logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 03 Januari 2005 BANYUMAS
Line

Pemakaian Pupuk Organik Lebih Menguntungkan

BAGI Sarino, Baturraden sungguh tak terlupakan. Sebab, tahun 1968 pada saat pengunjung sepi dia berjualan kacang asin Bintang Tujuh dan getuk goreng Sokaraja di kawasan itu. Penjaja makanan masih langka, sehingga dia bisa meraup keuntungan lumayan besar.

''Pengunjung tidak seramai sekarang dan fasilitas tempat wisata di lereng Gunung Slamet itu masih seadanya,'' kata Sarino (51), yang menjadi Kepala Desa Kemutug Lor, Kecamatan Baturraden, sejak tahun 1999.

Sebelum menjadi kepala desa, dia bertani dan berdagang beras dan gabah. "Saya lebih menyukai pupuk organik karena lebih menguntungkan dan bisa memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia," katanya.

Dia juga membuat pupuk untuk cabai, tomat, buncis, kacang, dan sayur-mayur lain. ''Hasilnya lebih menguntungkan dan biaya pembuatannya mudah.''

Dia mengoplos satu drum air dan satu kantung kotoran kambing berisi 35 kg. Kemudian, dia mencampurkan 1 kg gula pasir, 1 l EM4, dan 2 kg pupuk NPK. Selama seminggu dia mengaduk-aduk agar proses fermentasi cepat dan merata. ''Setiap 10 l pupuk cair itu dicampur 100 l air dan siap digunakan memupuk sayuran dengan hasil memuaskan.''

Tiga tahun

Sejak tahun 2001 Sarino menggunakan pupuk organik untuk padi. Dia membeli pupuk organik dari Yogyakarta. Namun penggunaan pupuk organik tidak 100% karena sawah tetangganya masih memakai pupuk kimia. ''Hanya 70% menggunakan pupuk organik. Namun hasilnya lebih baik karena saya menjalin kemitraan dengan perusahaan pupuk itu.''

Dia mengakui perusahaan pupuk itu memasok seluruh kebutuhan pupuk. "Saya bisa menjual dengan harga lebih tinggi daripada harga pasaran," katanya.

Dia menyatakan lebih banyak menanam padi pandanwangi. Dia menjual hasilnya Rp 3.500/kg. ''Saya sering mengajak petani Kemutug Lor menggunakan pupuk organik. Bahkan Kepala Desa Karangtengah sudah mengikuti untuk menanam sayur-sayuran.''

Dia mengemukakan sebagian besar dari 3.800 jiwa warganya berusia produktif. Mereka sudah memberdayakan tanah subur untuk aneka jenis tanaman hias, beternak kambing, sapi perah, memelihara ikan, atau bertani. Peluang penggunaan pupuk organik sangat terbuka karena kotoran sapi dan kambing mudah diperoleh.

Apalagi sejak tahun 1987 di Kemutug Lor terbentuk Kelompok Petani Sapi Perah Margo Mulyo yang beranggota 35 orang. Produk susu segar dijual ke pengunjung Baturraden berupa jahe susu. Adapun kotorannya dibuat pupuk organik dan dijual ke penjual tanaman hias di sepanjang jalan masuk dari Rempoah sampai ke Baturraden. (Anton Soeparno-86)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA