| Jumat, 31 Desember 2004 | KEDU & DIY |
Kulit Kopi untuk Penggemukan Domba
TEMANGGUNG - Kulit kopi ternyata bisa dijadikan bahan untuk penggemukan domba (kambing). Hal itu merupakan temuan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jateng yang kini tengah dikembangkan di Desa Pagergunung, Kecamatan Pringsurat, Kabupaten Temanggung. Kemarin, teknologi penggemukan kambing dengan limbah kopi itu disosialisasikan Kepala BPTP Jateng Ir Sumardi di rumah Mulasih (48), warga Pagergunung. Sosialisasi diikuti sejumlah peternak dan pedagang kambing dari beberapa desa. Menurut keterangan Kepala Peneliti Nutrisi BPTP Jateng Dr Susanto Prawirodigdo didampingi penyuluh Ir Ernawati, terapan tehnologi penggemukan kambing di Pagergunung merupakan kali pertama yang diujicobakan di Jateng. Selama tiga bulan, didapat hasil penggemukan lebih besar dari biasanya. ''Hasil kajian sementara, pertambahan bobot badan kambing dengan menggunakan terapan tehnologi itu rata-rata 108 gram per hari. Sementara itu, pertambahan bobot yang biasanya hanya sekitar 70 gram per hari,'' katanya. Formula pakan seimbang dengan menggunakan limbah kulit kopi untuk penggemukan ada takarannya. Yakni kulit kopi 100 gram, dicampur gaplek (singkong kering) 130 gram, rumput 2.000 gram, dan daun kacang-kacangan 450 gram. Lebih Efektif Di samping formula pakan seimbang, yang diperlukan sebagai pendukung adalah kandang kambing dengan model sekat ukuran 60 x 120 cm/ekor. Yang ideal, kandang dibuat dengan model panggung dan lebih efektif dilakukan secara kelompok. ''Hasil ini bisa diterapkan di berbagai daerah dengan komposisi sesuai dengan potensi daerah masing-masing. Misalnya Pagergunung yang memiliki potensi dalam pertanian kopi, yang dimanfaatkan adalah limbah kulit kopi. Sementara itu, daerah lain seperti Magelang yang penghasil singkong, bisa memanfaatkan kulit singkong untuk menekan biaya,'' paparnya. Beberapa peternak mengemukakan, masih menghadapi banyak persoalan dalam menerapkan formula pakan seimbang tersebut. Terutama terhadap kambing yang semestinya jenis unggul, belum bisa disediakan mengingat harganya mahal. ''Dalam uji coba ini, kami menggunakan kambing lokal. Namun, hasilnya ternyata baik dibanding dengan pemberian pakan yang selama ini kami lakukan,'' ujar Mujiono (37), anggota Kelompok Tani Ngudi Rahardjo. Di samping itu, formula pakan seimbang tersebut selain meringankan biaya juga menghemat tempat. Sebab, petani ternak tak perlu membutuhkan rumput dalam jumlah banyak yang penyimpanannya memakan tempat. ''Yang pasti, biaya serta tenaga untuk formula pakan seimbang ini lebih kecil. Sementara itu, hasil penggemukan terhadap kambing lebih banyak tanpa ada risiko yang berarti,'' ungkap Surahmin (48), Ketua Klomtan Mantap Tani Desa Soborejo. (nt-92j) |