logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 29 Desember 2004 KEDU & DIY
Line

Natal dalam Balutan Budaya Jawa (2-Habis)

Topeng-topeng Kamanungsan Itu Diberkati

KIDUNG pembuka ''Gya Rawuha Emmanuel'' itu terdengar lamat-lamat dari seberang Sendangsono, Desa Banjaroyo, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta, Sabtu (25/12) dini hari. Di tempat itu, ribuan umat Katolik mengikuti misa ekaristi Natal yang dikemas dalam balutan budaya Jawa.

Dengan iringan kidung itu para imam konselebran, prodiakon, dan para misdinar berjalan khidmat menuju altar. Mereka melangkah dalam diam, memintas jembatan yang melintang di atas Sendangsono melewati ribuan umat, dan menuju ke altar yang terletak tak jauh dari gua Perawan Maria.

Begitulah misa ekaristi Natal yang dipimpin Romo L Issri Purnomo Pr dimulai. Seperti halnya aktivitas bernuansa kejawaan lainnya, misa Natal yang mengusung tema ''Aturna Pengarep-arepmu marang Gusti Allah'' itu juga kental dengan pelbagai simbolisasi. Misalnya dalam liturgi ekaristi terdapat adegan simbolis ''Ngunjukake Pisungsung'' yang dikemas dalam versi kesenian tradisional jatilan. Dalam episode itu, sejumlah perwakilan umat mempersembahkan topeng dan peraga jatilan sebagai perlambang sifat manusia. Simbol-simbol itu diambilkan dari khasanah tradisi Jawa.

Jatilan

Lihatlah, saat Anggado-Senggana, Bambangan-Cakil, pasukan buta (raksasa), jatilan, Penthul-Tembem, dan para punakawan diberkati oleh Romo Issri sebagai konselebran (pemimpin misa-Red).

''Apa kang dadi krenteging atimu kabeh (Apa keinginan yang tersimpan di hatimu?),'' tanya sang Imam.

Lantas para peraga topeng itu menjawab serempak, ''Kula pasrahaken sedaya topeng kamanungsan kawula kangge tandha pamartobat kawula. (Saya pasrahkan semua topeng kemanusiaan saya sebagai tanda tobat).''

Ya, semua topeng perlambang sifat buruk manusia itu dikumpulkan di dekat altar. Lantas, sang Imam melakukan pemberkatan. Anggada-Senggana merupakan visualisasi sifat iri hati dan haus kekuasaan, sedangkan Bambangan-Cakil melambangkan kesombongan, kelicikan, dan keserakahan. Adapun jatilan merupakan perlambang supaya manusia jangan mabuk, dan Penthul Tembem melambangkan situasi bumi gambaran alam yang mulai rusak.

Sendangsono merupakan tempat ziarah bagi pemeluk Katholik. Letaknya di sebuah bukit bagian dari perbukitan Menoreh yang ditata asri, bersih, penuh hijau pepohonan, serta menimbulkan hawa segar dan sejuk. Suasananya khidmat.

Tempat tersebut dibangun menyerupai Lourdes di Perancis, tempat Bunda Maria menampakkan diri di hadapan gadis bernama Santa Bernadeta yang melakukan berbagai mukjijat kepada masyarakat setempat. Nama Sendangsono diambil dari istilah "sendang" yang berarti mata air dan "sono" (angsana-Red), merupakan nama suatu jenis pohon. Sendangsono berarti mata air di bawah pohon angsana. (Achiar M Permana,Rukardi-80m)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA