logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 31 Desember 2004 MURIA
Line

Dari Muscablub APTRI yang Ricuh ( 2 - Habis )

Rendemen Masih Menjadi PR Pengurus

MESKIPUN keberhasilan mengembalikan dana talangan tetes milik petani Kudus Rp 66 juta tidak disebut satu kata pun dalam Muscablub APTRI Kudus, pascamuscablub banyak PR yang harus ditangani pengurus baru.

Hal tersebut diakui juga oleh Ketua Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) H Abdul Wachid. Pasalnya, masih banyak yang harus dilakukan petani tebu untuk meningkatkan taraf hidupnya. Program akselerasi yang dicanangkan dengan penanaman bibit unggul dengan menghentikan sistem keprasan yang berjalan selama ini sudah mulai tampak hasilnya.

''Dari program tersebut, hasilnya mulai tampak dengan kenaikan rendemen,'' ujar Wachid. ''Tadi dilaporkan, pada 2004 petani menikmati keuntungan yang lumayan. Total di wilayah PG Rendeng sekitar Rp 7 miliar.''

Sistem keprasan sampai sekarang masih jalan terus, padahal hasilnya jelas tidak memuaskan dan perlu sosialisasi terus-menerus dari pengurus APTRI Kudus.

Pemasukan tebu ke Rendeng juga dinilai relatif bagus kualitasnya. Termasuk soal kebersihan meskipun PG masih beranggapan perlu ditingkatkan. Demikian juga soal rendemen ada kenaikan rata-rata 0,7% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Masalah rendemen selalu aktual dengan adanya anggapan PG tidak transparan dan selalu menjadi sorotan setiap musim giling. Bahkan, petani nyaris putus asa dan masa bodoh soal rendemen karena sudah bosan mengkritiknya. ''Akan tetapi, pada 2004 kok cukup baik. Rendemen tebu saya rata-rata di atas 6% bahkan belakang ada yang 7%,'' ujar Hartoko, petani Tanjungrejo, Jekulo. '

''Bila pada 2003 saya hanya untung sekitar 5 juta, pada 2004 naik menjadi sekitar Rp 26 juta,'' ungkapnya. Dia berharap, soal rendemen ini selalu menjadi perhatian pengurus yang baru sehingga kesejahteraan petani dapat meningkat.

Objektif

Dengan kenyataan tersebut, wajar bila salah satu program kerja pengurus baru, masalah rendemen menjadi atensi serius. PG diminta transparan dan objektif dalam menentukan rendemen. Selain itu, pengurus ikut mengamati pemasukan dan pengolahan tebu. PG diminta menyediakan alat pengukurrendemen (polarimeter/sakromat) dan peralatan manual lain.

Jika ada persoalan, dibicarakan bersama untuk mencari solusi terbaik. Soal pupuk dimintakan perhatian agar tepat waktu dan tepat guna. Untuk dana talangan gula diharapkan seminggu setelah DO sudah bisa cair. Masalah tetes juga agar harga tetes dijual kepada penawar tertinggi.

Pengalaman muscablub Selasa lalu merupakan sejarah berharga bagi APTRI Kudus untuk menjadi lebih dewasa dalam berorganisasi. Tidak berdasarkan suka atau tidak suka, tetap berpegang teguh terhadap AD/ART yang berlaku. Ketua DPN APTRI Pusat H Abdul Wachid menyayangkan adanya ''insiden kecil'' yang terjadi. (HM Soleh AK-15j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA