relief bangunan yang bagus. Meskipun mereka berprofesi sebagai pekerja bangunan, kehidupan warga Banjarharja di Aceh cukup mapan. Rasa haru dan lega juga tidak dapat disembunyikan dari wajah warga Cibendung yang berhasil menginjakkan kakinya kembali ke kampung halaman. Dengan wajah haru, Abdul Wahab pun mulai menceritakan kisahnya. Selama ini dia dan keluarganya tinggal di Ketapang, Banda Aceh. Tsunami yang terjadi pada Minggu dua pekan lalu telah memorakporandakan bangunan rumahnya, termasuk bangunan rumah dan pertokoan di sekitarnya. "Kami sudah tidak memedulikan lagi rumah dan sebagainya, yang terpenting adalah kami bisa selamat," ujarnya. Tak Menyesali Awalnya, dia merasakan ada gempa hebat. Namun sekitar 10 menit kemudian, suasana kembali tenang. Sekitar satu jam kemudian, dia mendengar teriakan ada air bah datang. "Orang-orang terlihat berlarian sambil berteriak-teriak. Semua panik dan berlari menuju tempat yang tinggi," katanya. Baik Abdul Wahab maupun Amin sama-sama tidak menyangka apa yang sudah dibangunnya sekian lama di Aceh hilang begitu saja. Namun, mereka tak menyesalinya. Mereka sudah sangat bersyukur dapat selamat dan kembali ke kampung halaman. "Yang terpenting kami sudah tiba di sini dengan selamat, meski tidak mempunyai apa-apa lagi," katanya. Abdul Wahab menuturkan, dia tak tahu bagaimana harus berterima kasih kepada orang-orang yang sudah menolongnya. Perjalanannya dari Aceh ke Brebes pun penuh liku. Dia mengungsi dan bertekad kembali ke Brebes bersama sembilan orang lainnya, yaitu istrinya, Rohamah, dua anaknya, serta enam saudaranya. Begitu sampai ke Bandara Blang Bintang Banda Aceh, ternyata mereka tidak dapat terangkut semuanya. Tiga orang saudaranya, termasuk Amin terpaksa tertinggal di sana. Sementara Abdul Wahab bersama enam orang lainnya berhasil diangkut dengan menggunakan pesawat Hercules milik Australia. Mereka pun diterbangkan ke Medan. Sesampainya di Medan mereka dirawat oleh sebuah yayasan di sana dan kemudian diterbangkan ke Jakarta. Sementara, Amin dan dua saudaranya yang lain terpaksa menunggu sekitar 12 jam untuk mendapatkan pesawat. Untungnya mereka bisa terangkut oleh pesawat barang dan langsung diterbangkan ke Jakarta, sehingga justru bisa lebih awal sampai ke Brebes. (Wawan Hudiyanto-42s) |